Di banyak ruang kerja, kata integritas kerap dipasang besar-besar di dinding kantor. Ia hadir dalam visi, misi, bahkan menjadi jargon yang diulang dalam berbagai forum resmi. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah integritas benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari?

Budaya integritas tidak lahir dari spanduk atau seremonial. Ia tumbuh dari keteladanan. Dan di titik inilah peran pimpinan menjadi sangat menentukan.

Seorang pimpinan bukan hanya pengambil keputusan. Ia adalah kompas moral organisasi. Apa yang ia lakukan, bagaimana ia bersikap, cara ia merespons masalah - semuanya diamati, ditiru, bahkan dijadikan standar oleh bawahan. Integritas, pada akhirnya, bukan soal apa yang diucapkan seorang pemimpin, melainkan apa yang ia lakukan ketika tidak ada yang melihat.

Integritas yang Terlihat dalam Tindakan

Dalam praktiknya, integritas sering diuji pada momen-momen kecil yang tampak sepele. Ketika seorang pimpinan menolak fasilitas yang tidak semestinya. Ketika ia berani berkata "tidak" pada tekanan yang melenceng dari aturan. Ketika ia konsisten menegakkan disiplin, bukan hanya kepada bawahan, tetapi juga kepada dirinya sendiri.

Di situlah integritas menemukan maknanya yang konkret.

Pimpinan yang berintegritas tidak sekadar mengingatkan pentingnya kejujuran, tetapi memastikan setiap kebijakan yang diambil sejalan dengan prinsip etika. Ia tidak bermain di wilayah abu-abu demi kenyamanan sesaat. Ia memahami bahwa kredibilitas organisasi dibangun dari konsistensi antara kata dan perbuatan.

Sikap seperti ini memberi pesan yang sangat kuat kepada seluruh anggota organisasi: bahwa keberhasilan tidak harus ditempuh dengan jalan pintas.

Kepercayaan, Fondasi yang Tak Tergantikan

Integritas melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam kepemimpinan.

Ketika bawahan percaya kepada pemimpinnya, komunikasi menjadi lebih terbuka. Kritik dapat disampaikan tanpa rasa takut. Masukan diterima tanpa prasangka. Kesalahan tidak ditutupi, tetapi dijadikan pelajaran bersama.

Sebaliknya, ketika integritas pimpinan diragukan, maka retaklah fondasi organisasi. Kecurigaan tumbuh. Instruksi dipatuhi karena takut, bukan karena hormat. Kolaborasi berjalan setengah hati.

Kepercayaan tidak bisa dibangun secara instan. Ia lahir dari konsistensi jangka panjang. Dari keputusan-keputusan yang adil. Dari keberanian mengambil tanggung jawab ketika terjadi kekeliruan. Dari kesediaan mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam.

Di sinilah pimpinan sebagai role model memainkan peran sentral. Ia bukan sekadar simbol, tetapi sumber energi moral bagi seluruh organisasi. 

Menciptakan Lingkungan Kerja yang Aman dan Transparan

Budaya integritas yang kuat akan melahirkan lingkungan kerja yang sehat. Di lingkungan seperti ini, transparansi bukan ancaman, melainkan kebutuhan. Setiap proses dapat dipertanggungjawabkan. Setiap kebijakan dapat dijelaskan.

Pimpinan yang menjadi teladan akan membuka ruang dialog. Ia mendorong budaya pelaporan yang aman terhadap pelanggaran. Ia memastikan tidak ada intimidasi bagi mereka yang bersuara demi kebenaran.

Langkah ini penting. Sebab, tanpa keberanian untuk terbuka, integritas hanya menjadi slogan kosong.

Lingkungan kerja yang berintegritas juga menumbuhkan rasa memiliki. Pegawai merasa dihargai karena diperlakukan secara adil. Mereka terdorong untuk bekerja bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi karena percaya pada nilai yang diperjuangkan bersama.

Ketika integritas menjadi budaya, pengawasan tidak lagi terasa sebagai tekanan. Ia berubah menjadi kesadaran kolektif.

Tantangan di Era Persaingan dan Transparansi Publik

Di tengah era persaingan yang semakin ketat dan tuntutan transparansi publik yang tinggi, integritas bukan lagi pilihan tambahan. Ia menjadi syarat utama keberlanjutan organisasi.

Reputasi dapat runtuh hanya karena satu keputusan yang tidak etis. Kepercayaan publik bisa hilang dalam hitungan hari. Di sisi lain, organisasi yang konsisten menjaga integritas akan memperoleh legitimasi yang kuat dari masyarakat.

Pimpinan memegang kunci di titik ini. Ia menentukan arah budaya organisasi. Apakah budaya itu akan dibangun di atas nilai kejujuran dan tanggung jawab, atau justru terjebak dalam pragmatisme jangka pendek.

Kepemimpinan yang berintegritas juga berdampak pada daya saing. Investor, mitra kerja, dan masyarakat cenderung menaruh kepercayaan pada organisasi yang dipimpin oleh figur-figur yang kredibel. Integritas menjadi modal sosial yang tidak ternilai.

Integritas Dimulai dari Diri Sendiri

Menjadi role model bukan perkara mudah. Ia menuntut konsistensi. Ia menuntut keberanian. Bahkan, sering kali ia menuntut pengorbanan.

Namun, di situlah letak kehormatan seorang pemimpin.

Pimpinan yang berintegritas memahami bahwa setiap tindakannya mengirim pesan. Ia sadar bahwa ketidaksesuaian kecil sekalipun dapat merusak pesan besar yang selama ini dibangun. Karena itu, ia menjaga perilaku, tutur kata, dan keputusan agar tetap sejalan dengan nilai yang diyakini.

Integritas bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang kesungguhan untuk tetap berada di jalur yang benar meski menghadapi tekanan.

Ketika seorang pimpinan mampu menunjukkan hal itu secara konsisten, maka budaya integritas tidak lagi membutuhkan banyak kampanye. Ia akan tumbuh secara alami, menyebar dari satu individu ke individu lain, hingga akhirnya menjadi karakter organisasi.

Dari Keteladanan Menuju Keberlanjutan

Pada akhirnya, organisasi yang kuat bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling dipercaya. Dan kepercayaan dibangun dari integritas.

Peran pimpinan sebagai role model menjadi fondasi utama dalam penguatan budaya tersebut. Dengan keteladanan yang nyata, ia membentuk lingkungan kerja yang etis, transparan, dan akuntabel. Ia menanamkan keyakinan bahwa keberhasilan sejati tidak pernah bertentangan dengan nilai kebenaran.

Budaya integritas bukan proyek jangka pendek. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari diri seorang pemimpin.

Ketika pimpinan berani berdiri tegak menjaga prinsip, maka organisasi akan berjalan dengan kepala terangkat. Dan di situlah integritas tidak lagi sekadar kata, melainkan napas yang menghidupi seluruh gerak organisasi.

 

Disclaimer : Tulisan diatas adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat organisasi

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

KPPN Watampone
Jl. K.H. Agus Salim No.7, Macege, Tanete Riattang Barat, Watampone, Sulawesi Selatan 92732

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

   

 

Search