Menguatkan Pondasi Fiskal Priangan Timur di Tengah Tantangan Global
Oleh: Achmad Luthfi
Pada awal 2025, dunia belum sepenuhnya pulih dari ketidakpastian global. Laporan dari berbagai lembaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan menyentuh angka 2,3 persen—turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,7 persen. Perdagangan global pun melambat, dan harga komoditas turun signifikan. Namun di tengah awan kelabu ini, Indonesia tampak tetap tangguh. Surplus perdagangan dan aliran investasi menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap ekonomi nasional masih kokoh berdiri.
Kondisi ini tercermin pula dalam laporan fiskal regional Priangan Timur per April 2025. Forum ALCo (Asset and Liabilities Committee) mencatat sejumlah capaian penting dalam kinerja APBN maupun APBD di wilayah ini. Meskipun tekanan global tak bisa dihindari, semangat sinergi antar unit kerja vertikal Kementerian Keuangan dan pemerintah daerah tampaknya membuahkan hasil positif, meski belum sempurna.
Dari sisi penerimaan pajak, realisasi hingga April mencapai Rp328,85 miliar atau sekitar 19,29% dari target tahun 2025. Sektor administrasi pemerintahan, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan masih mendominasi kontribusi penerimaan. Artinya, struktur ekonomi wilayah ini masih bertumpu pada kegiatan tradisional, dan perlu didorong lebih jauh menuju basis ekonomi berbasis nilai tambah dan industri kreatif.
Penerimaan dari kepabeanan dan cukai pun menunjukkan hal serupa. Cukai hasil tembakau mendominasi hingga 98,3% dari total cukai. Ini memperlihatkan masih rendahnya diversifikasi sumber penerimaan negara, sekaligus menjadi alarm untuk menggencarkan edukasi dan kebijakan fiskal yang berpihak pada produk ramah lingkungan dan kesehatan.
Namun, sinyal positif datang dari belanja negara. Hingga April, realisasi belanja pemerintah pusat di wilayah Priangan Timur mencapai Rp921,45 miliar atau 26,85% dari pagu. Belanja pegawai menyerap porsi terbesar, yang meskipun wajar, tetap menuntut efisiensi dan reformasi birokrasi agar belanja tersebut berdampak langsung pada pelayanan publik. Belanja modal yang baru terserap 5,5% juga perlu menjadi perhatian, karena di sinilah potensi akselerasi pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi daerah dapat didorong lebih kuat.
Satu catatan penting lainnya adalah penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang sudah mencapai Rp4,22 triliun, atau 36,7% dari alokasi tahun berjalan. Tetapi ironinya, laporan tersebut juga menyingkap fakta bahwa lebih dari 85% pendapatan daerah di Priangan Timur masih bergantung pada pemerintah pusat. Sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya menyumbang 11,97% dari total. Ketergantungan ini tidak sehat untuk pembangunan jangka panjang. Daerah perlu segera menggali potensi lokal, memperbaiki tata kelola pajak dan retribusi daerah, serta mendorong kolaborasi publik-swasta.
Di sisi lain, keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha kecil terus terlihat. Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah disalurkan sebesar Rp1,63 triliun kepada lebih dari 46 ribu debitur. Program pembiayaan ultra mikro (UMi) juga menjangkau lebih dari 5.500 pelaku usaha kecil. Ini adalah langkah konkret untuk memperkuat daya tahan ekonomi rakyat dan menopang konsumsi domestik, yang menjadi tulang punggung pertumbuhan nasional.
Namun, dorongan pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya disandarkan pada bantuan sosial atau kredit. Perlu reformasi struktural di tingkat lokal: peningkatan produktivitas UMKM, integrasi rantai pasok, dan adopsi teknologi digital menjadi kunci untuk menciptakan ekonomi lokal yang tangguh dan berdaya saing.
Pada akhirnya, laporan fiskal Priangan Timur hingga April 2025 memberi dua wajah: satu sisi menggambarkan keberhasilan menjaga stabilitas dan kesinambungan fiskal di tengah gejolak global, sisi lainnya menampilkan tantangan serius berupa rendahnya kemandirian fiskal daerah. Sinergi antarinstansi, keberpihakan pada ekonomi kerakyatan, dan keberanian daerah menggali potensi lokal adalah jalan untuk keluar dari ketergantungan dan menuju kemandirian fiskal yang sesungguhnya.
Pondasi sudah dibangun. Saatnya melangkah lebih berani.



