Keliru
Namun ku keliru
Telah membunuh cinta dia dan dirimu
-Ruth S: Keliru-
Manusia dianugerahi sifat lupa yang patut disyukuri, karena dengan lupa Tuhan pun memaafkan. Terbiasa menahan diri untuk tidak makan dan minum serta mengendalikan sifat ananiyah yang lain setiap hari Senin dan Kamis, namun karena juga memiliki kebiasaan setiap bangun tidur langsung menghabiskan segelar air putih (bening?) hingga lupa bahwa hari itu adalah hari waktunya menahan diri tapi telanjur menandaskan air di gelas yang sudah disiapkan sejak semalam sebelum merebahkan badan, maka tidak menghalangi untuk melanjutkan hingga magrib menjelang.
Kecenderungan lupa bisa menjadi keliru menyikapi sesuatu. Ketika masih menjejakkan kaki di nusa cendana, ada seorang sahabat akan berkunjung dan mengirim pesan esok hari minta dijemput di bandara. Pesan yang diterima semalam baru terbaca pagi hari selepas dari balik jendela di kamarku menyelinap seberkas cahaya, hingga keliru menyikapi pesan yang masuk, lupa bahwa esok hari adalah hari ini, sedangkan hari ini sudah ada janjian dengan sahabat lainnya untuk menikmati pagi.
Akibatnya ketika dentuman musik pengiring di tengah aksi laga sedang seru-serunya, sahabat yang minta dijemput menderingkan ponsel di saku, dan baru tersadar bahwa semua karena keliru memahami hari.
Sudah menjadi kegaliban untuk ziarah ke teman yang baru tiba dari tanah suci, meminta doa, silaturahmi, mencicipi berkah, juga menghidu aura terkabulnya harapan dan asa hingga 40 hari ke depan. Rombongan dengan satu atau dua kendaraan sehingga terasa keguyuban ketika masih dalam perjalanan maupun saat sudah tiba di rumah tujuan.
Sesampai di tempat tujuan ada yang masuk rumah lewat pintu depan, sebagian rombongan masuk lewat pintu samping. Sejenak bercengkerama, mengobrolkan sesuatu yang dipungut saat perjalanan atau melanjutkan diskusi ringan yang belum terselesaikan karena terputus oleh yang lain, tibalah berpamitan dan menyudahi anjangsana.
“Mbak sandalku neng ndi,” teriak seseorang yang segera membisukan pembicaraan.
“Iki uduk sepatuku,” seru yang lain semakin membuat bingung yang sedang melangkah menuju kendaraan.
“Bu…tadi lewat samping bukan lewat depan,” baru ngeh semuanya bahwa ada salah jalan, berbeda ketika masuk dan keluarnya.
“Mangkane kok ga penak neng sikilku”. Lupa pintu masuk berimplikasi pada keliru mengambil alas kaki yang akan terus menjadi perbincangan berhari-hari ke depan (cerita bakso dalam perjalanan buat bahan selanjutnya saja).
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari di tanah Sunda Kecil, mesti pilih-pilih tempat makan, dan yang paling mudah adalah langsung menuju ke warung dari pulau Andalas. Tinggal tunjuk lauk rendang, telur goreng setebal satu rim kertas, tunjang, ikan bakar, paru goreng, ayam pop, perkedel dengan irisan daging di dalamnya, tak lupa sayur nangka dan daun ketela pohon, yang suka pedas bisa menambahkan sambal hijau atau merah yang pedasnya mengalahkan omongan tetangga.
Selesai melantunkan doa isya segera singgah di warung tujuan, sepanjang jalan terbayang gurihnya telur dadar, legitnya perkedel disiram kuah gulai serta sesendok bumbu rendang di atas sayur nangka dan daun singkong.
Setelah memarkir sepeda motor di depan warung di samping kendaraan bermotor lainnya, segera memesan sesuai bayangan saat dalam perjalanan, sebungkus nasi lengkap dengan lauk dan sayur telah tertukar dengan selembar rupiah. Kembali ke tempat parkir, menaruh plastik kresek nasi di gantungan dan memasukkan kunci di lubang kontak, tapi anehnya kunci tidak mau diputar ke posisi on, sekali dua kali dicoba lagi baru tersadar bila keliru motor yang diambil, ternyata ada dua motor yang sama berdampingan. Segera pindah ke motor yang sebenarnya, putar kontak, mengangsurkan selembar rupiah untuk juru parkir dan melaju kembali ke rumah.
Tiba di rumah dengan bersiul riang memarkir kendaraan di tempat parkir, memutar kunci kontak ke posisi off, mencopot helm, mengambil kantung kresek makanan di gantungan, tapi…lho mana bungkusan nasi dan telur dadar, kok raib dan baru ingat ketika keliru motor di warung tadi, bekal di gantungan lupa untuk diambil, akhirnya malam itu tidur dengan bekal segelas air.
Sepekan sekali setiap Jumat selepas jam kerja bagi sahabat yang tinggal di luar kota akan bergegas untuk pulang ke kampung halaman masing-masing, dengan berbagai moda angkutan yang ada. Kereta api, bus atau mobil travel langganan yang akan mengantar langsung hingga di depan gerbang pagar rumah.
Yang menjadi persoalan adalah kendaraan travel tidak langsung berangkat ke tempat tujuan, bagi yang dijemput duluan harus ikut memutari kota untuk menjemput penumpang yang lain.
Alkisah seorang ibu yang akan pulang kampung ke kota M telah memesan travel untuk mengantarnya, dan setelah menunaikan ibadah magrib segera menyiapkan diri di halaman kantor agar ketika mobil datang bisa segera naik dan berangkat.
Di tengah senja yang mulai prepet-prepet surup sambil memainkan ponsel pintarnya menunggu kendaraan penjemput datang, membuka berita, membaca entah dan sesekali mendongakkan kepala melihat sudah tibakah yang ditunggu, sesekali melintas codot, kampret, kelelawar berburu mangsa, burung malam berkoak-koak, serangga dan laron mulai merubung lampu taman.
Gelisah penantian berujung lega ketika sebuah mobil memasuki halaman kantor dan berhenti di depan teras, tanpa menoleh sang ibu langsung membuka pintu belakang dan meletakkan tubuh ke kursi penumpang sambil terus mengetik dengan kedua jempolnya, sopir merasa penumpang yang dijemput sudah duduk dengan nyaman segera menekan gas melanjutkan menyusuri jalan. Sambil menikmati kemacetan kota sang sopir nyeletuk memecahkan kesunyian, ”Kocomotone anyar Dik?” Ibu tak menyahut dan sedikit mengintip dari balik kacamata tebalnya sambil membatin, sopir ga duwe dugo, sok kenal sok dekat, manggil dik lagi dan kembali menekuri telepon genggamnya.
Seperempat jam berlalu mobil berbelok ke perumahan dan memasuki halaman sebuah rumah, sopir mematikan mesin mobil, turun dan membuka pintu belakang menurunkan barang. Ibu masih belum merasa aneh karena biasa menjemput penumpang memutari kota, namun yang membuat heran ibu, kok sopirnya masuk rumah dan tidak segera kembali, menengok kiri dan kanan ibu merasa seperti kenal dengan rumah yang disinggahi dan benar-benar tersadar setelah seorang lelaki yang menjadi sopir tadi keluar rumah, lho…
Sementara itu sopir travel yang asli dan seorang istri yang sedikit curiga sedang gelisah menunggu di halaman kantor yang mulai lengang. Tigapuluh menit kita di sini tanpa suara…
*kisah dari para sahabat, lagu Pagi oleh Chrisye, Pelangi di Matamu oleh Jamrud





