Medan

Ketika Siklon Senyar Datang, Anggaran Negara Diuji

Oleh: Edi Iriansyah (PTPN Mahir KPPN Medan II)

 

Fenomena cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Utara di penghujung tahun kembali mengingatkan kita bahwa perubahan iklim bukan lagi isu jauh yang hanya dibicarakan di ruang akademik atau forum internasional. Ia hadir di sekitar kita, memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat, dari sawah yang terendam, jalan yang terputus, hingga aktivitas ekonomi yang terhenti. Dalam percakapan publik, fenomena ini kerap disebut sebagai siklon senyar, sebuah istilah populer untuk menggambarkan sistem cuaca ekstrem yang membawa hujan lebat, angin kencang, dan risiko bencana lanjutan.

Bagi masyarakat awam, cuaca ekstrem sering dianggap sebagai kejadian alam semata. Namun, jika dicermati lebih jauh, dampak dari fenomena seperti ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan alam, tetapi juga oleh kesiapan manusia dan negara dalam mengelolanya. Di sinilah bencana menjadi ruang pembelajaran bersama.

Dampak Siklon terhadap Kehidupan dan Infrastruktur Daerah

Di Sumatera Utara, fenomena siklon telah memicu banjir, longsor, kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan, terganggunya distribusi logistik, hingga penurunan aktivitas ekonomi masyarakat. Sektor pertanian dan perikanan menjadi kelompok paling rentan, disusul oleh gangguan layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Kondisi ini menegaskan bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang harus dihadapi secara sistematis.

Keterkaitan dengan Pelaksanaan Anggaran Tahun 2025

Menjelang akhir tahun anggaran 2025, fenomena siklon menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menyikapi pelaksanaan anggaran secara adaptif dan responsif. Beberapa langkah strategis yang relevan antara lain:

  1. Optimalisasi Serapan Anggaran Berbasis Prioritas Risiko

Program dan kegiatan yang berkaitan dengan penanganan bencana, pemeliharaan infrastruktur, serta perlindungan sosial perlu diprioritaskan penyelesaiannya. Hal ini memastikan anggaran tidak hanya terserap secara administratif, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat terdampak.

  1. Reorientasi Kegiatan Fisik dan Non-Fisik

Dalam kondisi cuaca ekstrem, pelaksanaan proyek fisik yang berisiko tinggi perlu dievaluasi dari sisi keselamatan dan efektivitas. Sementara itu, kegiatan non-fisik seperti sosialisasi mitigasi bencana, peningkatan kapasitas aparatur, dan edukasi masyarakat dapat diperkuat.

  1. Penguatan Belanja Tidak Terduga

Fenomena siklon menegaskan pentingnya kesiapan Belanja Tidak Terduga sebagai instrumen fiskal untuk respon cepat. Evaluasi pemanfaatan BTT di akhir tahun dapat menjadi bahan pembelajaran dalam penyusunan anggaran tahun berikutnya.

  1. Akuntabilitas dan Transparansi Akhir Tahun

Kondisi darurat sering kali menuntut percepatan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, prinsip akuntabilitas dan transparansi tetap harus dijaga agar setiap realokasi atau percepatan anggaran dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan administratif.

Akhir Tahun Anggaran: Mengapa Penting?

Setiap tahun, periode akhir tahun anggaran sering menjadi sorotan karena berkaitan dengan realisasi belanja pemerintah. Namun, di tengah fenomena siklon dan cuaca ekstrem, akhir tahun anggaran seharusnya dipahami lebih dari sekadar soal serapan dana.

Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya laporan keuangan yang rapi, tetapi kehadiran nyata negara. Perbaikan infrastruktur darurat, bantuan sosial bagi warga terdampak, serta langkah pencegahan agar bencana tidak meluas menjadi kebutuhan mendesak. Oleh karena itu, penggunaan anggaran di akhir tahun perlu diarahkan pada program yang benar-benar menjawab kondisi lapangan.

Bagi masyarakat awam, hal ini menjelaskan mengapa terkadang pemerintah melakukan penyesuaian atau percepatan anggaran. Tujuannya bukan semata administratif, melainkan agar negara dapat merespons situasi yang berkembang cepat.

Pembelajaran untuk Perencanaan Tahun Berikutnya

Fenomena siklon di Sumatera Utara seharusnya menjadi bahan pembelajaran bersama, bukan sekadar berita musiman. Perubahan iklim diperkirakan akan membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Artinya, ke depan, masyarakat dan pemerintah perlu semakin terbiasa hidup dengan risiko, bukan mengabaikannya.

Bagi pemerintah, pelajaran ini berarti pentingnya mengintegrasikan analisis risiko bencana dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran. Bagi masyarakat, ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan, kepedulian lingkungan, dan partisipasi publik adalah bagian dari ketahanan bersama.

Pada akhirnya, anggaran negara bukan hanya soal angka, tetapi tentang keberpihakan. Ketika cuaca ekstrem datang tanpa aba-aba, di situlah anggaran diuji: apakah ia mampu menjadi alat perlindungan, atau hanya berhenti sebagai dokumen kebijakan. Dalam dunia yang semakin tidak pasti akibat krisis iklim, jawaban atas pertanyaan itulah yang menentukan kualitas kehadiran negara di tengah masyarakat.

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search