
Yogyakarta, 3 Juli 2024 - Kanwil DJPb DIY menggelar “Rapat Asset & Liabilities Committee (ALCo) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pimpinan Unit Eselon I Kementerian Keuangan” pada Selasa (2/7/2024) pukul 09.00 hingga 13.00 WIB di Kanwil DJPb DIY, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperkuat tugas dan fungsi kantor wilayah (Kanwil) DJPb sebagai Regional Chief Economist (RCE) di daerah bersama Kemenkeu Satu.
Rapat tersebut dihadiri secara langsung oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kemenkeu, Parjiono; Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta dan Kepala Kanwil Ditjen Pajak (DJP) DIY, Erna Sulistyowati. Selain itu, rapat ini juga menghadirkan Akademisi UGM, Kun Haribowo, Local Expert dari UGM, Evi Noor Afifah, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY, Yuna Pancawati, Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati serta Bank Indonesia perwakilan DIY yang diwakili oleh Arya Jodi Listyo selaku Kepala Tim Perumus KEKDA.
Selain memperkuat peran RCE, rapat ini juga digelar untuk menggali insight dan aspirasi para pemangku kepentingan daerah dalam meningkatkan perekonomian regional. Selanjutnya, rapat ini pun bertujuan untuk meningkatkan amplifikasi terkait informasi kinerja APBN baik di tingkat pusat maupun daerah.
Rapat ALCo DIY ini dibuka dengan opening speech oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kemenkeu, Parjiono. Lalu dilanjutkan dengan pemaparan hasil kajian ALCo realisasi bulan Mei 2024 oleh Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta serta penyampaian materi oleh Local Expert dari UGM, Evi Noor Afifah.
Dalam opening speech-nya, Parjiono mengingatkan seluruh elemen di pusat maupun regional harus turut mewaspadai efek dari kondisi dunia yang masih serba tidak pasti. Ketidakpastian ini pun sudah merembet hingga negara-negara yang tidak terlibat langsung sebagai sumber ketegangan. Parjiono pun mencontohkan salah satu efeknya untuk Indonesia.
“Indonesia merupakan negara dengan berbagai komoditas ekspor yang saat ini menghadapi kondisi harga yang fluktuasi. Ekspor Indonesia memang dalam kondisi stabil tapi posisinya rendah sehingga masing-masing komoditas mengalami adjustment,” ujar Parjiono.
Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta dalam paparannya menyampaikan kondisi perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta didorong oleh aktivitas domestik dari sektor pendidikan dan pariwisata yang massif. Lalu, masih terdapat tantangan berupa ketimpangan dari sisi ekonomi antara DIY bagian utara dan selatan. Namun, Agung menegaskan DIY berhasil menjadi daerah dengan tingkat inflasi terendah di Pulau Jawa.
“Yogyakarta masih didominasi oleh sektor pariwisata dan Pendidikan dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang tinggal di Yogyakarta serta kunjungan dari wisata domestik maupun mancanegara. Daya beli masyarakat pada kedua sektor itu mengalami peningkatan sehingga mobilisasi masyarakat menjadi stimulus bagi perekonomian. Tetapi kita memiliki tantangan yaitu ketimpangan antara daerah selatan dan utara yang masih agak berbeda. Namun yang membuat kita bangga adalah pertumbuhan dan inflasi di DIY. Pertumbuhan DIY termasuk salah satu yang tertinggi di Jawa dan tingkat inflasinya rendah di Pulau Jawa,” kata Agung.
Kegiatan Rapat ALCo Regional D.I. Yogyakarta dilaksanakan dalam 2 sesi. Sesi pertama yaitu rapat bersama pimpinan unit eselon I Kementerian Keuangan dan dilanjutkan dengan sesi konferensi pers yang mengundang awak media.




