Cukup
Hidup ini bukan lomba panjat pinang duniawi
-Emha Ainun Nadjib-
Tahun 2000-an di koran Kompas edisi hari Minggu terdapat laporan seni berupa pameran seni instalasi, sebuah bentuk seni kontemporer tiga dimensi yang menggabungkan berbagai media (visual, suara, cahaya, dll.) untuk menciptakan pengalaman imersif dengan mengubah ruang fisik, mengajak penonton untuk mengelilingi, memasuki, dan berinteraborasi langsung, bukan sekadar mengamati, seringkali untuk menyampaikan pesan konseptual tentang isu sosial, politik, atau lingkungan dengan cara yang menantang konvensi seni tradisional, diberi judul Future Forest karya Biranul Anas (apabila keliru mohon dikoreksi). Dibuat dari tisu yang diremas (diuntel-untel), dimasukkan dalam adonan tepung, dikeringkan untuk selanjutnya dironce dengan seutas benang, dipasang menjulur dari langit ruangan hingga lantai dan rimbun memenuhi bidang ruang pameran.
Dari hasil perhitungan, diperkirakan satu kotak tisu (isi 20 lembar) diproduksi dari satu batang pohon, sedangkan satu batang pohon mampu menyediakan oksigen untuk tiga orang, dan juga menjadi penyerap karbon dan emisi, maka berapa banyak batang pohon yang mesti ditebang untuk memenuhi kebutuhan tisu yang menjadi konsumsi manusia sehari-hari.
Sejak itu tak lagi disentuhnya tisu meski sebelepotan apa pun setelah menikmati makanan, cukuplah membasuh dengan air bersih dan mengelap menggunakan saputangan (dalam bahasa Jawa disebut kacu yang berarti diangkat karo mecucu), kecuali memang terpaksa karena sudah tersedia dalam satu paket nasi kotak yang di dalamnya juga tersedia selipat tisu.
Apabila pergi ke warung Padang satu makanan favorit adalah gulai telur ikan, segumpal atau sebesar segenggaman tangan orang dewasa yang mungkin berisi ribuan telur ikan disiram dengan kuah gulai kental yang terasa legit dan gurih ketika disuapkan ke dalam mulut, belum lagi ditambah tekstur telur yang serasa kres-kres dilindas gigi semakin memberi sensasi kenikmatan luar biasa, hingga setiap ke warung Padang di mana pun berada yang ditanya adalah punya telur ikan, bukan punya otak seperti dalam sebuah iklan.
Suatu ketika Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) menerbitkan kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi, di dalamnya ada satu kisah (lupa judulnya, bukunya juga tak tahu entah kemana) pertemuan Gus Mus waktu masih nyantri (dan sebagian besar cerita di dalam kumpulan cerpen tersebut ketika Gus Mus masih muda dan belum menjadi kiai) dengan seorang kiai yang memiliki hobi memancing ikan di sungai. Saat ada kesempatan luang Gus Mus ikut bersama gurunya mancing di sungai, namun anehnya ketika mendapat ikan gemuk sang guru akan mengamati sebentar dan melepas kembali ikan tersebut ke sungai.
Diingatnya perjalanan Nabi Musa berguru pada Nabi Khidir, Gus Mus pun tak berani menanyakan tindakan gurunya hanya pertanyaan dalam hati tak bisa disimpannya, dan terucap satu tanya kenapa ikannya dilepas kembali ke sungai, dan sang guru pun menjelaskan dengan sabar, bahwa ikan itu sedang mengandung telur-telurnya yang sebentar lagi akan menetas, bila ikan itu tak kita kembalikan ke sungai berapa banyak calon ikan yang mati dan tidak bisa meneruskan keberlangsungan hidupnya, kemungkinan jumlah ikan juga akan semakin berkurang karena kita menangkapnya sembarangan, bahkan yang mau bertelur pun juga ditangkap.
Selesai membaca cerpen Lukisan Kaligrafi, setiap ke warung Padang tak lagi ada permintaan telur ikan, namun berganti menjadi perkedel dua tambah telur dadar segede bantal (tetap telur juga).
Sungguh perpaduan yang nikmat ketika satu porsi nasi campur di warteg disudahi dengan segelas es teh manis, di tengah hari yang terik selesai mengais ilmu di Jurangmangu. Kebiasaan yang terus menguntit hingga, saat itu sudah mulai marak tv swasta, ada sebuah tayangan di tv (apakah iklan atau acara ilmu pengetahuan) yang menggambarkan tentang efek ketika kita minum air dingin (es) setelah makan. Bagaimana lemak yang menempel di dinding usus semakin lama semakin menebal seiring dengan air dingin yang mengiringinya, memang terasa berbeda sehabis makan berlemak antara minum air es dengan minum air panas.
Di sisi lain ada seorang teman yang di rumahnya tidak menyediakan air dingin, kulkas hanya untuk menyimpan bahan dan makanan yang tidak awet dan memerlukan sarana penyimpanan dalam suhu tertentu, dan ketika ditanya hanya menjawab bahwa es itu tidak baik.
Dengan dua pemicu itu seterik dan sehaus apa pun, baik setelah makan atau sehabis menyelesaikan beberapa putaran mengelilingi stadion atau aloon-aloon tak lagi ada air dingin (es), cukuplah dengan air putih biasa atau yang hangat bila tersedia.
Di bumi penghasil aspal ada satu warung (entah masih buka atau tidak saat ini) yang menyediakan masakan dengan menu kuah ikan yang maknyus meski nasinya biasa saja (jangan dibandingkan dengan nasi di restoran Jepang atau Korea yang bisa diambil menggunakan sumpit). Dan ada satu ikan yang belum pernah ditemui di warung lain yang selama ini pernah disinggahi, yang rasa dagingnya maknyus dua kali. Dengan penasaran ditanyakanlah nama ikan itu ke pemilik warung, dan namanya memang tidak biasa, ikan Napoleon.
Rasa membuat tuman, setiap ke warung tersebut hanya satu menu yang seolah menjadi wajib untuk disantap, kuah ikan Napoleon.
Penasaran dengan bentuk ikan secara utuh, karena ketika di warung hanya sebagian saja yang dilihat, entah kepala, ekor atau badannya yang sudah dibagi-bagi, dibukalah mesin pencari dan menuliskan ikan Napoleon, dan keterangan akhirnya membuat kecewa dan menyesal. Sebagai ikan karang, yang berarti hidup di terumbu karang, dan makan dengan ngrikiti karang, bentuk tubuh seperti ikan Semar, namun catatannya termasuk dalam spesies yang dilindungi.
Ternyata lezatnya bukan kepalang membuat sang ikan terus diburu hingga semakin menyusut jumlahnya meski edukasi terus digalakkan oleh pemerintah setempat, menjadikan ikan Napolen berstatus dilindungi mengingat populasinya yang terancam.
Fakta menohok ini tak lagi membuat berselera untuk memesan dan menyantap kuah ikan Napoleon, cukuplah dengan goreng tempe dan krupuk uyel disiram sop saudara.
Dan cukup ternyata adalah bagian dari konsep menahan diri (selamat menyongsong bulan puasa 1447 H).
*sumber: wwf.id, kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi-Gus Mus, google.com





