Pesan Singkat dari Lembah Baliem


“Ayah kapan pulang? Kakak sudah hafal juz 30 lho.”
Suara mungil dari ujung telepon malam itu menghunjam hatinya. Pertanyaan semacam itu sudah sering ia dengar. Namun, kali ini rasanya berbeda. Kerinduan, kerisauan, dan kesedihan bertumpuk jadi satu. Sepuluh purnama sudah ia tak bisa mencium kening kedua buah hatinya. Rentang masa terlama yang pernah ia lewati tanpa pelukan hangat keluarga. Semua rasa mengkristal menjadi butiran rasa bersalah. Kian lama kian besar. Rasanya menyesakkan dada.


“Maafkan Ayah, Nak” gumamnya lirih.
Keesokan hari selepas percakapan itu, ia termenung. Sorot matanya kosong menatap pagi yang cerah. Di balik jendela, Pegunungan Jayawijaya berdiri gagah mengapit Lembah Baliem. Embun masih bergelayut manja di dedaunan, berselimut dinginnya pagi. Tempat ini memang terkenal sejuk, tak jarang pula dingin menusuk. Wajar saja, Wamena terletak di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.


Pagi itu, pikirannya tiba-tiba melayang kembali ke satu masa. Medio 2017, untuk pertama kalinya ia injakan kaki di Bumi Cendrawasih. Garis awal perjuangan di belahan timur Indonesia itu dimulai. Dari satu tempat yang indah di ujung negeri, asa itu mulai ia jaga. Lambaian tangan perpisahan di Bandara Adi Sutjipto malam itu memberatkan langkahnya. Doa, harapan, dan semangat dari orang-orang terdekatnyalah yang meringankannya.


Hari, pekan, bulan, dan tahun berganti. Ini adalah tahun keempatnya mengabdi di pedalaman Papua. Banyak cerita terjadi. Sebagian disimpan sebagai kenangan, sisanya dibuang sebagai pelajaran. Seperti lakon sandiwara, kadang memancing tawa, kadang pula memeras air mata. Di satu hari menguras emosi, di hari lain menuntut berbesar hati.
Keterbatasan akses dan fasilitas adalah masalah klasik yang ia hadapi sejak lama. Menurutnya, layanan komunikasi, jaminan pasokan listrik, serta akses transportasi adalah infrastruktur penting yang harus ditingkatkan kualitasnya. Perlu upaya luar biasa agar bisa berdiri sejajar dengan daerah lain. Keterbatasan ini tentu berimplikasi pada kualitas layanan yang diberikan kepada publik, sesuatu yang menjadi tugas utamanya selama ini.


Kualitas jaringan telekomunikasi sangat vital untuk menjalankan seluruh pekerjaan yang berbasis digital. Prosedur dan mekanisme pekerjaan saat ini membutuhkan fasilitas komunikasi yang prima. Sayangnya, ia tak mendapati itu di awal-awal penugasannya. Proses transformasi berbasis digital yang berjalan cepat dalam organisasi seringkali sulit diimbangi. Tak jarang, ia perlu waktu berjam-jam hanya untuk mengunduh peraturan-peraturan terbaru. Jangan tanya berapa masa yang dihabiskan jika harus mengunduh file aplikasi berukuran besar. Beruntung, enam bulan terakhir ini kondisi berangsur membaik. Perbaikan layanan komunikasi dan penggunaan fasilitas baru membuatnya bekerja lebih nyaman.


Kesulitan dan keterbatasan akses transportasi merupakan tantangan berikutnya. Tak ada opsi lain untuk mencapai Wamena selain lewat udara. Kondisi geografis dan tantangan alam yang luar biasa seringkali tak bisa dilawan. Penundaan, bahkan pembatalan penerbangan bukan lagi hal aneh. Dampaknya tentu pada tertundanya aktivitas warga. Tak terkecuali dirinya. Kondisi semacam inilah yang memaksanya memendam rindu sekian purnama hanya untuk memeluk orang-orang terkasihnya. Ia tak bisa pulang sesering yang ia mau. Pun saat ia bisa pulang, jika dihitung-hitung “cicilan” pesawatnya mungkin sudah cukup untuk membeli mobil bekas keluaran Jepang.


Tantangan yang dihadapinya di Wamena luar biasa. Faktor kondisi keamanan merupakan salah satunya. Publik mencatat peristiwa kelam 23 September 2019. Besarnya eskalasi konflik membuatnya harus meninggalkan Wamena. Bersama rekan-rekannya ia terpaksa mengungsi untuk beberapa lama di Jayapura. Selepas itu, kondisi memang membaik. Namun, dibanding daerah lain, tetap saja tak lebih baik. Beberapa peristiwa yang mengiris nurani kemanusiaannya tetap saja terjadi.


Perjuangan bertambah berat saat ujian pandemi datang di triwulan awal 2020. Kerinduan tak bisa dilepaskan untuk masa yang lama. Di sisi lain, tuntutan pekerjaan pun tak juga berkurang. Justru di masa-masa pandemi ini kehadiran pemerintah sangat diharapakan publik. Berbagai penugasan khusus di masa pandemi datang silih berganti. Beberapa pekerjaan yang biasanya dilakukan manual dan bertemu secara fisik, tak bisa lagi dilakukan. Semua beralih menjadi daring. Untuk daerah lain, perubahan pola kerja seperti itu mungkin bukan masalah besar, tapi Wamena berbeda. Energi, stamina, kondisi psikologis memang terkuras. Secara manusiawi, ia sempat bercerita tentang kegudahannya. Hebatnya, ia menolak menyerah.


Kemampuan konspetual dan kecakapan teknis memang sangat diperlukan siapa pun, dimana pun. Namun, itu saja tak cukup. Kekuatan mental justru aspek lain yang sangat penting dimiliki untuk sekadar bisa bertahan di Wamena. Sentuhan tepat pada sisi psikologis pegawai sepertinya menjadi hal wajib. Dosisnya mungkin bisa berkali lipat dari daerah lain. Kondisi ini bertambah berat saat pandemi datang. Pegawai lain tak sekadar rekan kerja, tetapi keluarga yang saling mendukung dan menguatkan.


Pengabdiannya bersama rekan lainnya lebih dari tiga warsa layak untuk dibanggakan. Perbaikan internal dan layanan begitu banyak dilakukan. Perjuangannya membuahkan hasil. Apresiasi datang silih berganti, dari level regional hingga nasional. Tuhan tidak tidur, kuasa-Nya selalu hadir bagi orang-orang yang mau berusaha.


Persis sebuah drama, ada awal, maka ada akhir. Perjuangannya di Pegunungan Tengah Jayawijaya tuntas di pertengahan Oktober. Sesuatu yang ditunggu-tunggu hadir tepat di titik puncak kerinduannya. Ia harus meninggalkan Sungai Baliem untuk berjumpa Sungai Paguyaman. Petang itu ia larut dalam berjuta rasa. Syukur kepada Tuhannya bercampur lintasan kenangan dari kota yang akan ia tinggalkan.
------------------------------------
Malam itu, 9 Oktober 2020, aku menyapa dan memberikannya tahniah. Sempat aku bertanya kepadanya, “Apa rahasiamu sanggup bertahan dan sukses di sana, kawan?” Lama kutunggu jawabnya. Mungkin, ratusan pesan masuk ke gawainya malam itu. Esok pagi baru kubaca balasannya. “Ikhlas, mengabdi, dan prestasi”. Pesan singkat dari Lembah Baliem itu memberikan pembuktian. Memberi yang terbaik bagi negeri memang tak harus dibatasi kondisi geografi.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan
organisasi.

Nama : Deni Herdianto
Unit Kerja : Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur

 

Copyright ©2024 ASEAN Treasury Forum - All Rights Reserved By DJPb.



Search