
Denpasar, 27 Oktober 2025 – Sampai penghujung triwulan III 2025, kondisi ekonomi Bali ditunjukkan dengan tingkat inflasi yang cukup stabil, tercatat 2,51% yoy pada September 2025, dalam rentang target 2,5±1%. Dari sisi kesejahteraan masyarakat, ditinjau dari indikator Nilai Tukar Petani (NTP), terdapat penurunan nilai NTP 2,74 poin mtm menjadi 99,44 pada bulan September 2022. Ditinjau dari sisi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Bali, terdapat peningkatan sebesar 17,16% secara yoy menjadi sebesar 4,66 juta kunjungan sampai akhir Agustus 2025.
Kinerja Pelaksanaan APBN Regional Bali hingga September 2025
Berdasarkan data I-Account APBN Provinsi Bali s.d. 30 September 2025 menunjukkan nilai kinerja yang baik dengan surplus sebesar Rp584,75 miliar. Nilai ini didukung dari data realisasi Pendapatan dan Hibah sebesar Rp16,23 triliun, yang tumbuh 7,27% yoy. Adapun seluruh pendapatan ini digunakan untuk membiayai komponen Belanja Negara sebesar Rp15,65 triliun yang terkontraksi 11,53% yoy.
Pendapatan dan Hibah terdiri dari tiga komponen besar yaitu penerimaan perpajakan sebesar Rp11,64 triliun, kepabeanan dan cukai sebesar Rp1,01 triliun dan PNBP sebesar Rp3,59 triliun. Seluruh komponen mengalami pertumbuhan apabila dibandingkan tahun sebelumnya kecuali PNBP yang terkontraksi sebesar -3,84% yoy. Meskipun demikian, realisasi PNBP memiliki capaian tertinggi sebesar 92,01% dari target. Penerimaan perpajakan secara garis besar disumbangkan oleh Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp8,03 triliun. Berdasarkan sektor usahanya, penerimaan perpajakan didominasi dari sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar Rp2,23 triliun. Selanjutnya komponen kepabeanan dan cukai berasal dari penerimaan cukai MMEA 87,59%, BM 10,78% dan Cukai HT 1,12%. Dari sisi PNBP, pendapatan yang berasal dari BLU meningkat sebesar 1,77% yoy sedangkan PNBP lainnya terkontraksi 7,49% yoy meskipun secara nominal lebih besar.
Belanja Negara di Provinsi Bali masih didominasi oleh Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp9,24 triliun yang terkontraksi -1,31% yoy. Realisasi tertinggi secara nominal berasal dari penyaluran DAU sebesar Rp5,96 triliun yang terkontraksi -3,35% yoy, kemudian disusul oleh DAK Non Fisik sebesar Rp1,82 triliun yang turun -2,02% yoy. Komponen lainnya yang terkontraksi paling dalam adalah DAK Fisik sebesar -52,77% yoy atau terealisasi sebesar Rp117,25 miliar. Adapun komponen Dana Desa tumbuh sebesar 7,39% yoy dengan penyaluran sebesar Rp661,33 miliar atau 99,12% dari pagu. Kemudian disusul oleh Insentif Daerah sebesar RP221,85 miliar. Pertumbuhan tertinggi pada komponen Transfer ke Darah terdapat pada DBH yang meningkat 76,83% yoy dengan penyaluran sebesar Rp455,48 miliar.
Komponen pengeluaran lainnya adalah Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp6,41 triliun, yang terkontraksi -23,03% yoy. Adapun komponen terbesar adalah Belanja Pegawai sebesar Rp6,41 triliun yang meningkat 5,89% yoy. Kemudian disusul Belanja Barang yang terkontraksi -28,77%yoy dengan realisasi sebesar Rp2,36 triliun, Belanja Modal sebesar Rp367,77 miliar yang terkontraksi -75,96% yoy; serta terakhir Belanja Bansos turun -22,28% yoy dengan realisasi sebesar Rp17,97 miliar.
Kinerja Pelaksanaan APBD Regional Bali hingga September 2025
Sampai dengan 30 September 2025, APBD Provinsi Bali menunjukkan kinerja positif dengan perolehan kondisi surplus sebesar Rp3,71 triliun. Kinerja ini didukung oleh komponen Pendapatan Daerah sebesar Rp22,44 triliun yang tumbuh 14,63% yoy dan Belanja Daerah sebesar Rp18,73 triliun yang terkontraksi 0,07% yoy.
Porsi terbesar pendapatan daerah di Provinsi Bali masih disumbang oleh PAD sebesar 60,38% atau Rp13,55 triliun, yang tumbuh 18,66% yoy. Komponen realisasi tertinggi adalah Pajak Daerah sebesar Rp10,47 triliun, sedangkan nilai pertumbuhan tertinggi terdapat pada Retribusi Daerah sebesar 297,92% yoy dengan capaian Rp1,62 triliun. Komponen PAD yang mengalami kontraksi hanya Lain-Lain PAD yang Sah sebesar 41,57% yoy dengan realisasi mencapai Rp736,98 miliar.
Dari sisi belanja daerah, porsi terbesar disumbang oleh Belanja Operasi sebesar 74,97% atau Rp14,04 triliun yang tumbuh 1,82% yoy. Dua dari enam komponen mengalami kontraksi yaitu Belanja Subsidi sebesar Rp2,09 miliar (turun -55,24% yoy) serta Belanja Hibah sebesar Rp1,56 triliun (terkontraksi -45,51% yoy). Realisasi tertinggi disumbangkan oleh Belanja Pegawai sebesar Rp7,96 triliun, tumbuh 12,17% yoy, sedangkan pertumbuhan tertinggi disumbang oleh Belanja Bansos sebesar Rp194,29 miliar dan tumbuh 1.197,21% yoy.
Kinerja Penyaluran Kredit Program Provinsi Bali hingga September 2025
Sampai dengan 30 September 2025, total penyaluran kredit program di Provinsi Bali mencapai Rp8,03 triliun dan terkontraksi -8,19% yoy. Penyaluran ini secara nominal terbesar berada di Kota Denpasar sebesar Rp1,33 triliun kepada 13.790 debitur. Adapun penyaluran kepada debitur terbanyak berada di Kabupaten Buleleng sejumlah 20.104 debitur dengan penyaluran sebesar Rp978,24 miliar.
Berdasarkan skema, penyaluran terbanyak di Provinsi Bali adalah skema mikro sebesar Rp4,92 triliun kepada 90.333 debitur. Angka ini kemudian disusul oleh skema kecil dengan total penyaluran sebesar Rp3,03 triliun kepada 10.393 debitur. Berdasarkan sektornya, penyaluran terbesar terjadi pada Sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 39,53%, kemudian disusul oleh sektor Pertanian, Perburuan dan Kehutanan sebesar 22,33%, Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan Lainnya sebesar 12,65% serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 10,27%.


