KPPN Khusus Investasi

Toilet, Representasi Negara

            Percaya atau tidak, toilet menjadi standar kualitas hidup orang-orang yang maju. Jepang contohnya, negara yang sangat memuliakan toilet sehingga toilet dibikin senyaman mungkin dengan tingkat kebersihan yang sangat tinggi. Ya, jika ingin melihat kualitas suatu negara, sekolah, rumah, atau kantor, lihatlah kebersihan dan kenyamanan toiletnya.

            Saat pertama datang ke KPPN Tanjung Pandan, saya paling nggak mau masuk toilet kantor. Saat itu, saya langsung berkeinginan, jika sudah ada dananya, toilet harus saya renovasi. Ada beberapa pertimbangan khusus untuk merenovasi toilet selain dari faktor kebersihan dan estetika. Saya menginginkan elemen dari Pengarus Keutamaan Gender (PUG) juga diperhatikan.

            Dalam Pengarus Keutamaan Gender, toilet laki-laki dan perempuan harus dipisah. Dari yang tadinya dua toilet tanpa sekat, saya ubah menjadi dua toilet terpisah. Idealanya kedua toilet tersebut benar-benar terpisah dengan sekat yang tegas. Namun, bila itu dilakukan, mengingat ruangannya hanya berukuran 3,5x4 m, akan menghilangkan estetikanya-karena akan membuat ruangan tampak sempit. Setelah saya pikirkan, akhirnya sekat tersebut diganti dengan pilar-pilar kecil yang tetap berfungsi sebagai pembatas. Unsur lain yang saya tambahkan adalah ring bantu agar dapat memudahkan penyandang disabilitas untuk memakai toilet.

             Sayangnya, saat itu, tidak ada pos anggaran khusus yang tersedia untuk renovasi toilet dengan konsep yang saya inginkan. Akhirnya, setelah berkoordinasi dengan jajaran saya, ada satu pos anggaran yaitu biaya perawatan gedung yang bisa dimanfaatkan untuk memugar toilet tersebut.

             Selain biaya, kami juga berkejaran dengan waktu. Saat itu, target renovasi toilet tersebut hanya 2 minggu. Sebab, ada tim penilai KPT yang akan melakukan penilaian kantor pelayanan terbaik pada awal tahun 2018. Toilet menjadi salah satu unsur penilaian sarana dan prasarana pelayanan publik.

             Sayangnya, target itu tinggal target, karena sampai tim penilai datang, toilet belum selesai. Ada kendala dalam hal tukang. Sampai tiga kali tukang berganti barulah toilet itu jadi. Saya pun harus turun langsung untuk mencari bahan dan menyupervisi tukang yang mengerjakan toilet tersebut. Alasannya sederhana, tukang-tukang di Belitung kebanyakan belum berpengalaman dalam mengerjakan interior yang estetis. Bukan berarti mereka tidak bisa. Sebenarnya mereka bisa, hanya kita perlu membimbing dengan memberi gambar yang detail serta mengawasi perkerjaan mereka dengan baik.

             Total biaya yang digunakan untuk renovasi toilet tersebut sebesar Rp36 juta. Beberapa bahannya harus dibeli dari luar Belitung seperti rumput sintetis yang saya tempel di dinding. Ah, menempelkannya di dinding saja penuh drama karena awalnya sang tukang menolak mampu. Akhirnya setelah saya ajari caranya dengan menggunakan frame, barulah ia paham.

             Sekarang, saya sih merasa nyaman kalau masuk toilet kantor. Ketika masuk, pandangan mata langsung disambut cahaya lampung kekuningan ditambah aroma yang menyeka indra penciuman. Sebuah wastafel lengkap dengan cermin selebar 2 meter pun memaku para pengunjung KPPN. Saya memahami kebutuhan para petugas satuan kerja, terutama perempuan, setelah berkendara dari kantornya ke KPPN, pasti memiliki kebutuhan untuk merapikan diri.

              Lucunya, toilet ini dibicarakan oleh masyarakat. Setiap orang tahu saya dari KPPN Tanjung Pandan, responnya akan mengatakan, “Oh, yang toiletnya bagus kayak di hotel, ya?” Pasalnya, toilet ini pernah secara khusus diliput oleh Bangka Pos. Dimuat pada 16 Desember 2018.

              Cerita toilet tersebut juga menarik perhatian salah satu direktur dari KPK, Giri Suprapdiono, ketika memberi ceramah umum anti korupsi di KPPN Tanjung Pandan. Beliau membuka ceramah dengan kalimat, “Toilet merefleksikan representasi suatu negara. Lihat saja di bandara internasional, toilet seolah-olah menjadi lambang peradaban dan kemakmuran suatu negara. Kantor ini menarik karena telah menerapkan konsep tersebut.”

              Dibicarakan seperti itu adalah bonus. Saya tidak menyangka juga bahwa pentingnya toilet seperti yang saya yakini mungkin saja akan mengedukasi pihak lain. Buat saya, toilet adalah refleksi kehidupan. Percaya atau tidak, di toilet kita lebih banyak beripikir. Sehingga, kadang-kadang ada saja ide atau solusi atas permasalahan yang tengah kita hadapi yang kita temukan saat berada di toilet. Karena itu, jangan sampai toilet kotor apalagi jorok-bisa-bisa yang kita lakukan malah sebaliknya, memisuh-misuhi keadaan.

              Toilet juga adalah tempat kejujuran. Setiap manusia yang masuk ke toilet, tampil apa adanya. Saat kita menunaikan hajat, kita pun jadi manusia dengan niat yang paling tulus. Dengan kata lain, manusia sebenarnya berlatih keikhlasan dari toilet, karena tidak mungkin ‘kan kita menanyakan apa yang sudah kita “berikan” kepada toilet.

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search