Kediri

USA

Kalau ada sumur di ladang

boleh kita menumpang mandi

-pepatah lama-

 

Dalam kisah ashabul kahfi tujuh orang pemuda ditidurkan oleh Tuhan selama 309 tahun di sebuah gua untuk menjaga kemurnian, kejujuran, ketulusan, kesucian mereka dari penguasa yang mengutamakan kemungkaran saat memerintah negeri.

Setelah bangun yang seolah sekejap saja, karena tidak ada tanda-tanda menua, tidak ada kerusakan pada pakaian yang mereka kenakan, bahkan tanda lain yang mengisyaratkan bahwa mereka sudah melewati masa selama lebih dari tiga abad, mereka berdebat tentang berapa lama terlelap. Menjadi jelas ketika salah seorang pergi ke pasar untuk membeli makanan, dengan pesan agar berlaku lemah lembut (kata ini terletak di tengah kitab suci yang menjadi penanda inti keberagamaan), menggunakan mata uang yang ternyata sudah tidak berlaku lagi dan mendapat pencerahan bahwa penguasa lalim itu sudah berlalu berabad yang lampau dan sekarang negeri diperintah oleh raja yang adil dan bijaksana serta melaksanakan ajaran Tuhan dengan baik.

Satu binatang yang seringnya dianggap menjijikkan dan membawa ketidaksucian serta kebanyakan akan mengusir bila mendekat, menemani ketujuh pemuda yang tidur di dalam gua dengan menjulurkan kakinya seolah menjadi penjaga, yang memperingatkan siapa pun yang lewat dan akan masuk gua agar berhati-hati sehingga tidak jadi meneruskan langkah.

Kirik (yang dalam kisah ashabul kahfi bernama Qitmir) begitulah kita sering menyebutnya, satu frasa yang pernah dijadikan tebakan tentang kata apa yang apabila dibaca dari depan maupun belakang menghasilkan bunyi yang sama selain kasur rusak.

Adalah seorang perempuan yang memeluk kemaksiatan dengan melayani hasrat lelaki hingga orang sekampung menempelkan tanda ahli neraka pada dirinya, tak peduli sebaik apa pun dia berlaku terhadap tetangga dan kerabatnya.

Suatu ketika pulang dari sebuah panggilan dengan langkah gontai tak terarah keringat bercampur debu jalanan, di pinggir sebuah sumur dilihatnya seekor kirik mengais rumput menjilat embun yang masih menempel terkesan betapa hausnya binatang malang itu.

Timbul rasa kasihan di hati perempuan yang segera mencopot sepatu dan turun ke dalam sumur mengambil seciduk air dengan sepatu, menggigitnya dan naik kembali serta memberikan kepada kirik yang segera meminumnya. Melihat ketulusan, keikhlasan dan kesucian niatnya, Tuhan pun menganugerahkan ahli surga kepada sang perempuan hanya karena memberi minum seekor kirik kehausan.

Usai perang besar antara dua keluarga Pandawa dan Kurawa, keluarga Pandawa yang memenangkan perang bersiap meninggalkan urusan duniawi dan bertekad mempersiapkan diri guna bekal di kehidupan selanjutnya yang lebih baik.

Dalam perjalanan jauh menuju puncak Himalaya, satu per satu anggota Pandawa menemui ajalnya, Bima meninggal membawa sifatnya yang blak-blakan, tidak mau berbasa basi dan cenderung kasar. Arjuna meninggal membawa sifatnya yang merasa bisa menyelesaikan apa saja, Nakula meninggal membawa sifatnya yang penuh keakuan dan Sadewa meninggal dengan sifatnya yang merasa unggul di antara semua saudaranya.

Tersisa Yudhistira, yang diibaratkan berdarah putih serta midek telek pun ga penyet, saking tulus dan lembut hatinya, dan kirik pengiring setianya yang mampu mencapai puncak, hingga muncul kereta kencana yang akan membawa ke swargaloka. Namun sang kusir hanya memperkenankan Yudhistira yang ikut sedangkan kiriknya harus ditinggal.

Sulung Pandawa ternyata tidak mau meninggalkan kirik yang telah setia menemani sepanjang perjalanan, ia pun kukuh untuk mengajaknya serta. Tak pernah membunuh, tak pernah menyakiti, dan tak pernah berdusta, lalu mengapa tidak boleh ikut menuju surga.

Sang kusir luluh hatinya dan membawa mereka berdua ke swargaloka, dan tiba di sana sang kirik berubah wujud menjadi Bathara Dharma, simbol kesetiaan dan kejujuran, bahkan dalam beberapa kisah kirik pengiring itu masuk terlebih dulu dibanding Yudhistira.

Nusa Penida, pulau di sebelah tenggara Bali dipisahkan selat Badung, merupakan sebuah kecamatan dalam Kab. Klungkung dengan pantai Klingking yang banyak menarik wisatawan manca. Dari Kab. Karangasem lewat jalan lintas selatan menuju Denpasar setelah melalui pantai Yehmalet di sisi kiri akan terlihat sebuah pulau yang tampak biru di horizon, dan untuk menuju ke Nusa Penida dapat melalui dua pelabuhan. Dari Kab. Klungkung melalui pelabuhan Kusamba dengan kapal Gangga ekspres, sedangkan dari Denpasar melalui pelabuhan Sanur.

Pelabuhan Kusamba merupakan pelabuhan rakyat, hanya ada dermaga dari kayu dengan ruang tunggu juga dari kayu dan kebanyakan yang melintas adalah warga penduduk Nusa Penida karena suatu keperluan mesti bolak balik Bali-Nusa Penida. Sebaliknya kapal dari pelabuhan Sanur mengangkut turis manca dan membuang sauh di dermaga utama Nusa Penida.

Terdapat dua mitra yang berlokasi di sana, UPP Nusa Penida dan Cabang Kejari Klungkung di Nusa Penida, yang mengharuskan untuk dilakukan pemantauan dan penilaian terkait pelaksanaan belanja modal pembangunan dermaga yang baru ditambahkan di awal semester II.

Selesai bertemu dan tatap muka serta ber-dia lo gue serta menghasilkan saran dan masukan baik dari UPP Nusa Penida maupun Cabjari Klungkung di Nusa Penida, tim bersiap kembali menuju dermaga. Dari lokasi gedung Cabjari Klungkung di Nusa Penida, pelabuhan hanya sejarak sepelemparan tombak sehingga lebih mudah ditempuh dengan berjalan kaki, setelah sebelumnya dari lokasi UPP Nusa Penida menggunakan taksi diselingi lalu lalang wisatawan manca yang baru tiba, dan keramaian itu memaksa mata untuk sekejap melirik dan menatap namun tak perlu dibayangkan.

Keluar dari halaman kantor Cabjari Klungkung di Nusa Penida terik mentari menyengat kulit, udara terasa asin menandakan betapa dekatnya dengan laut. Sepuluh langkah di depan segerombolan kirik liar sedang berteduh merebahkan tubuh di teritis pagar sebuah rumah, hati sudah terasa kurang nyaman, doa dan mantra meluncur tak henti.

Seekor kirik yang tadinya tenang, damai riyep-riyep menikmati siang, bangun dan menggonggong hingga mengundang teman-temannya turut berteriak riuh, dan tiba-tiba terasa ada yang memukul kaki belakang, terasa panas dan ngganjel (seperti dicethot) …mas, mbak saya dicathek…, tampak celana robek sejalur.

Ah kirik pun tahu ada yang baru memeluk dosa karena menatap pemandangan tak senonoh yang seharusnya tidak perlu dilihat.

 

Disarikan dari: rumaysho.com, buddhazine.com, jabar.nu.or.id, sarjana muda (Iwan Fals), perjalanan monev ke UPP Nusa Penida.

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
KPPN Kediri
Jl. Basuki Rahmat No.4, Balowerti, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur 64123 
Tel: 0354-682151, 683610 Fax: 0354-682325, 686472

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

 

 

Search