
Pekanbaru, 25 Mei 2026
Perkembangan Perekonomian Riau sampai Akhir Bulan April 2026
- Ketidakpastian global masih membayangi perekonomian regional, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga energi dan komoditas pangan dunia. Bagi Riau mempengaruhi nilai ekspor sektor migas dan CPO serta kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Selain itu, adanya anomali cuaca dan kebakaran hutan dan lahan di lahan gambut serta wilayah Riau berbatasan dengan Selat Malaka rawan terhadap Jaringan Narkoba Internasional, Pekerja Migran dan Pengungsi. Kondisi tersebut menimbulkan risiko fiskal regional Riau saat ini terletak pada kamampuan keuangan daerah untuk mencukupi kebutuhan belanjanya dalam menghadapi risiko yang mungkin terjadi, antara lain kebakaran hutan dan banjir akibat deforestasi, fluktuasi harga bahan pangan dan komoditas, serta idle cash pemda tidak dapat digunakan karena merupakan dana earmark.
- Perekonomian Provinsi Riau pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh sebesar 4,89 persen (y-on-y), meskipun masih berada di bawah pertumbuhan nasional sebesar 5,61 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga sebesar 4,93 persen, PMTB sebesar 9,95 persen, serta meningkatnya ekspor industri pengolahan terutama komoditas CPO dan produk kimia.
- Kontribusi Provinsi Riau terhadap perekonomian nasional mencapai 5,14 persen dan menempatkan Riau sebagai provinsi dengan PDRB terbesar ke-6 secara nasional atau terbesar ke-2 di luar Pulau Jawa.
- Neraca perdagangan Provinsi Riau periode Januari–Maret 2026 masih mencatatkan surplus sebesar US$4,36 miliar. Nilai ekspor mencapai US$5,27 miliar sementara impor tercatat sebesar US$913,01 juta. Namun demikian, volume ekspor mengalami tekanan akibat runtuhnya jembatan penghubung dermaga Pelabuhan Tanjung Buton di Kabupaten Siak yang menyebabkan terganggunya aktivitas ekspor-impor serta peningkatan biaya logistik.
- Pada April 2026, Provinsi Riau mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,17 persen, inflasi y-on-y sebesar 2,37 persen, dan inflasi y-to-d sebesar 0,15 persen. Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga bawang merah, angkutan udara, minyak goreng, ikan segar, dan bensin.
Perkembangan APBN Terkini
- Pendapatan negara sampai dengan akhir April 2026 mencapai Rp8.895,90 miliar atau terkontraksi sebesar 0,80 persen (y-o-y). Penurunan ini dipengaruhi oleh penerimaan Bea dan Cukai yang terkontraksi cukup dalam sebesar 17,11 persen (y-o-y).
- Pendapatan pajak terealisasi sebesar Rp5.210,99 miliar dan tumbuh 11,62 persen (y-o-y). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Lainnya yang masing-masing tumbuh sebesar 13,33 persen dan 217,95 persen (y-o-y). Namun demikian, penerimaan PPN dan PBB masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar 9,69 persen dan 277,22 persen, terutama akibat restitusi PBB.
- Penerimaan Bea dan Cukai terealisasi sebesar Rp3.181,18 miliar atau terkontraksi 17,11 persen (y-o-y), dipengaruhi turunnya penerimaan cukai dan bea keluar masing-masing sebesar 33,22 persen dan 17,94 persen. Meskipun tonase ekspor dan kolom tarif mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya, performa penerimaan bea dan cukai secara keseluruhan masih belum optimal.
- PNBP terealisasi sebesar Rp503,73 miliar atau tumbuh 9,20 persen (y-o-y), ditopang oleh kenaikan PNBP Lainnya sebesar 12,39 persen serta pendapatan Badan Layanan Umum sebesar 4,73 persen.
- Secara umum, penerimaan perpajakan dan kepabeanan masih ditopang oleh sektor sawit. Dengan target penerimaan tahun 2026 yang meningkat signifikan, diperlukan langkah strategis untuk optimalisasi penerimaan negara, pengelolaan restitusi, serta antisipasi kendala implementasi Coretax terutama pada periode pelaporan SPT Tahunan WP Badan yang diperpanjangan hingga 31 Mei 2026.
- Belanja negara mencapai Rp9.368,86 miliar atau tumbuh 12,17 persen (y-o-y). Belanja Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 37,9 persen menjadi Rp2.728,81 miliar, didorong oleh peningkatan belanja pegawai sebesar 37,95 persen, belanja barang sebesar 19,52 persen, dan belanja modal sebesar 299,66 persen.
- Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp6.640,05 miliar atau tumbuh 4,16 persen (y-o-y). Pertumbuhan terutama didorong oleh kenaikan penyaluran Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar 47,23 persen dan DAK Non Fisik sebesar 55,13 persen. Sementara itu Dana Bagi Hasil dan Dana Desa masing-masing mengalami kontraksi sebesar 62,24 persen dan 72,07 persen.
- Sampai dengan akhir April 2026, realisasi APBN Regional Riau mencatatkan defisit sebesar Rp475,92 miliar. Kondisi ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan surplus sebesar Rp615,18 miliar.
Perkembangan APBD Regional Riau Terkini
- Realisasi pendapatan APBD sampai dengan April 2026 mencapai Rp6.550,32 miliar atau sebesar 20,11 persen dari pagu. Pendapatan daerah tumbuh 10,36 persen (y-o-y), terutama didorong oleh peningkatan PAD sebesar 70,05 persen dan Transfer Antar Daerah sebesar 599,47 persen. Sementara Pendapatan Transfer dan LLPDyS masing-masing mengalami kontraksi sebesar 10,88 persen dan 85,96 persen.
- Belanja APBD terealisasi sebesar Rp5.930,97 miliar atau 17,62 persen dari pagu dan masih didominasi oleh belanja operasi dengan porsi 89,09 persen sebesar Rp5.283,64 miliar. Belanja daerah tumbuh 1,43 persen (y-o-y), ditopang pertumbuhan belanja operasi sebesar 2,39 persen dan belanja transfer sebesar 11,19 persen. Sementara itu, belanja modal dan belanja tidak terduga mengalami kontraksi masing-masing sebesar 26,07 persen dan 96,47 persen.
- APBD Regional Riau mencatatkan surplus sebesar Rp619,36 miliar, berbanding terbalik dengan pagu yang direncanakan defisit. Sampai dengan April 2026, pembiayaan daerah tercatat sebesar Rp79,33 miliar. Kondisi surplus ini mengindikasikan masih lambatnya penyerapan belanja daerah, meskipun di sisi lain terjadi peningkatan PAD akibat optimalisasi pendapatan oleh beberapa pemerintah daerah sebagai respons terhadap penurunan alokasi TKD.
Isu Strategis dan Policy Response
- Terdapat beberapa Kabupaten di Provinsi Riau yang mengalami defisit APBD dintaranya Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kepulauan Meranti, Kuansing dan Kabupaten Pelalawan. Berdasarkan data pada SIKRI sampai dengan Bulan April 2026 Kabupaten Rokan Hilir mengalami defisit sebesar Rp109,04 miliar, Kabupaten Rokan Hulu defisit sebesar Rp152,71 miliar, Kabupaten Kepulauan Meranti defisit sebesar Rp72,22 miliar, Kabupaten Kuansing mengalami defisit sebesar Rp44,38 miliar dan Kabupaten Pelalawan defisit sebesar Rp142,43 miliar. Hal ini menyebabkan beberapa pemda terlambat atau memiliki tunda bayar.
- Kanwil DJPb Provinsi Riau melakukan koordinasi dengan Pemda terkait untuk mencari akar permasalahan terkait defisit APBD. Dalam hal defisit disebabkan oleh keterlambatan input data oleh Pemda pada SIKD maka kanwil DJPB Provinsi Riau agar mengirimkan surat kepada Pemda untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pencatatan realisasi anggaran. Dalam hal defisit terjadi karena penurunan Pendapatan Daerah dan meningkatnya belanja, Kanwil DJPb Provinsi Riau berkoordinasi dengan Pemda untuk merumuskan kebijakan akselerasi atau optimalisasi PAD dan mencari alternatif pembiayaan untuk memenuhi belanjanya.





Pekanbaru, 20 Oktober 2025 