Sumeleh
suaraku geledek
tubuhku banteng terluka
-mbah Sapardi: mantra menguasai orang-
Penindasan yang dilakukan kaum musyrikin Makkah terhadap pengikut Nabi telah melampaui batas-batas kemanusiaan (adakah penindasan (dalam bentuk apapun) yang masih dalam batas kemanusiaan), maka diputuskan untuk mencari tempat yang lebih kondusif dalam menyebarkan kedamaian dalam pelukan Tuhan. Nabi telah diizinkan untuk melaksanakan hijrah ke Yatsrib yang penduduknya menerima dengan tangan terbuka kedatangan cahaya ilahi. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai langkah awal membentuk komunitas madani yang menjadi cikal bakal percontohan peradaban modern.
Meski sudah meninggalkan tanah kelahiran yang sangat dicintainya, para pembenci Nabi tetap tidak terima dengan kondisi yang ada, mereka masih belum rela para pembela kebenaran hidup dengan tenang, damai dan tentram. Tuhan juga tidak rela pengikut Nabi dikuyo-kuyo tanpa pembelaan sedikitpun, maka turunlah perintah dan izin untuk berperang, bukan dalam rangka menebarkan kebaikan dengan pedang, lebih dari itu bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dan membela diri untuk kebenaran sejati.
Namun dilihat dari sisi persenjataan, kesiapan pasukan, dan teknik strategi perang yang dimiliki oleh pengikut Nabi, jauh dari kata memadai, maka apabila kondisi tersebut dianalisis ahli perang manapun dan program AI dalam jenis apapun, secara algoritma modern kemenangan dapat dipastikan ada di tangan para pengabdi berhala.
Senjata seadanya, yang hanya memiliki pisau dapur diselipkan di pinggang, yang hanya ada cangkul segera dipanggul, yang tersedia parang untuk memotong pelepah kurma digenggamnya dengan sepenuh tenaga, pedang, panah dan baju zirah yang seadanya, dan tidak setiap anggota pasukan memilikinya. Kendaraan juga demikian, beberapa ekor kuda, keledai Nabi, selebihnya jalan kaki, dan teknik startegi apa yang akan diterapkan dalam menghapi musuh yang siap segala sesuatunya, hanya berbekal keyakinan dari perintah Sang Maha Perkasa yang tidak akan menelantarkan umat Nabi yang sangat dikasihi-Nya.
Dan Nabi yang melihat itu semua hanya mampu memanjatkan doa dan harapan kepada kekasih utamanya, di malam berselimut sunyi dan kesenyapan seolah menghadap langsung di langit ke tujuh, sidratul muntaha, terucap lirih kepasrahan luar biasa, “Ya Allah penuhilah janji-Mu padaku, ya Allah berilah apa yang telah Engkau janjikan padaku, ya Allah jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah niscaya tak ada lagi orang yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini”, lembut namun menggetarkan seisi langit dan bumi, hingga kemenangan nampak jelas di depan mata, ketika pasukan Quraisy lari meninggalkan gelanggang pertempuran membawa malu dan duka tak terhingga.
Saat kelahiran Nabi, Raja Abrahah beserta pasukan gajahnya menyerbu Makkah karena iri melihat ketenaran Kakbah senantiasa didatangi para peziarah yang melakukan peribadatan dan persembahan, hingga daerah tandus itu menjadi tempat yang ramai dan viral di jazirah Arab dan sekitarnya. Mbah Abdul Muthalib beserta penduduk Makkah memilih mengungsi dan menyingkir, karena tidak mungkin untuk melawan tentara Abrahah yang demikian disiplin, terlatih dengan persenjataan lengkap, dan pada era tersebut, suatu kerajaan atau negara yang memiliki pasukan gajah merupakan negara dengan pasukan/tentara yang kuat.
Sebelum menyingkir, mbah Abdul Mutholib menyampaikan permintaan kepada Raja Abrahah atas unta-untanya yang disita, yang tentu saja membuat heran Raja Abrahah, mbah Abdul Mutholib tidak mengkhawatirkan Kakbah, namun lebih memikirkan unta-untanya. Dengan keyakinan kuat mbah Abdul Mutholib mengatakan, bahwa unta-unta ini miliknya, sedangkan Kakbah adalah milik Tuhan. Dan terbukti, tak sejengkalpun tentara Abrahah mampu menginjakkan kaki di pelataran Kakbah, tak setitik debupun yang menjadi jejak pasukan Abrahah pernah menyenggol Kakbah, dan tak secuilpun dinding Kakbah runtuh oleh terjangan tentara gajah, bahkan bergetarpun, tidak.
Alkisah pasukan Majapahit telah terdesak oleh serbuan tentara Mongol, pasukan pendukung telah kocar kacir entah masih ada yang hidup atau sudah berkalang tanah semua, Raden Wijaya tak tahu lagi bagaimana nasibnya. Upasara Wulung Sang Senopati Pamungkas terdesak oleh banyak tentara Mongol yang dipimpin seorang panglima terus menghujaninya dengan pukulan dan tusukan pedang serta tombak pasukan, tak ada harapan.
Di saat genting, hiruk pikuk, kacau balau, tak ada harapan, Upasara Wulung hanya bisa memasrahkan segala sesuatunya ke hadapan Sang Hyang Widhi, dengan memejamkan mata ia sumarah, tunduk pada kehendak Sang Kuasa. Dan entah bagaimana di tengah kepasrahannya, jurus tepukan satu tangan muncul begitu saja, jurus yang selama bertahun-tahun dipelajarinya tanpa hasil, justru menunjukkan jati dirinya di saat yang sangat ia butuhkan, pedang, tombak segala macam senjata musuh mencelat begitu saja, keadaan menjadi terbalik. Pasukan Mongol yang semula di atas angin, menjadi kocar-kacir tak karuan, lari tunggang langgang yang pada akhirnya meninggalkan tanah Majapahit dengan menelan pil pahit kekalahan.
Cak Silo dengan semangat pagi mengayuh sepeda berkeliling kampung menjajakan dagangannya, pethol, cilot, salome, sambil membunyikan bel telolet yang suaranya terdengar hingga ujung jalan. Sudah dua kali putaran ia keliling kampung, mentari mulai menanjak di atas kepala, teriknya mulai membuat pening kepala, menyipitkan pandangan mata, dan peluh sejak tadi membasahi baju kerjanya, namun belum satupun pentholnya berpindah tangan.
Di sebuah ujung gang, ia berniat untuk istirahat sejenak sambil ngisis di bawah pohon beringin rindang menyejukkan, tak dinyana dari dalam gang muncul seorang pelanggan yang biasa sehari-hari membeli pentholnya. Berbeda dengan hari biasanya, si pelanggan kali ini berniat memborong semua penthol jajanan Cak Silo, bila perlu sekalian gerobak di atas sepedanya dibawa ke rumah, karena sedang ada acara ulang tahun anaknya.
Sebagai orang yang hidup dalam era materialisme seperti sekarang ini, tawaran memborong semua dagangan tentu menggiurkan, tak perlu lagi keliling kampung mengayuh sepeda, bisa segera pulang membawa uang untuk anak istri di rumah, dan secepat mungkin menyelonjorkan kaki di lincak sembari menikmati secangkir kopi dan pisang goreng masakan sang mantan.
Namun betapa kecewanya si pelanggan ketika niat untuk memborong seluruh penthol ditolak mentah-mentah, hanya karena alasan mengingat pelanggan yang lain tidak bisa membeli lagi penthol Cak Silo. Ketika dibantah oleh si pelanggan, bagaimana bila nanti ternyata tidak ada yang membelinya, dijawab enteng oleh Cak Silo, iku urusane Gusti Allah.
Sumeleh adalah kepasrahan kepada keputusan Yang Maha Tunggal setelah melakukan upaya-upaya kebaikan, kerja keras, tenanan dan kesungguhan serta keikhlasan.
*refleksi pengajian Ustaz Marendra Darwis di Musala al-Maliyah KPPN Kediri





