Tahu-tahu
Karena kita takut mati,
tapi jeri pada hidup tanpa makna
-Qaris Tajudin: Mengapa manusia percaya ramalan-
Kembang api menyalak ingar memeluk langit malam membuat mata sebentar terjaga dan terpejam, tak henti hingga pagi menjelang meski hanya tertinggal satu dua gelegar. Malam pergantian tahun menjadi semarak dengan bunyi dan terang dari nyala permainan yang beberapa waktu lalu pernah menggegerkan sebuah dusun di wilayah Bung Besar dimakamkan karena menghancurkan sebuah rumah dalam proses pembuatannya yang menimbulkan duka panjang.
Sepertinya baru kemarin menjejakkan kaki di halaman seberang Balai Kota Prabu Jaya Baya, berjumpa dengan sahabat yang senantiasa menebarkan kebaikan dan senyum tawa meski terkadang ada sedikit olok-olok namun semua dalam kerangka cinta. Nyatanya 36 purnama sudah (selaras dengan satu periode pendek pelunasan perjanjian dengan pihak perbankan) menghirup udara dan membersihkan diri dengan resapan air sungai Brantas, merasakan pedasnya sambal tumpang, menikmati riuh sepanjang jalan Doho, mencoba berbagai sajian kuliner pelataran bumi Panji, menggapai langit di Bukit Bintang, bercengkerama sambil rasan-rasan di ruang kolaborasi, dan tak lupa bersimpuh di ruang belakang dan selalu udur-uduran siapa yang harus berdiri di depan.
Tahu-tahu sekarang sudah menjejakkan kaki di ujung timur pulau dewata yang apabila berdiri di selasar depan gedung tampak jelas sang Agung berdiri menatap dengan diam.
Ini Putri to, lha kok wis ngungkuli mama-ne dhuwure, kapan kae koyok sik gendong ae. Betapa sering mendengar kalimat semacam itu ketika mengomentari putra/putri sejawat yang memang lama tidak jumpa, namun seiring waktu ketika tidak lagi sering diajak ke kantor kita jadi heran dan pangling meski suasana tidak berubah.
Perasaan baru nengok di rumah sakit ketika lahir, diajak ke kantor, digendong sana sini bergantian, belajar jalan, menangis malahan membuat yang lain senang (kenapa kalau yang menangis balita seringnya membuat yang mendengar terlihat riang), tak berapa lama saat diajak lagi ke kantor sudah mengenakan seragam taman kanak-kanak.
Tahu-tahu sudah bisa naik kendaraan bermotor sendiri, menjemput orang tua pulang kantor dan tak lagi bermain petak umpet di kolong meja yang si pencari pura-pura tidak tahu agar yang sembunyi merasa senang.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…padahal baru kemarin jalan bareng solat Jumat. Banyak kita jumpa saudara, tetangga, teman, sahabat, handai tolan yang terlihat sehat, bugar, tak pernah mengeluh sakit, menjaga pola makan dengan baik, menganut jalan hidup sehat, rajin mensyukuri kesehatan, bahkan tidak merokok ataupun minum alkohol, namun betapa pendek waktu berjalan saat bertemu dengan malaikat maut. Ada yang dipeluk sakit bertahun-tahun tak kunjung diantar ke pemakaman, yang menunggu di rumah sakit malahan dijemput sang pencabut nyawa.
Tahu-tahu sudah diantar ke pemakaman di sudut desa, padahal baru kemarin ikut ronda bersama, menghadiri kenduri di rumah pak RT, turut gotong royong membersihkan got dan gorong-gorong yang melintas sepanjang jalan, duduk di barisan paling depan ketika ada pengaosan di balai desa, bahkan baru tadi pagi terdengar suaranya mengaminkan doa subuh di musala.
Ada sebuah kisah tentang seorang sopir taksi yang banyak melayani turis dari mancanegara dan mengantar jemput dari satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain. Suatu hari sopir ini mengantar tiga orang turis dari Jepang, Jerman dan Amerika yang masing-masing bercerita perihal kehebatan negaranya dalam teknologi. Si Jepang mengawali cerita bahwa pabrik mobil di Jepang dalam satu hari mampu memproduksi sepuluh kendaraan roda empat. Si Jerman tentunya tak mau kalah, ia menimpali bahwa di Jerman pabrik mobil yang ada bisa menghasilkan kendaraan besar sebanyak dua puluh per harinya. Amerika yang baru saja berhasil membawa pak Maduro ke negaranya panas hatinya, membakar kedua temannya dengan cerita bahwa pabrik senjata di Amerika bisa membuat seratus kendaraan lapis baja per harinya. Si sopir hanya bisa diam sambil terus menjalankan kendaraannya.
Lewat sebuah gedung tinggi yang seolah menyentuh langit, bertanyalah turis kepada sopir, kalau di sini berapa lama untuk membuat gedung seperti itu, sopir pun menjawab sekenanya ”Saya tidak tahu Sir, kemarin saya lewat sini belum ada, tahu-tahu sekarang sudah berdiri gedung itu”. Mendengarnya ketiga turis langsung terbungkam diam.
Ternyata hidup yang dianggap demikian ruwet, rumit, ribet, hanya berdasar tahu-tahu. Perasaan baru potong rambut tahu-tahu sudah ke tukang cukur lagi. Kelihatannya baru kemarin dibelikan celana tahu-tahu sudah cingkrang, baju yang dibeli untuk lebaran tahun lalu tahu-tahu sudah tak muat lagi. Sepertinya baru sarapan tahu-tahu sudah lapar lagi, selepas makan siang rasan-rasan sekadarnya tahu-tahu sudah sore, selesai salat asar tahu-tahu sudah magrib. Baru saja bikin SIM tahu-tahu sudah harus mengikuti tes lagi, baru ujian semester tahu-tahu sudah lulusan.
Betapa banyak dan melimpah tahu-tahu yang kita tidak tahu, karena yang fana adalah waktu* sedangkan manusia kholidina fiiha abadan.
*selarik sajak alm. mbah Sapardi





