KPPN Khusus Investasi

Perjuangan Belum Selesai (mutasi oh mutasi...)

      Anda sudah pernah tinggal di berapa kota? begitu pertanyaan dari facebook yang seolah ditujukan untuk saya. Secara spontan saya ketik kota yang pernah saya tinggali untuk beberapa tahun karena tugas negara yaitu: Jakarta, Parepare, Bekasi, Pangkalpinang, Yogyakarta, Serang, Bogor, Bandar Lampung, Batam. Sebelumnya saya lahir di Brebes, sekolah di Tegal, dan kuliah di Tangerang Selatan. Jadi total kota yang pernah saya tinggali sampai saat ini sudah 12 (dua belas) kota, waow…

Kisah ini berawal ketika saya penempatan diluar Jakarta. Di penghujung tahun 2008 saya mendapat amanah promosi sebagai pejabat eselon IV di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) tentu saja saya merasa bersyukur, senang dan bangga mendapat kesempatan ini. Tetiba ditengah rasa syukur itu terlintas kerepotan yang harus dijalani karena kami sekeluarga akan pindah dari Jakarta  ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebuah provinsi yang belum pernah kami kunjungi, selain melihat keindahannya dari film Laskar Pelangi yang waktu itu box office dan menjadi film Indonesia terbaik.  

      Saat itu kami punya dua anak kecil yang masih duduk dibangku TK A dan TK B, sementara isteri dalam kondisi hamil besar mengandung anak ketiga kami. Hidup memang pilihan, hidup adalah perjuangan, tidak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini. Bagi sebagian PNS berpisah dengan keluarga (antar kota antar provinsi) karena tugas memang hal biasa, tentunya dengan pertimbangan masing-masing, tetapi tidak bagi keluarga kecil kami. Kami memilih untuk tetap bersama walau harus pindah ke tempat yang baru dengan segala risiko yang harus kami hadapi. Prinsip keluarga kami, kita ini satu tim yang harus saling menguatkan, untuk itu kita akan menjalani semua ini bersama.

Hal pertama yang dilakukan sebelum kami berangkat ke tempat baru yaitu menghubungi teman yang sudah terlebih dulu bertugas disana. Setelah mendapat informasi yang cukup tentang kantor, rumah dinas, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas lainnya berangkatlah kami sekeluarga ke Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

      Disinilah perjuangan dimulai, tiba di bandara Depati Amir Pangkalpinang kami dijemput teman, kemudian diantar ke mes untuk istirahat. Diluar dugaan disaat kami terlelap tidur setelah menempuh perjalanan panjang, saya terbangun karena anak pertama kami demam, panas tinggi, hingga step, saat itu kami bingung, panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan, belum tahu dimana rumah sakit terdekat. Tentu saja kami khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak kami, akhirnya ananda minum obat penurun panas, dikompres, dan saya dekap sambil berdo’a memohon kepada Allah agar semua baik-baik saja, alhamdulillah panasnya turun.

Keesokan harinya adalah hari pelantikan dan pengambilan sumpah saya sebagai pejabat baru, agar fokus bekerja, selesai dilantik saya langsung mengajukan cuti untuk mengurus rumah dinas dan sekolah anak-anak. Saya harus memastikan isteri dan anak-anak merasa nyaman, dengan demikian saya juga bisa bekerja dengan tenang, mengingat ini promosi pertama saya.

Ternyata segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang dibayangkan, karena pindahnya tidak bertepatan dengan tahun ajaran baru, sekolah dekat rumah dinas  referensi teman kantor tidak bisa menerima murid pindahan sebab kelas sudah penuh. Akhirnya kami mencari sekolah lain yang ternyata cukup jauh dari rumah dinas, alhamdulillah masih searah dengan kantor sehingga kami masih bisa berangkat sama-sama.

Seminggu pertama sekolah anak-anak masih harus ditemani bundanya, padahal di sekolah yang lama anak-anak sudah bisa ditinggal, sudah mandiri, sekarang mereka harus beradaptasi lagi dengan sekolah baru, teman baru, guru baru, lingkungan baru, termasuk bahasa baru dan budaya baru. Kasihan juga melihat isteri yang sedang hamil besar harus menunggu anak-anak sekolah, tidak tega rasanya.

Alhamdulillah anak-anak cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya sehingga tidak butuh waktu terlalu lama untuk bisa kembali mandiri, terima kasih isteriku, terima kasih anak-anakku, kalian memang luar biasa, ayah sangat bersyukur punya isteri dan anak-anak seperti kalian, terima kasih atas anugerah ini ya Allah…

      Senin, 1 Desember 2008 saya baru saja sampai rumah setelah jemput anak-anak dari sekolah,  tetiba dengan santai isteri bilang “ayah, bunda sudah mules banget nih…” ya sudah kita langsung ke bidan (saat itu di Pangkalpinang belum ada dokter spesialis kandungan wanita)”. Kami sekeluarga ditemani asisten rumah tangga  berangkat ke bidan, anak-anak masih pakai seragam sekolah karena tidak sempat ganti baju.

Sesampainya di bidan isteri langsung ditangani, dan ternyata benar sudah pecah ketuban, anak-anak menunggu diluar ditemani asisten rumah tangga, sementara saya menemani isteri berjuang untuk melahirkan anak ketiga kami, alhamdulillah proses persalinan berjalan lancar, siang itu lahirlah anak ketiga kami seorang bayi perempuan dengan selamat.

Malam itu isteri menginap di bidan ditemani asisten rumah tangga, sementara kami bertiga pulang ke rumah dinas, besok paginya saya ijin tidak masuk kerja, anak-anak juga ijin tidak sekolah. Hari itu saya mengurus dua anak sendiri, menyiapkan pakaian, makan, dan keperluan lainnya.

Yang paling berkesan ketika membuat telor dadar tapi agak gosong, si sulung memang anaknya tidak banyak protes, jadi walau telornya agak gosong tetap dimakan dan habis, beda dengan  anak kedua kami yang cukup ekspresif, “telor dadar bikinan ayah enak deh walaupun gosong”. Bahkan sampai saat ini dia masih sangat    terkesan dengan telor dadar gosong buatan ayah, kamu memang paling bisa menghibur ayah nak…

      Tidak terasa sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran kami tinggal di Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke 40 pada bulan Oktober 2010 kembali saya mendapat SK Mutasi ke Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ini adalah kado terindah karena mutasi ke tempat favorit, sesuai dengan keinginan, alhamdulillah wa syukurillah…

Puteri kami yang lahir di Pangkalpinang kini memasuki usia dua tahun. Saat itu anak-anak sudah mulai nyaman, sudah mulai menyatu dengan lingkungan, bahkan sudah bisa bahasa daerah setempat, punya prestasi di sekolah dan mendapat bea siswa melalui jalur prestasi.

Sebelum berangkat ke Yogyakarta kami berlibur ke pulau Belitung di kota Tanjung Pandan tempat shooting film Laskar Pelangi. Setelah anak-anak baca novelnya, kemudian menonton filmnya, untuk melengkapi kami mengajak mereka melihat langsung apa yang sudah mereka baca dan tonton, dan benar anak-anak terinspirasi dengan perjuangan anak-anak laskar pelangi.

      Di Yogyakarta yang terkenal dengan sebutan kota pelajar anak-anak kembali harus berjuang beradaptasi di sekolah yang baru, teman baru, guru baru, lingkungan baru, bahasa baru, dan budaya baru. Hari pertama di sekolah baru anak kedua kami pulang sekolah menangis, ketika ditanya, kenapa?, jawabnya “aku nggak ngerti bahasanya”.

Di Yogyakarta memang ada pelajaran muatan lokal, bahasa jawa, teman-teman juga menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa sehari-hari, walau kedua orang tua keturunan jawa (ayah jawa, bunda jawa sunda) tapi dirumah tidak menggunakan bahasa jawa, sehingga anak-anak tidak bisa bahasa jawa.

Terus terang sebagai orang tua kami merasa kasihan, kenapa anak-anak harus ikut menanggung beban ini, sampai prestasi mereka juga turun. Alhamdulillah berkat dukungan dan kesabaran kami serta pengertian dan semangat anak-anak, dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah bisa beradaptasi dan kembali berprestasi.

      Waktu berjalan begitu cepatnya, rasanya baru kemarin kami lalui semua ini bersama, saat ini saya bertugas di Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Lampung, setelah dua tahun sebelumnya di Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Dinas di Lampung adalah pengalaman pertama bagi saya bertugas tanpa didampingi keluarga, saya harus pergi pulang Bandar Lampung Jakarta tiap pekan, yang tentu butuh perjuangan tersendiri, anak isteri juga harus mulai belajar mandiri  tanpa didampingi ayah/suami.

      Perjuangan berat dimulai sejak pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia,  dimulai dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tanggal 17 April 2020, kemudian Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, lalu diganti lagi menjadi PPKM Mikro pada Februari 2021 yang berulang kali diperpanjang.

Medio Juni 2021 Presiden Jokowi memutuskan untuk mengambil pengetatan PPKM Mikro, namun kasus Covid-19 terus naik. Selanjutnya Presiden menetapkan PPKM Darurat pada 3-20 Juli di Jawa-Bali, dan 12-20 Juli di luar Jawa-Bali. Kemudian diperpanjang dengan istilah baru PPKM Level 4 pada 20-25 Juli 2021. Pada 7 September 2021, pemerintah memberlakukan PPKM berbasis Level 4, 3, dan 2, 1 di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali.

Sampai pada akhirnya Covid-19 dinyatakan hilang tetapi kita harus tetap waspada dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Tidak ada angin tidak ada hujan, tetiba ditengah-tengah perasaan yang begitu menyenangkan, karena kehidupan sudah mulai berangsur normal, kembali kami dikejutkan dengan SK Mutasi pejabat eselon IV keenam, kali ini saya mutasi ke KPPN Batam. Ini adalah mutasi tercepat saya karena setahun kemudian saya kembali ke Jakarta, tepatnya di KPPN Khusus Investasi, entah untuk berapa lama…

      Tidak terasa anak-anak sudah mulai besar, anak pertama sudah semester tujuh dan saat ini sedang menyusun skripsi, anak kedua semester tiga, dan puteri kecil kami yang lahir di Pangkalpinang sekarang sudah kelas 1 SMA.  Bersyukur, senang, bangga bisa melewati semua ini bersama-sama, karena sebagai orang tua kami tidak tahu sampai kapan bisa bersama kalian...

Terakhir yang akan selalu dikenang keluarga besar Kementerian Keuangan adalah musibah kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Pada tanggal 29 Oktober 2018 tepat sehari sebelum peringatan Hari Oeang Republik Indonesia yang ke-73.

Kementerian Keuangan berduka atas insiden ini, dalam penerbangan tersebut terdapat 21 pegawai Kementerian Keuangan yang turut menjadi korban termasuk teman baik saya (12 orang pegawai Direktorat Jenderal Pajak dan 2 pasangannya, 6 pegawai Direktorat Jenderal  Perbendaharaan, dan 3 orang pegawai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara).

Pada akhirnya saya bisa merasakan apa yang teman-teman rasakan, mengalami harus berpisah dengan isteri dan anak-anak karena tugas. Tentu saja perjuangan ini belum selesai, pejuangan memang tidak akan pernah selesai, sebab hidup ini memang perjuangan…

 

Ditulis Oleh: Evan Himawan

 

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search