Pahlawan
Apa jadinya dunia tanpa Indonesia
-Yudi Latif-
Pasangan suami istri itu pada mulanya kaget dan gugup ketika tim pemantauan pembiayaan kredit mendatangi rumah yang sekaligus sebagai gerai penjualan roti goreng segede gaban di siang menjelang sore, menjawab pertanyaan bagaimana menjaga produk roti gorengnya tetap didatangi pelanggan di tengah persaingan sesama penyedia jajanan.
“Kami bangun jam tiga Mbak, menyiapkan bahan adonan yang sudah dibeli bapaknya anak-anak.”
(Di saat itu sedang enak-enaknya mancal selimut memeluk guling).
“Bila adonan selesai langsung digoreng lalu kami tiriskan, dan sambil menunggu biasanya pas masuk waktu subuh, kami tinggal sembahyang dulu.”
(Meski mendengar azan berkumandang, mata masih belum berkenan untuk diajak menikmati pagi).
“Setelah subuhan kami berangkat ke pasar Mbak, biasanya setengah tujuh sudah habis, kami belanja bahan terus pulang.”
(Ini waktunya bangun meski masih sambil terkantuk-kantuk).
“Sampai di rumah, kami olah lagi untuk persiapan siang nanti, jualan di gerobak depan rumah.”
(Waktu yang nyaman untuk merebahkan badan setelah perut diisi sepiring nasi, dan betapa rendah hatinya gerai roti goreng disebut gerobak oleh pemiliknya).
“Kami selesai biasanya setelah atau menjelang magrib dan selesai ngisaan langsung istirahat untuk persiapan esok pagi.”
(Masih nongkrong di warung menikmati secangkir kopi setelah menandaskan semangkuk mie rebus sembari melihat lalu lalang kendaraan lewat).
Menjadi penyalur bagi pembiayaan kredit yang menyasar pelaku usaha kecil terutama mikro dan belum terjangkau oleh perbankan memerlukan tenaga dan curahan pikiran agar kredit yang telah salur dapat kembali secara tepat waktu dan tepat jumlah, juga mencari debitur baru yang masih belum kenal dan paham bahwa ada pembiayaan yang bisa dimanfaatkan untuk menambah modal.
“Untuk mengikat debitur agar disiplin dalam melakukan setoran angsuran, kami bentuk kelompok dengan anggota 10-20 orang dengan salah satu menjadi ketua yang bertanggungjawab atas keberlangsungan kelompok tersebut.”
(10-20 orang dengan pikiran dan kemauan serta kesibukan masing-masing juga beban psikologis yang berbeda).
“Satu hari kami harus bisa menyelesaikan di 3-4 kelompok Bu, karena lokasi kelompok yang kadang berjauhan, kami jadwalkan yang berdekatan sekaligus, sehingga pulang jam sembilan-sepuluh malam sudah biasa.”
(Sendirian mendatangi kelompok yang kebanyakan beranggotakan ibu-ibu dengan segala pinta khas perempuan, menggunakan kendaraan roda dua yang mungkin juga belum lunas, diterpa panas dan hujan).
“Kami pernah kehabisan bensin, pecah ban dan tak satu orang pun bisa dimintai tolong saking sepi dan jauhnya lokasi debitur yang kami datangi, pada akhirnya kami harus pulang dan kembali lagi esok hari.”
(Betapa merananya di tengah alas gung liwang liwung, sendirian dan kendaraan yang cuma satu-satunya tidak bisa dinaiki, harus dituntun, didorong ke bengkel terdekat yang jaraknya membuat peluh membasahi baju hingga jaket).
“Adakalanya ketika kami melakukan penagihan ke satu debitur, yang ditagih malahan lebih galak dari yang menagih. Pada akhirnya kami meminta pendampingan dari pihak desa atau Babinsa.”
(Bayangkan ketika kita datang bertamu dengan maksud baik hanya untuk menagih janji yang sudah jatuh tempo, namun tanggapan yang ada seolah kita durjana yang akan merampas hak hidup orang lain).
Sopir yang membawa kami dengan cekatan memindahkan gigi, memutar stir menghindari lubang sambil terus melaju di kelokan dengan lebar jalan yang cukup untuk dilalui satu kendaraan roda empat, sehingga bila berpapasan dengan kendaraan lain harus ada yang mengalah dan lega hati untuk sedikit menurunkan ban ke sempadan jalan.
“Sul mbok liwatne ngendi iki.” Terdengar suara sedikit resah dari kursi belakang, mengingat jalan yang tidak biasa dan tidak tampak satu rumah penduduk, di kiri jurang di kanan kebun yang entah milik siapa.
“Tenang Mbak, wis to tekan-tekan.” Pemegang stir menjawab dengan kepastian yang melegakan namun juga merisaukan karena waktu terasa melambat belum sampai juga ke tujuan.
“Mangke seumpama nyasar nggih mbalik mas Sam ya.” Sebuah celetukan yang mencoba menenangkan namun hanya menambah beban gelisah.
“Nggih Pak, leres.”
“Awas lek nyasar, tak ayak.” Sebuah ancaman yang dibalas dengan tawa membahana dari kursi depan kanan, serta cekikikan di kursi belakang.
Setelah melalui kelokan, turunan tajam, naik dan kembali turun dengan tikungan yang membentuk huruf u sampai juga ke tempat yang dituju, Stasiun Geofisika Nganjuk, dengan latar belakang air terjun Sedudo di lereng gunung Wilis, tempat bersejarah ketika pasukan Jenderal Soedirman melakukan gerilya menolak Belanda yang datang kembali ke Indonesia.
“Dari layar ini kami memantau kondisi cuaca juga gempa yang dapat mengakibatkan kerusakan, sehingga dapat segera kami informasikan ke masyarakat setempat.”
Ada banyak titik tanda gempa yang muncul di tv layar datar yang menempel di tembok.
“Betul Pak, sebenarnya setiap hari bahkan setiap jam ada gempa, hanya skalanya bukan yang merusak dan karena kecilnya kita tidak merasa.”
Berarti kita memang tinggal di atas gempa, sebagai akibat pergeseran lempeng bumi yang senantiasa bergerak.
“Ini alat pengukur curah hujan, jadi bila curah hujan melebihi rata-rata kami akan informasikan agar masyarakat waspada dan mengantisipasi genangan air yang dapat menimbulkan banjir atau tanah longsor.”
Sebuah media, yang ditanam di halaman rumput terpangkas rapi, terdiri dari tabung, gelas, jarum penanda dan berbagai petunjuk yang hanya bisa dibaca oleh ahlinya, dan yang melihat hanya bisa bergumam alat kecil dengan manfaat besar.
(Kamar mandi neng ndi yo).
“Kami melakukan kerja sama dengan stasiun radio Suara Krisna untuk menginformasikan kondisi dan situasi cuaca yang terjadi, misalnya terdapat anomali, dengan persiapan sebelumnya dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.”
Betapa banyak pahlawan di sekeliling kita.
*hasil jalan-jalan dengan sahabat terkasih, terima kasih untuk pengalaman tak terlupakan.





