“Diribut runduklah padi
Dicupak datuk Temenggung
Hidup kalau tidak berbudi
Duduk tegak kemari canggung
Tegak rumah karena sendi
Runtuh budi rumah binasa
Sendi bangsa ialah budi
Runtuh budi runtuhlah bangsa.”
Pesan Prof. Dr. Hamka dalam bukunya Lembaga Budi di atas patut kita renungkan melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Pasalnya, di media banyak bermunculan pejabat negara maupun masyarakat yang tidak menunjukkan budi pekerti yang baik.
Dalam tulisan ini, penulis membatasi cakupan bahasan dalam lingkup pemerintah mengingat esai ini ditujukan bagi pegawai di KPPN Tolitoli selaku pegawai pemerintah. Selain itu terdapat nasihat Iwan Fals dalam Manusia Setengah Dewa kepada penyelenggara pemerintahan, “Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau.”
***
Etika, menurut KBBI, diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Etika bersifat universal sehingga dapat dimiliki oleh setiap individu tanpa memandang status sosial. Baik itu kepala kantor, kepala subbagian/seksi, pejabat fungsional, pelaksana, maupun tenaga outsourcing, masing-masing memiliki potensi untuk memiliki etika dan tidak memiliki etika.
Dalam birokrasi pemerintah, kekuasaan dan kehormatan diberikan pada jabatan tertinggi suatu organisasi. Hal ini tercermin dalam sambutan “Yang terhormat”, “Yang kami hormati”, dan sebagainya serta fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada pejabat dari level tertinggi dan seterusnya ke bawah. Keterikatan kedua hal tersebut diberikan karena semakin tinggi jabatan individu, semakin besar tanggung jawabnya dalam memberikan keteladanan etika kepada bawahan yang dipimpinnya. Idealnya individu pemegang jabatan tertinggi adalah individu yang paling beretika.
Namun, pada praktiknya banyak ditemukan pejabat yang tidak menunjukkan etika yang baik (diperhalus dari istilah tidak beretika). Hal ini sangat mungkin terjadi karena sejatinya kekuasaan dan kehormatan adalah hal yang berbeda. Kekuasaan, menurut KBBI, adalah kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuasaan fisik. Kekuasaan dapat dipaksakan sedangkan kehormatan adalah sesuatu yang diperoleh dari penerapan nilai-nilai yang bersifat universal yang dihormati bersama.
Apa jadinya jika pejabat tidak menunjukkan etika yang baik? “Runtuh budi runtuhlah bangsa.” Jika pejabat tidak menunjukkan etika yang baik, kepercayaan bawahan turun dan bisa hilang yang dapat menyebabkan terhambatnya komunikasi. Dengan komunikasi yang buruk, organisasi tidak dapat berjalan dengan optimal. Dalam konteks inilah etika kepemimpinan menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa pemimpin dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, serta menjaga kepercayaan dari bawahan.
Etika kepemimpinan merupakan konsep yang mencakup prinsip moral dan nilai-nilai yang harus diterapkan oleh pemimpin saat memimpin tim atau organisasi. Etika kepemimpinan, menurut Zaedun Na’im (2022), disebut juga kepemimpinan etis, yang memiliki arti kepemimpinan yang mendemonstrasikan perilaku yang secara normatif tepat melalui tindakan-tindakan personal dan hubungan interpersonal, dan promosi perbuatan seperti itu kepada para pengikut melalui komunikasi dua arah, penguatan, dan pembuatan keputusan.
Ciri-ciri pemimpin yang beretika menurut Zaedun Na’im (2022) yaitu:
- Dapat dipercaya. Seorang pemimpin harus dapat dipercaya oleh para pengikutnya. Ia seorang yang jujur berupa menyatukan antara apa yang dikatakan, dijanjikan dengan apa yang dilakukannya. Ia berupaya memenuhi apa yang dijanjikan dan tidak berupaya menipu orang lain. Ia mempunyai integritas tinggi dan loyal kepada visi, misi dan tujuan organisasinya.
- Menghargai dan menghormati orang lain. Pemimpin harus memperlakukan para pengikut dengan baik seperti ia ingin diperlakukan pengikutnya dan orang lain. Ia harus memahami dan menghargai bahwa setiap orang mempunyai perbedaan-perbedaan jenis kelamin, umur, perbedaan budaya, perbedaan pendidikan dan pengalaman.
- Bertanggung jawab. Pemimpin harus mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugasnya dan perannya dalam organisasi untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi. Ia bertanggungjawab atas perbuatannya, mengayomi dan mengembangkan para pengikutnya.
- Adil. Seorang pemimpin harus adil dalam melaksanakan peraturan tidak mengambil keuntungan untuk diri sendiri, keluarganya dan kroninya.
- Kewargaan organisasi (organizational citizenship). Pemimpin melaksanakan tugas untuk membuat kehidupan lebih baik, melindungi lingkungan, melaksanakan tugasnya sesuai dengan undang-undang dan peraturan dan menerapkan prinsip-prinsip dasar organisasi.
- Menggunakan kekuasaan secara bijak. Pemimpin mempunyai berbagai jenis kekuasaan yang dapat dipergunakannya untuk mempengaruhi para pengikutnya dan orang lain yang berhubungan dengan organisasinya.
- Pemimpin harus memegang prinsip kejujuran; ia harus jujur kepada dirinya sendiri, kepada para pengikutnya dan kepada orang yang berhubungan dengan organisasinya.
***
Etika kepemimpinan yang baik adalah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif. (msh)
Referensi:
Prof. Dr. Hamka (2001). Lembaga Budi. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Zaedun Na’im (2022). Etika Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam dan Korelasinya Terhadap Kinerja. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. ISSN (P): 2580-3387, ISSN (E): 2615-2886. http://doi.org/10.32478/evaluasi. v6i1.972
Retno Ginanjar, S.E., M.Pd., M.M. (2024). WIMAPEDIA : MENJADI PEMIMPIN BERINTEGRITAS; Etika dalam Era Kemerdekaan Modern https://widyamanggala.ac.id/berita-20082401/#:~:text=Etika%20kepemimpinan%20merupakan%20konsep%20yang,kejujuran%2C%20keadilan%2C%20dan%20empati.
Etika Kepemimpinan: Landasan Penting dalam Menginspirasi dan Membimbing Anggota Anda https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/etika-kepemimpinan/
By Dr. Joseph Teguh Santoso, M.Kom. (2021). Apa Itu Etika Dalam Kepemimpinan? https://stekom.ac.id/artikel/apa-itu-etika-dalam-kepemimpinan
By Dr. Joseph Teguh Santoso, M.Kom. (2021) 5 Prinsip Etika Kepemimpinan https://stekom.ac.id/artikel/5-prinsip-etika-kepemimpinan


