
Pekanbaru, 16 Maret 2026
Perkembangan Perekonomian Riau sampai Akhir Bulan Februari 2026
- Dinamika ekonomi Riau sangat dipengaruhi oleh kondisi global yang penuh tantangan. Eskalasi konflik anatar Iran dan Israel-Amerika Serikat di Timur Tengah yang berisiko pada penutupan Selat Hormuz telah memicu fluktuasi harga minyak bumi, yang secara tidak langsung dapat berdampak pada Dana Bagi Hasil (DBH) Riau. Di sisi lain, terdapat angin segar dari kebijakan perdagangan internasional, yakni penandatanganan perjanjian dagang RI-AS dan keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif era Donald Trump, yang berpotensi membuka ruang pasar ekspor yang lebih luas.
- Hingga Triwulan IV 2025, ekonomi Riau tercatat tumbuh 4,94 persen (y-on-y), melambat dibanding triwulan sebelumnya, namun masih jauh lebih baik dari periode yang sama tahun 2024 yang hanya 3,52 persen. Meski demikian, laju pertumbuhan ini belum mampu mengungguli rata-rata nasional yang berada di angka 5,39 persen.
- Ekonomi Riau masih bergantung pada industri pengolahan (30,45 persen), pertanian, kehutanan dan perikanan (27,96 persen), dan pertambangan (15,03 persen) sebagai komponen utama PDRB. Dari sisi pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga yang mendominasi (35,18 persen), disusul oleh Ekspor Luar Negeri (30,65 persen) dan Investasi (PMTB) sebesar 30,04 persen.
- Dengan harga minyak sawit mentah (CPO) yang diprediksi tetap stabil, pertumbuhan ekonomi Riau pada Triwulan I 2026 diperkirakan akan berada di kisaran 4,7 persen hingga 5,2 persen. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 mencapai 191,93 atau naik 1,62 persen, yang merupakan posisi kedua tertinggi di Sumatera berkat tingginya nilai jual kelapa sawit rakyat
- Di sisi lain, inflasi Riau pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,32 persen (m-to-m) atau 5,30 persen (y-on-y), dengan kenaikan harga cabai merah dan emas perhiasan menjadi penyumbang utamanya.
Perkembangan APBN Terkini
- Kinerja pendapatan negara mencapai Rp3.569,04 miliar (12,19% dari pagu), terkontraksi 13,58% secara tahunan (y-on-y). Tantangan utama berasal dari sektor kepabeanan, sementara sektor perpajakan menunjukkan performa yang cukup tangguh
- Realisasi penerimaan pajak bulan Februari 2026 menunjukkan tren positif dengan tumbuh sebesar 13,59 persen atau sebesar Rp2.167,12 miliar dibandingkan tahun 2025 di periode yang sama. Hal ini ditopang dari sektor PPh dan PPN yang masing-masing tumbuh 21,93 persen atau Rp976,10 miliar dan 19,65 persen atau Rp1.236,45 miliar (y-o-y).
- Namun di sisi lain, masih ada penurunan pajak di sektor PBB dan Pajak Lainnya yang di awal tahun ini terkontraksi masing-masing sebesar 1232,69 persen serta 155,04 persen.
- Adapun penerimaan bea cukai mengalami kontraksi yang cukup dalam di awal tahun 2026, tepatnya terkontraksi 44,03 persen (y-o-y) atau senilai Rp1.198,21 miliar. Hal ini dipengaruhi langsung oleh turunnya penerimaan bea keluar dan cukai masing-masing 49,68% dan 44,79%. Penyebab utama penurunan bea keluar karena perubahan kolom tarif HPE CPO yang diterapkan dari kolom 9 di Februari 2025 menjadi kolom 6 di Februari 2026
- Secara umum, penerimaan pajak dan penerimaan bea dan cukai masih ditopang sektor sawit. Melihat target penerimaan pajak dan bea cukai yang meningkat cukup signifikan di tahun ini perlu Langkah strategis untuk meningkatkan penerimaan pajak sehingga target penerimaan negara dapat dicapai. Selain itu, perlu dilakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan restitusi yang masih terjadi seiring volatilitas harga sawit sehingga perlu dan melakukan manajemen restitusi dan mengantisipiasi kendala pada coretax di awal tahun sehingga setiap proses penerimaan dapat berjalan dengan lancar.
- Realisasi Belanja Negara sampai dengan Februari 2026 mencapai Rp4.737,57 miliar (18,02 persen dari pagu), tumbuh 10,79 persen (y-on-y). Fokus utama terletak pada Belanja Pemerintah Pusat yang tumbuh sebesar 40,01 persen, yang terdiri dari:
- Belanja Modal tumbuh cukup tinggi 393,22 persen secara y-o-y sebesar Rp46,09 miliar. Lonjakan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur fisik di Riau.
- Belanja Pegawai tumbuh 33,77 persen secara y-o-y dan Belanja Barang tumbuh 38,36 persen secara y-o-y, mencerminkan akselerasi kegiatan operasional K/L di awal tahun.
- Bantuan Sosial mengalami kontraksi tajam sebesar -89,68 persen secara y-o-y, yang mengindikasikan adanya pergeseran pola penyaluran atau kebijakan penargetan yang lebih selektif.
- Penyaluran TKD mengalami pertumbuhan 5,55 persen secara y-o-y, atau senilai Rp3,827,73 miliar. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Non Fisik tumbuh masing-masing 19,41 persen dan 44,39 persen (y-o-y). Adapun Dana Bagi Hasil terkontraksi 62,26 persen dibandingkan tahun lalu di periode yang sama. Selain itu untuk Dana Desa baru tersalur 0,84 persen dan Dana Alokasi Khusus Fisik belum terealisasi karena belum adanya juknis penyalurannya.
- Hingga akhir Februari 2026 realisasi APBN Regional Riau mencatatkan defisit sebesar Rp1.168,54 miliar.
- Indikator kesejahteraan masyarakat Riau tetap berada pada tren positif, terlihat dari beberapa hal, antara lain:
- Neraca Perdagangan Surplus sebesar US$1.219,81 juta (Januari 2026).
- Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 191,93 mencerminkan daya beli petani yang masih sangat terjaga.
- Tingkat kemiskinan sebesar 6,30% dan Gini Ratio 0,304 menunjukkan distribusi kesejahteraan yang relatif stabil.
Namun, terdapat hambatan logistik serius akibat robohnya trestle dermaga Tanjung Buton. Hal ini memaksa pengalihan arus ekspor ke Dumai, Tembilahan dan Jambi, yang berkontribusi pada penurunan tonase ekspor tercatat di wilayah Riau dan mempengaruhi performa Bea Cukai secara regional Riau.
Perkembangan APBD Regional Riau Terkini
- Realisasi pendapatan APBD sebesar Rp2.234,35 miliar sebesar 6,86% dari pagu. Realisasi Pendapatan APBD terkontraksi 23,26% (y-o-y) disebabkan oleh penurunan pendapatan transfer sebesar 33,16% (y-o-y) dan LLPDyS sebesar 80,45% (y-o-y). Sedangkan PAD tumbuh sebesar 40,41% (y-o-y) dan transfer antar daerah belum terealisasi.
- Belanja APBD terealisasi sebesar 5,03% yaitu Rp1.694,94 miliar masih didominasi oleh belanja operasi dengan porsi (98,57%). Realisasi belanja daerah terkontraksi sebesar 8,06% (y-o-y) yang dipengaruhi penurunan pada seluruh komponen belanja, seperti belanja operasi sebesar 3,45% (y-o-y), belanja modal sebesar 85,27% (y-o-y), belanja tidak terduga sebesar 99,44% (y-o-y)dan belanja transfer sebesar 72,58% (y-o-y).
- APBD Riau mengalami surplus sebesar Rp539,41 miliar, berbanding terbalik dengan pagu yang direncanakan defisit. Sampai dengan Februari 2026, tercatat pembiayaan daerah sebesar Rp46,86 miliar karena penerimaan pembiayaan lebih besar dari pembayaran cicilan pokok utang. Keadaan surplus tersebut mengindikasikan lambatnya penyerapan belanja oleh pemda. Namun atas detail data tersebut berpotensi akan terjadi perubahan karena masih terdapat beberapa pemerintah daerah yang transaksi keuangannya belum tercatat secara memadai dalam database.
Kinerja Kredit Program Pemerintah
- Kredit Program terus bertumbuh di tengah kelesuan belanja daerah, penyaluran kredit program diharapkan menjadi penyelamat bagi para pelaku usaha kecil di Riau. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Februari 2026 mencapai Rp1.839,05 miliar yang disalurkan kepada 20.922 debitur, tumbuh 28,16 persen dibandingkan tahun lalu. Sektor pertanian dan perburuan masih menjadi penyerap KUR terbesar di Riau.
- Sedangkan kabar yang lebih menggembirakan datang dari pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Penyalurannya naik cukup signifikan sebesar 133,62 persen mencapai Rp72,05 miliar yang disalurkan kepada473 debitur. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha terkecil di Riau semakin mudah mendapatkan akses permodalan untuk mengembangkan bisnis mereka.




Pekanbaru, 20 Oktober 2025 