Kupang, 24 Februari 2026 – Kinerja fiskal regional Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 31 Januari 2026 menunjukkan awal tahun yang terjaga dengan fokus pada penguatan layanan publik dan dukungan ekonomi kerakyatan. Pemerintah terus memastikan agar APBN bekerja secara optimal sebagai instrumen perlindungan sosial dan pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah NTT.
Realisasi Pendapatan Negara dan Capaian Belanja
Pendapatan negara dan hibah di NTT hingga akhir Januari tercatat sebesar Rp217,37 miliar atau 5,68% dari target. Kontribusi utama berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp150,60 miliar serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp66,78 miliar (8,99% target). Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara mencapai Rp3,28 triliun (11,19% dari pagu). Belanja ini mencakup Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp334,99 miliar yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp270,50 miliar dengan capaian 6,19% dari pagu, belanja barang senilai Rp57,43 miliar dengan capaian 1,97% dari pagu, belanja modal sebesar Rp7,11 miliar dengan capaian 0,40% dari pagu, sedangkan belanja sosial belum terdapat realisasi sampai dengan periode akhir Januari 2026.
Penyaluran Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp2,94 triliun atau 15,38% target yang menjadi pengungkit utama fiskal daerah dengan rincian:
- Dana Bagi Hasil (DBH): terealisasi Rp1,32 miliar (1,78% dari alokasi)
- Dana Alokasi Umum (DAU): mencapai Rp2,150,96 triliun (15,63% dari alokasi)
- DAK Non-Fisik: tercatat Rp789,26 miliar (15,70% dari alokasi)
Sedangkan untuk komponen TKD lainnya seperti DAK Fisik dan Dana Desa belum terealisasi sampai akhir periode Januari 2026 karena masih dalam tahap penyiapan dan pemenuhan dokumen syarat salur oleh Pemerintah Daerah.
Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Belanja Tematik
Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk 6 (enam) Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah NTT, yang mencakup sektor Ketahanan Pangan (Rp860,94 miliar), Lumbung Pangan (Rp419,05 miliar), Sekolah
Rakyat (Rp225,08 miliar), Padat Karya (Rp92,33 miliar), Pembangunan 3 Juta Rumah (Rp80,63 miliar), dan Inpres Jalan Daerah (Rp44,44 miliar). Hingga Januari 2026, realisasi fisik dan keuangan PSN masih berada pada tahap persiapan administratif (0%) sejalan dengan siklus awal tahun anggaran.
Sementara itu, realisasi belanja tematik mulai bergerak, antara lain:
- Kesehatan: terealisasi Rp22,19 miliar (5,29% dari pagu).
- Infrastruktur: mencapai Rp27,61 miliar (1,52% dari pagu).
- Pendidikan: terealisasi Rp4,21 miliar (0,62% dari pagu).
- Mitigasi Perubahan Iklim: tercatat sebesar Rp3,41 miliar (2,09% dari pagu).
Perlindungan Sosial dan Dukungan UMKM
Sebagai bentuk kehadiran negara bagi masyarakat rentan, bantuan sosial telah disalurkan sebesar Rp427,74 juta hingga 31 Januari 2026. Penyaluran ini difokuskan pada:
- Permakanan Disabilitas: Rp414,30 juta untuk 639 penerima manfaat. SIARAN PERS
- Permakanan Lansia: Rp13,44 juta bagi 16 penerima manfaat.
- Program lainnya seperti PKH, BPNT, dan BLTS Kesra sedang dalam proses pemenuhan data sasaran untuk penyaluran tahap berikutnya.
Dalam upaya penguatan ekonomi masyarakat, penyaluran kredit program menunjukkan pertumbuhan positif:
- Kredit Usaha Rakyat (KUR): Mencapai Rp223,01 miliar untuk 4.449 debitur. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran menjadi penyerap terbesar (45,27%), dengan Kota Kupang sebagai wilayah penyaluran tertinggi (Rp32,66 miliar).
- Pembiayaan Ultra Mikro (UMi): Telah disalurkan sebesar Rp4,84 miliar kepada 875 debitur. Penyaluran terbesar dilakukan oleh lembaga keuangan BAV (Rp4,21 miliar) dengan jangkauan terluas di Kabupaten Alor (Rp0,52 miliar).
Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah
Secara konsolidasi, realisasi pendapatan daerah NTT mencapai Rp2,25 triliun (8,25% dari target), yang didominasi oleh Dana Transfer sebesar Rp2,14 triliun (share 94,95%). Sinergi APBN dan APBD menghasilkan surplus konsolidasi sebesar Rp1,72 triliun, memberikan ruang fiskal yang sehat bagi pemerintah daerah untuk mengakselerasi pembangunan di sisa tahun 2026.
Kanwil DJPb Provinsi NTT berkomitmen untuk terus mendorong percepatan pemenuhan syarat salur TKDD (khususnya DAK Fisik dan Dana Desa) serta memperkuat koordinasi pengendalian inflasi daerah guna menjaga kesejahteraan masyarakat NTT.