Gedung Keuangan Negara Semarang I, Jl. Pemuda No.2, Semarang

Press Realease

Kanwil DJPb Provinsi Jawa Tengah

PERKEMBANGAN EKONOMI REGIONAL SERTA KINERJA APBN DAN APBD JAWA TENGAH

HINGGA 31 MEI 2026

 

Perekonomian Jawa Tengah hingga Mei 2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5,89 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan daya tahan ekonomi daerah yang tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan. Stabilitas ekonomi juga terjaga dengan baik, tercermin dari inflasi Mei 2026 yang sebesar 2,85 persen (year-on-year), lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi nasional sebesar 3,08 persen.

Perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat turut mendukung kinerja ekonomi daerah. Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,24 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Tingkat kemiskinan juga menurun menjadi 9,39 persen. Di sisi lain, kualitas pembangunan manusia terus meningkat dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 74,77 atau berada dalam kategori tinggi.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 yang berada pada level 117,0 atau masih dalam zona optimis. Meski demikian, sejumlah faktor risiko tetap perlu diantisipasi, antara lain fluktuasi PMI manufaktur yang berada di sekitar ambang kontraksi serta dinamika harga komoditas yang berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi dan stabilitas harga.

Dari sisi fiskal, kinerja APBN Regional Jawa Tengah hingga akhir Mei 2026 menunjukkan hasil yang positif. Realisasi pendapatan negara mencapai Rp49,18 triliun atau 37,54 persen dari target, tumbuh 11,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan negara tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp22,60 triliun, penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp23,22 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp3,35 triliun.

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp41,94 triliun atau 43,20 persen dari pagu yang telah ditetapkan. Realisasi tersebut terdiri atas belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp14,56 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp27,37 triliun. Belanja negara juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, APBN Regional Jawa Tengah hingga akhir Mei 2026 mencatatkan surplus sebesar Rp7,24 triliun, yang menunjukkan kondisi fiskal tetap sehat dan terjaga.

Kinerja fiskal daerah juga menunjukkan kondisi yang cukup kuat. Pada APBD konsolidasi, realisasi pendapatan daerah mencapai Rp41,09 triliun, sedangkan belanja daerah terealisasi sebesar Rp29,55 triliun. Dengan demikian, APBD konsolidasi mencatatkan surplus sebesar Rp11,54 triliun. Kondisi ini menunjukkan masih tersedianya ruang fiskal yang memadai untuk mendorong percepatan belanja pada periode berikutnya, khususnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Pemerintah juga terus memperkuat dukungan terhadap sektor UMKM melalui berbagai skema pembiayaan. Hingga Mei 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Tengah mencapai Rp21,53 triliun kepada 391.584 debitur atau tumbuh 16,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) mencapai Rp781,38 miliar kepada 114.078 debitur dan tumbuh sangat signifikan sebesar 143,24 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus menjaga ketahanan sektor UMKM sebagai salah satu fondasi utama perekonomian daerah.

Berdasarkan pandangan Local Expert Universitas Diponegoro, tekanan ekonomi global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, namun risiko masih relatif tinggi akibat ketidakpastian geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah yang dapat memengaruhi harga energi dan inflasi global. Di tingkat nasional, stabilitas pasar keuangan, termasuk pergerakan nilai tukar dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), masih menjadi aspek yang perlu terus dicermati. Meski demikian, ekonomi domestik tetap menunjukkan ketahanan yang baik dengan dukungan permintaan dalam negeri yang kuat.

Di tingkat regional, Jawa Tengah mencatatkan kinerja yang impresif dengan pertumbuhan ekonomi yang termasuk tertinggi di Pulau Jawa. Selain didorong oleh konsumsi masyarakat, keberadaan kawasan industri dan kawasan ekonomi juga berperan sebagai motor utama penggerak pertumbuhan daerah. Kondisi tersebut menegaskan bahwa fundamental ekonomi Jawa Tengah tetap kuat dan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan masih terjaga meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan global.

Sinergi antara APBN dan APBD hingga Mei 2026 terus berperan sebagai instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Ke depan, pemerintah akan terus mendorong optimalisasi belanja negara, menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Narahubung Media:                                                                                                                        

Mahfud, Kepala Bidang PPA II, Kanwil DJPb Provinsi Jawa Tengah

DJPb – Mengawal Indonesia, Indonesia Maju

Telp. 024-515989; 024-3540815

 

PERKEMBANGAN EKONOMI REGIONAL SERTA KINERJA APBN DAN APBD JAWA TENGAH HINGGA 31 MEI 2026

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Keuangan Negara I, Jl. Pemuda No.2 Semarang, Jawa Tengah 50138
Telepon: (024) 3555852 
Fax: (024) 3544255 dan (024) 3545877

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN