Radio
Di radio aku dengar lagu kesayanganmu
-gombloh-
: RWS
Untuk membangunkan anak-anaknya yang kruntelan dalam satu tempat tidur agar segera bersiap ke sekolah, seorang bapak tidak mengguncang tubuh, membunyikan alarm (tahun itu betapa mewahnya barang seperti jam yang ada alarmnya), memercikkan air atau memanggil nama, namun cukuplah dengan membuka jendela kamar hingga semilir angin pagi yang sejuk dingin dan secercah cahaya mentari masuk, dan dilanjutkan dengan membunyikan radio transistor dual band yang masih menggunakan tenaga baterai, yang ketika itu baru ada jenama ABC dan Eveready (yang ini bahkan dijadikan nama kucing tetangga belakang hingga bila memanggil namanya untuk pulang terdengar se-lingkungan, kebiasaan si kucing berlarian di atas atap rumah), dengan volume secukupnya sehingga terdengar alunan musik dari RKPD yang ketika jam menunjukkan pukul 06.00 WIB akan menyiarkan berita dari RRI Jakarta (bertahun kemudian baru tahu bahwa lagu yang diputar pagi itu dari grup musik The Beatles, Led Zeppelin, Deep Purple, Nazareth, atau dari penyanyi dalam negeri Koes Plus, The Mercys, Erni Johan, Emilia Contessa, Ida Laila dan Bang Haji Rhoma Irama).
Dan yang paling seru ketika hari Minggu tiba, siaran Taman Kanak-Kanak, siapa yang masa kecilnya bahagia karena pernah siaran langsung di radio menyanyikan lagu satu satu aku sayang ibu, yang akan menjadi cerita berhari-hari di sekolah.
Sepulang sekolah setelah berita pukul 12.00 WIB akan ada acara yang ditunggu si bapak, ketoprak mataram dengan lakon Sudiro Waryanti selama setengah jam yang akan membuat siapa pun yang mendengarkan semakin penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Menemani leyeh-leyeh siang penyiar memutarkan gending-gending Jawa baik laras slendro pathet 6 atau pathet manyuro dengan sponsor salah satu perusahaan rokok yang sungguh sayang sudah tutup usia ketika perintisnya meninggalkan dunia fana, tergantung siapa pendengar yang mengajukan request.
Sore menjelang yang ditunggu pun tiba, sandiwara radio Tutur Tinular dan Misteri Gunung Merapi, saking digemari hingga dibuatkan film dan sinetron setelah era televisi swasta menjamur. Berbeda hari akan ada pemutaran kisah yang lain, diambil dari kisah yang dikarang H.C. Anderson atau dongeng Nusantara, Bawang Merah Bawang Putih, Malin Kundang, dan setiap malam Jumat (kenapa tidak Kamis malam ya) akan diperdengarkan yang memerindingkan bulu roma, bila kuat menyimak hingga tengah malam saat radio akan off air mengalunlah lagu Syukur atau Rayuan Pulau Kelapa.
Namun ada kalanya seharian radio dengan tulisan Philips di sudut kanan atas tidak terdengar suaranya sama sekali, usut punya usut ternyata batu sebagai sumber listriknya sedang dijemur di atas genting untuk memulihkan tenaganya (ternyata sama dengan Superman, bila lemah untuk memulihkan tenaga harus terkena sinar matahari langsung), maka tak ada ketoprak, musik pengantar tidur dan ketinggalan satu episode sandiwara radio favorit.
Malam minggu (kenapa lagi ini tidak Sabtu malam) adalah malam yang ditunggu, nongkrong di ruang tunggu studio radio, dengan secarik kertas bertuliskan judul lagu, ditujukan kepada siapa dan ucapan pengiringnya. Untuk seorang gadis di seberang jembatan kembar, ada kiriman lagu dari seseorang yang selalu menanti senyum manismu setiap pagi di gerbang sekolah, dan mengalunlah suara Iwan Fals menyenandungkan Mata Indah Bola Pingpong.
Dengan sekelompok sahabat yang memiliki kemampuan merakit peralatan elektronik dan modal, membuat studio radio kecil-kecilan hingga tempat nongkrong pun berpindah sambil belajar menjadi penyiar sekaligus bisa mendengarkan lagu favorit langsung tanpa jeda (hanya keluarga tertentu yang mampu membeli pemutar kaset, bisa mendengar langsung lagu idaman adalah suatu kemewahan).
Radio tetap menemani ketika negara menugaskan, dari daerah yang hanya terdapat satu stasiun radio hingga wilayah dimana gelombang setiap stasiun hanya dibedakan dengan angka di belakang koma, tak heran karena belum berbasis digital, radio dual band pun tak mampu menampungnya yang mengakibatkan suara antarstasiun akan bertabrakan dan tergantung mana yang lebih kuat sinyalnya, itulah yang terdengar ditingkahi kemresek…sekali di udara tetap di udara…
Di kota yang pernah digadang-gadang menjadi calon ibu kota negara era Presiden Sukarno terdapat satu stasiun radio yang memutar lagu dengan selingan banyak iklan (era ketika iklan di radio masih ramai dan didengar khalayak). Demikian juga ketika di tanah mbah Arung Palaka pernah mengungsi, hanya ada satu stasiun radio yang mengudara meski tidak 24 jam, yang bahkan terkadang tidak mengudara dalam satu hari (atau karena radio dual band tidak mampu menerima sinyal gelombangnya).
Di bumi cendana berseliweran gelombang radio yang dapat disimak, selain RRI (sekali mengadakan acara siniar terkait Kartu Kredit Pemerintah) juga beberapa stasiun radio swasta dengan salah seorang sahabat yang menjadi penyiar tetapnya, hingga bisa meminta lagu kesukaan untuk diputar meski diperuntukkan buat diri sendiri, tak lagi untuk sesiapa layaknya ketika masa remaja.
Di bumi tempat waliyullah mbah Wasil bermukim, suara radio dari kota angin menemani malam-malam di kesendirian sembari mendengar laporan gatekeeper tentang kondisi jalan, dengan lagu dan musik yang entah kenapa pas dengan suasana dan selera. Dan sekarang di ujung timur pulau dewata di sebuah rumah di belakang kantor Treasury Indonesia Karangasem senantiasa terdengar RRI Mataram pro 2 FM yang dalam lima kali sehari mengumandangkan azan dari masjid agung Mataram.
…hayya alal falah…
Catatan:
Turut berdukacita untuk Radio Wijang Songko Kediri yang terhitung mulai tanggal 1 April 2026 tak lagi mengudara





