Ternate – Pantai Sulamadaha merupakan salah satu primadona tujuan wisata warga di Kota Ternate. Hampir di setiap akhir pekan, pantai Sulamadaha selalu dibanjiri pengunjung baik yang berasal dari Ternate maupun dari luar kota. Banyaknya pengunjung yang datang memberikan berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM di Sulamadaha yang kebanyakan berjualan pisang goreng dan kelapa muda. Namun, banyak pelaku UMKM yang mengaku tidak dapat mengembangkan usahanya karena persoalan kesulitan modal. Hal tersebut mendorong Ikatan Sarjana Ekonomi Iindonesia (ISEI) Provinsi Maluku Utara bersama Kanwil DJPb Malut dan Pegadaian Cabang Ternate untuk menyelenggarakan Sosialisasi UMi kepada pelaku UMKM di Sulamadaha, Senin (12/11).
Ketua Harian ISEI Malut, Mukhtar Adam, menyatakan bahwa mayoritas peserta yang hadir adalah ibu-ibu penjual pisang goreng dan kelapa muda di kawasan pantai Sulamadaha dan Jikomalamo. “Untuk mengembangkan usahanya, mereka terbentur pada masalah permodalan” terangnya. Menanggapi hal tersebut, Kepala Kanwil DJPb Malut, Edward Nainggolan, yang didaulat menjadi pembicara menyatakan bahwa UMi merupakan program pembiayaan yang tepat untuk membantu akses permodalan para pelaku UMKM. “Selama ini, para pelaku UMKM tidak mendapatkan informasi memadai terkait UMi, sehingga banyak dari mereka yang menggunakan jasa rentenir” ujar Edward. Untuk itu, dirinya meminta agar PT Pegadaian selaku penyalur UMi untuk lebih giat lagi dalam mensosialisasikan UMi khususnya ke kantong-kantong pelaku UMKM di Maluku Utara.
Kepala Pegadaian Cabang Ternate, Isvani Buamona, berjanji pihaknya akan mendukung kesuksesan UMi di Maluku Utara. Dirinya mengakui bahwa sampai dengan saat ini penyaluran UMi di Maluku Utara tergolong rendah. “Sampai dengan awal November 2018 tercatat baru Rp315,9 juta UMi disalurkan kepada 50 nasabah” terangnya. Meski begitu, dirinya mengaku bahwa minat masyarakat terhadap UMi sangat tinggi. “Hanya saja, banyak pengajuan UMi tidak bisa kami setujui karena tidak dipenuhinya persyaratan administrasi oleh pemohon“ lanjutnya.
Dari kalangan akademisi, Dosen Universitas Khairun, Sulfi Abdul Haji, menyampaikan beberapa kiat untuk mengembangkan kawasan wisata. Salah satu gagasan yang dapat ditiru adalah membuat nilai tambah produk yang dijual dengan menawarkan keunikan tersendiri yaitu dengan melakukan inovasi-inovasi atas produk makanan dan minuman yang dijual.
Di akhir kegiatan, Kakanwil DJPb Malut, Edward Nainggolan, berpesan agar persoalan rendahnya penyaluran UMi di Maluku Utara harus diatasi dengan cara-cara yang tidak biasa. “Dari amatan saya, kendala penyaluran terjadi pada persoalan administratif. PT Pegadaian seharusnya dapat memberikan solusi-solusi di lapangan melalui koordinasi dengan Pemerintah Daerah seperti Dinas UKM dan Dinas Dukcapil” jelasnya. Edward juga berharap kepada Pemerintah Daerah dan Akademisi dibantu para mahasiswa, untuk berperan aktif dalam mendampingi pelaku UMKM.



