Namanya Bu Farida. Bisa dibilang, beliau adalah "guru bersyukur" saya.
Rumahnya jauh dari pusat kota Belitung. Di hutan. Tanpa ada tetangga. Listrik saja belum menjangkau tempat itu. Rumahnya begitu sederhana. Dibangun dari kayu dan tidak memiliki lantai.
Saya tidak sengaja mengenalnya ketika pada suatu hari saya meminta Pak Fahlusi yang senior di kantor untuk mengajak saya ke ladangnya. Saat sedang mengkhidmati alam di ladang, mengusir rasa sepi yang menyelimuti, Pak Fahlusi mengajak saya singgah di rumah Bu Farida.
Tanpa tahu saya siapa, Bu Farida menyambut saya begitu ramah.
Banyak orang bilang saya selalu tersenyum. Namun, Saya tidak bisa bohong, adakalanya saya merasa terpuruk, lemah, dan ingin menyalahkan keadaan.
Hati saya juga hati perempuan, yang menyadari fitrah seorang istri dan seorang ibu. Jauh dari suami dan ketiga anak bukanlah hal mudah. Saya juga tahu berpisah dengan saya bukan hal yang mudah buat mereka.
Promosi saya ke Belitung membuat jarak semakin jauh. Kiranya, saya bisa pulang setiap akhir pekan. Namun, adakalanya karena kesibukan, saya tidak pulang.
Daripada sendiri menghabiskan Minggu di rumah, saya terkadang minta ke ladang. Sebab alam selalu menyediakan energi yang berlimpah, saat kita mentadaburinya.
Bu Farida bersama suaminya bertanya saya siapa. Saya jawab saya saudaranya Pak Fahlusi.
Obrolan kami mengalir begitu saja. Pertemuan demi pertemuan membuat saya belajar banyak dari beliau.
Hidupnya begitu terbatas. Namun, saya yang asing bagi mereka, disambut dengan ramah dan tulus.
"Neng, nanti makan di sini saja. Bapak habis mancing ikan.”
Kalimat Bu Farida yang lembut begitu mudah dicerna. Mata saya menjadi bendungan yang menahan air mata agar tak tumpah.
Di pelosok hutan, yang jauh dari keramaian, orang-orang tulus masih ada.
Hal itu serta merta menjadi sebuah cermin yang menampakkan diri saya. Saya pun malu melihat sosok saya, dengan penghasilan yang terbilang lebih dari cukup, dengan segala kemudahan dan fasilitas yang saya dapatkan, masih suka menyalahkan keadaan.
Bayangkan, kalau saya mau makan, biasanya tinggal bilang, "Neng... tolong siapkan." Bu Farida dan suaminya yang sehari-hari masih memiliki pertanyaan "apakah hari ini kita bisa makan" dengan tulus menawarkan orang lain makan di tempatnya. Senyumnya selalu terpasang seolah-olah tidak ada penderitaan yang mereka rasakan.
Setiap merasa lelah, saya akan datang ke Bu Farida. Bahkan ingin sekali rasanya saya menginap di rumahnya yang tanpa listrik itu. Saya membayangkan cahaya bintang menaungi kami dan keakraban mengikat kami.
Meski tidak tidur di kasur yang empuk, tidak makan dengan lauk yang mewah, menghabiskan hari bersama Bu Farida adalah kemewahan tersendiri buat saya. Pada saat itu, energi syukur saya melimpah ruah. Saya kembali percaya dan bersemangat untuk berkinerja lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan terbaik di tempat saya bekerja.
Ditulis oleh: Rd. Yen Yen Nuryeni
(Dikutip dari Do With Love: Passion on action, leadership and integrity, Yen Yen Tahun 2020)



