Alhamdulillah tiba di garasi motor kantor setelah lima belas menit kedinginan di jalanan. Jarak kontrakan ke kantor hanya lima kilometer, namun udara dingin memaksaku membatasi laju motor andalan hanya sampai 30 kilometer per jam. Lebih dari itu, aku tidak kuat menahan udara dingin yang menyerang tanganku, walaupun sudah bersarung tangan.
Mulai hari ini aku tidak perlu lagi mengisi daftar hadir masuk kantor karena telah diberlakukan work from anywhere next generation (W-FANG). Dengan sistem yang baru ini, aku cukup mengerjakan tugas dan pekerjaan menggunakan perangkat yang telah didaftarkan sebelumnya, yaitu laptop, smartphone, dan (tak lupa mengenakan) smartwatch. Saat aku login ke Aplikasi Satu Kemenkeu untuk mengecek berkas yang masuk melalui laptop, sistem mencatat bahwa aku mulai bekerja dan mengakses lokasiku dari smartwatch yang melingkar di tangan.
Ketika asyik membaca (dan sebagian aku tandai karena mengandung deadline) berkas yang masuk di Mejaku, tiba-tiba Nuy datang ke mejaku mengajak diskusi terkait Surat Perintah Membayar (SPM) yang sedang dia proses. Tak lupa aku mengubah mode kerja default di smartwatch menjadi Diskusi/Rapat agar sistem beralih ke mode diskusi/rapat. Dalam mode ini, smartwatch akan merekam pembicaraanku (dan juga lawan bicaraku tentunya) dan mengirimnya ke sistem untuk dibuatkan resume diskusi yang nantinya menambah output kinerjaku hari ini.
Setelah selesai diskusi dan Nuy meninggalkanku, aku baru teringat bahwa aku belum mengupdate data pada Aplikasi eMakale. Akupun login ke Aplikasi OMSPAN untuk mengunduh data Uang Persediaan (UP) dan Tambahan Uang Persedian (TUP) kemudian meng-upload-nya ke Aplikasi eMakale. Kedua aplikasi inipun terhubung ke W-FANG sehingga sistem mencatat bahwa aku melanjutkan pekerjaan dengan memperbarui data Aplikasi eMakale. Selain itu sistem juga mencatat bahwa tidak ada lagi percakapan antara aku dengan Nuy selama satu menit sehingga menghentikan mode diskusi/rapat.
Aku sedang mengupdate Aplikasi eMakale ketika notifikasi dari Aplikasi MyIntress berbunyi, memberitahuku bahwa terdapat pertanyaan konsultasi dari satker yang masuk. Setelah menyelesaikan update data Aplikasi eMakale, aku login ke Aplikasi MyIntress untuk mengecek pertanyaan yang masuk. Keningku mengernyit sejenak membaca pertanyaan satker, menandakan aku tidak mampu langsung memberikan jawaban karena pendeknya ingatanku terkait peraturan. Sebelum aku mencari peraturan terkait pertanyaan satker, kupindah mode kerja di smartphone menjadi Self Learning. Pada mode ini, sistem akan mencatat aktivitasku pada laptop atau smartphone ketika membuka dan membaca file pdf atau slide PowerPoint kemudian memblok teks, klik kanan, Send to W-FANG. Dengan melakukan itu, sistem akan mencatat apa yang sedang aku pelajari kemudian membuat resumenya sebagai output dari mode Self Learning.
Sebenarnya saat aku mencari peraturan terkait pertanyaan pengelola keuangan satker, aku sambil menahan (maaf) buang air besar. Berhubung pencarianku terkait peraturan sudah hampir berhasil, maka aku menunda sejenak ke kamar kecil. Setelah menemukan jawaban dari pertanyaan dan menyelesaikan proses Self Learning-ku, segera saja aku alihkan laptop ke mode Sleep dan bergegas ke kamar kecil. Ketika laptop memasuki mode Sleep, sistem W-FANG akan mencatat bahwa aku sedang istirahat.
Sekembalinya dari kamar kecil, resepsionis menghampiri dan memberitahuku bahwa seorang pengelola keuangan satker datang untuk berkonsultasi. Setelah kupakai kembali sepatuku dan mengubah mode kerja di smartwatch menjadi Konsultasi Tatap Muka, aku mendatangi pengelola keuangan yang sedang serius menatap laptopnya sambil menyapa dengan akrab. Pada mode Konsultasi Tatap Muka, W-FANG akan merekam pembicaraan kami untuk berikutnya menyusun resume sebagai output dari layanan konsultasi yang aku berikan. Selain itu W-FANG juga akan mengambil foto aktivitasku melalui kamera CCTV sebagai dokumentasi dan melengkapi resume yang nantinya terbentuk.
Setelah selesai melayani pengelola keuangan yang datang berkonsultasi, aku kembali ke meja kerja untuk menjawab pertanyaan melalui MyIntress yang sempat tertunda. Ketika aku menjawab pertanyaan melalui MyIntress, aplikasi akan mengirim jawaban ke MyIntress penanya dan pada bagian bawah jawaban akan ada opsi bagi satker, apakah ingin melanjutkan pertanyaan atau mengakhiri konsultasi. Jika penanya memilih untuk mengakhiri konsultasi, akan muncul pop up tingkat kepuasan satker berupa beberapa bintang yang bisa diklik, tentu saja semakin banyak bintang berarti semakin memuaskan.
Aku baru teringat bahwa ada penugasan perjalanan dinas dalam kota mendampingi Mas Bay ke BPMD untuk melakukan pemantauan TKD saat aku melanjutkan mengecek berkas yang masuk di Satu Kemenkeu. Untungnya saat Mas Bayu mengajakku untuk berangkat, aku telah siap dengan laptop di dalam tas, setelah sebelumnya mengaktifkan mode Sleep di laptop. Kemudian kuubah mode kerja pada Smartwach-ku ke mode Dinas Luar. Pada mode ini sistem akan merekam perpindahan lokasiku dari smartwatch yang kupakai.
Bunyi notifikasi WhatsApp menjeda obrolanku dengan Mas Bay di dalam kendaraan yang dikemudikan Mas Jep menuju ke BPMD. Ternyata terdapat pertanyaan dari pengelola keuangan satker yang disampaikan melalui WhatsApp. Dia menyampaikan melalui WhatsApp bahwa tidak dapat mengakses Aplikasi Gaji Web, karena merasa lebih sederhana dibanding melalui MyIntress. Ternyata benar, chat group Aplikasi Gaji telah ramai oleh laporan dari CSO KPPN yang lain, bahwa Aplikasi Gaji Web Satker tidak dapat diakses. Segera aku berikan konfirmasi ke petugas atker yang bertanya, bahwa Aplikasi Gaji Web memang sedang mengalami gangguan.
Setelah menjawab pertanyaan satker, kemudian aku membuat pengumuman (sekaligus permohonan maaf) di grup WhatsApp Satuan Kerja. Tak lupa aku teruskan pertanyaan yang aku terima dan jawaban yang aku berikan melalui WhatsApp ke nomor WhatsApp W-FANG pada menu Konsultasi di luar sistem agar tercatat sebagai pelaksanaan tugas pelayanan konsultasi. Hal ini akan menambah output kinerjaku hari ini.
Keasyikan mengakses WhatsApp membuatku tidak menyadari bahwa kami telah tiba di BPMD. Akupun mengalihkan mode kerja pada smartwatch ke mode diskusi/rapat agar sistem dapat merekam diskusi kami dan membuat resumenya. Sebagai pelengkap resume, aku meminta bantuan agar kami difoto selama kegiatan diskusi sebagai dokumentasi.
Saat diskusi sedang berlangsung, tiba-tiba sirine kebakaran meraung-raung membuat kami kaget dan menghentikan diskusi untuk bergegas keluar dari ruangan. Walaupun tidak sampai panik, kewaspadaanku meningkat, ternyata posisiku paling jauh dari pintu, sedangkan banyak peserta diskusi yang harus keluar melalui pintu tersebut dan aroma benda terbakar mulai menusuk hidungku. Situasi bertambah buruk saat tiba-tiba lantai bergerak, orang-orang berteriak GEMPA!, dan pandanganku pun menjadi gelap.
Tiba-tiba kubuka mata dengan terkejut, ternyata aku masih di tempat tidur dengan alarm yang berteriak-berteriak membangunkanku, dan menunjukkan padaku pukul 4.30. Ternyata kegiatanku seharian di kantor dan dinas luar tadi hanya mimpi. Namun dengan senyum, aku optimis mimpikun tadi suatu saat akan terwujud. Semoga pegawai cukup mengerjakan tugasnya tanpa perlu lagi direpotkan dengan mengukur dan menyusun laporan kinerjanya, karena sudah disusun oleh sistem. Pegawai pun bisa mengecek capaian kinerjanya sewaktu-waktu untuk melakukan evaluasi, Aamiin.
Disclaimer: tulisan ini merupakan preferensi pribadi penulis, tidak mewakili pandangan KPPN Tipe A2 Makale
Penulis: Gobel Fajrin Astra Yudha (PTPN Penyelia, KPPN Tipe A2 Makale)


