KPPN Khusus Investasi

Jarak dan Momentum Itu

          “Apa kamu harus mengambil keputusan itu? Tidak bisakah kamu di sini saja?”

         Kebanyakan suami pasti akan bertanya sama ketika istrinya harus mengikuti perintah ditempatkan bekerja yang jauh dari tempat domisili. Saat itu, saya promosi sebagai kepala seksi di Purwakarta. Rumah saya di Bekasi. Untungnya, saat itu lalu lintas belum semacet sekarang. Waktu tempuh kedua kota itu hanya sekitar 1,5 jam. Saya mengendarai mobil sendiri setiap hari pulang-pergi Bekasi-Purwakarta. Suami pun sempat mempertanyakan keputusan saya mengingat besarnya risiko yang ada selama di jalan.

          “Apa Papa mau saya kembali mengabdi di rumah saja? Jika kita perlu meriview kembali keputusan-keputusan kita, Mama siap. Selesai ikatan dinas, Mama akan kembali.”

         Ketika saya mengatakan hal seperti itu, suami saya yang mundur dan berkata, “Jangan! Kamu itu dibutuhkan oleh organisasi….”

       Ya, Ketika seseorang masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, ia langsung menandatangi pernyataan siap ditempatkan di mana saja. Bagi saya, surat pernyataan itu adalah sebuah janji yang sudah harus disadari konsekuensinya sejak sebelum diteken. Dengan menandatanganinya, maka saya harus patuh pada masa ikatan dinas. Apalagi kemudian program sarjana dan pascasarjana saya juga dibeasiswai.

         Jarak yang jauh itu juga membuat saya menyadari ada yang mau tidak mau terkorbankan. Alangkah ruginya, ketika sudah berkorban, kita malah tidak memberi performa yang memuaskan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan kita. Malu rasanya pada suami, pada anak, jika saya malah terpuruk dalam kesedihan sehingga membuat kerja saya berantakan atau asal.

        Suatu hari saat jeda berkerja itu, saya menghabiskan me time di salon. Di salon itu biasanya ada beberapa majalah yang memang disiapkan untuk dibaca pengunjung. Salah satunya, sebut saja Majalah Wanita Femina.

     Entah kenapa, saya tertarik mengambil Femina hari itu. Dan didalamnya kemudian saya menemukan pengumuman yang menarik. Ada semacam kompetisi pemilihan sosok perempuan yang akan menjadi pimpinan masa depan. Saya membaca syarat-syaratnya dan tertarik untuk ikut serta.

         Saya mengirim aplikasi pendaftarannya tanpa beban. Tidak ada pikiran kepengen menang atau bagaimana. Ini hanya seperti tiba-tiba kamu melihat suatu informasi dan kamu harus melakukannya. Tidak tahu alasan utama yang mendasari tindakan itu, meski yang memang dalam aplikasi tersebut kita harus membuat semacam esai.

        Sampai sebuah telepon masuk, kabar mengejutkan itu saya terima. Saya termasuk peserta yang terpilih untuk mengikuti tahap selanjutnya. Salah satu tes dalam tahap itu adalah Hogan Assessment System.

 

Hogan Assessment System adalah penyedia alat tes kepribadian termuka di dunia. Sejak tahun 1987, Hogan telah berinovasi berdasarkan prinsip bahwa kepribadian memprediksi kinerja, menciptakan alat tes yang teruji dalam hal validitas, reliabilitas, dan landasan kuat lainnya dalam pengukuran.

Didirikan oleh Drs. Robert dan Joyce Hogan, pasangan psikolog yang bekerja sebagai bentuk komitmen Hogan terhadap integritas ilmiah. Keduanya memelopori penelitian tentang kepribadian dalam bisnis dan mereka adalah yang pertama mengukur bagaimana faktor kepribadian mempengaruhi efesiensi kerja. Hingga saat ini, Departemen penelitian Hogan terus mengembangkan alat assessment berdasarkan teori psikolog, dan telah melakukan lebih dari 450 studi yang memvalidasi hubungan antara kepribadian dan kinerja.

Hogan Assesment mampu mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian dan kemampuan kunci yang berguna dalam prekrutan, pengelolaan talenta, peningkatan kinerja tim dan pengembangan pemimpin yang kuat dalam perusahaan.

 

      Tes HOGAN mengacu pada waktu Amerika sehingga mengharuskan peserta bangun tengah malam untuk mengerjakannya. Berat rasanya di tengah kesibukan yang dijalani, saya harus bangun tengah malam dan mengerjakan soal-soal yang bikin kepala pusing. Namun, ketika sudah memilih ikut suatu hal, saya berprinsip tetap harus mengerjakannya sepenuh hati. Do the best dalam aktivitas apa pun yang dikerjakan.

         Akhirnya, semua tes saya kerjakan dengan sepenuh hati. Dan perjalanan saya tidak berhenti di sana. Kabar lain mengatakan saya harus mengikuti tahap demi tahap berikutnya. Hingga akhirnya, saya terpilih sebagai salah satu finalis yang harus mengikuti karantina.

       Saya menjadi anomali di antara para finalis lain. Pasalnya, saya adalah satu-satunya ASN Kementerian Keuangan yang ada di sana. Yang lain berkarir di swasta. Ajang ini pun sebenarnya dilatarbelakangi kepedulian sejumlah pihak melihat sedikitnya pemimpin perempuan di negara-negara berkembang. Femina digaet untuk bekerja sama mengadakan ajang ini guna menjaring perempuan-perempuan yang berpotensi menjadi CEO di masa depan.

        Saya tidak mungkin menjadi CEO. Saya seorang ASN. Ketika ditanya apa jabatan tertinggi yang mungkin diraih oleh seorang ASN, saya jawab seorang Direktur Jenderal (Dirjen). Kalau menteri, ada kemungkinanannya, tetapi sangat kecil. Sebab menteri adalah jabatan yang politis, dipilih langsung oleh Presiden.

              “Apa kamu tidak ingin menjadi Menteri”?

      Saya ditanya begitu. Ya, saya jawab, jika saya diberi amanah tersebut, tentu akan sama-saya akan mengembannya dengan penuh tanggung jawab.

         Prinsip saya seperti seekor elang yang terbang sendirian. Saya berusaha mengenyahkan stigma yang membuat kiprah ASN dipandang sebelah mata. Di luar sana, banyak orang beranggapan bahwa kantor-kantor pemerintahan dihuni oleh orang-orang berpola pikir kuno, minim etos kerja, dan secara kompetensi tidak bisa bersaing dengan dunia luar. Meski tak sepenuhnya menyalahkan anggapan tersebut, saya meyakini bahwa seiring berjalannya waktu, kondisi ASN sudah banyak berubah. Saya hanya salah satu dari generasi ASN yang datang dengan pola pikir yang baru. Masih banyak ASN lain yang punya prestasi bagus dan luar biasa.

      Dalam ajang Lomba Wanita Karier Femina-BII 2011 itu, saya pun dianggap layak menerima gelar Promising Leader. Ternyata gelar ini baru ditambahkan di saat-saat akhir penjurian kompetisi.

        Salah satu dewan juri mengatakan bahwa kepemimpinan yang ideal saat ini adalah bentuk kepemimpinan yang partisipatif-demokratis, yakni merangkul anak buah. Bentuk kepemimpinan seperti itu pula yang saya terapkan.

 

 

Ditulis oleh: Rd. Yen Yen Nuryeni

(Dikutip dari Do With Love: Passion on action, leadership and integrity, Yen Yen Tahun 2020)

 

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search