Kediri

Bumi

Manusia punya alat untuk menyembuhkan planet mereka dan selamat, tapi mereka pilih keserakahan dan kepuasan diri daripada biosfer sehat dan masa depan mereka

-love, death & robots-

Tiga robot berkeliling, dari satu wilayah ke wilayah yang lain, mencari daerah yang kira-kira masih ada kehidupan setelah dunia mengalami era pascaapokaliptik akibat tingkah dan laku manusia sendiri. Sebuah seri animasi (dibuat oleh Tim Miller dan David Fincher) yang mengisahkan keabsurdan manusia dengan segala ketidakberdayaannya menghadapi konsekuensi atas apa yang telah dilakukannya, dalam bahasa kitab suci dikatakan manusia yang menganiaya dirinya sendiri.

Sampai di tempat terakhir, sebuah bunker bawah tanah tempat para elite dunia bersembunyi menunggu huru hara reda, ketiga robot menemukan kematian yang mengenaskan. Maksud hati menyiapkan segala sesuatunya untuk kehidupan setelah perang, namun yang terjadi, semua yang disimpan tak ada sedikitpun yang bisa dimakan, karena keburu ditumbuhi oleh jamur, sebuah makhluk kecil yang tidak diperhitungkan sama sekali kehadirannya. Pada akhirnya yang tersisa hanya kesia-siaan. Bumi sebagai salah satu planet dalam tata surya yang telah diciptakan Tuhan miliaran tahun yang lalu, menjadi satu-satunya planet yang layak huni bagi kehidupan, tanaman, hewan, manusia dan makhluk yang diciptakan dengan materi lain yang tak terjangkau dengan indra manusia biasa. Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (Q.S. 2: 30).

Bumi, ardh (arab) yang diserap dalam bahasa Inggris menjadi earth, telah digadang-gadang oleh Tuhan untuk menjadi tempat bagi makhluk yang bernama manusia dan ditugasi sebagai khalifah, yang harus menjaganya, mengelaborasinya untuk kebermanfaatan dan kemaslahatan, tak hanya manusia itu sendiri, namun juga makhluk dan ciptaan Tuhan yang lain, hingga Nabi pun diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.

Maka mbah moyang kita menyebut bumi, tanah sebagai siti, suatu bentuk penghormatan dengan memberi nama perempuan, yang setara dengan ibu yang melahirkan anak-anaknya, maka sudah sewajarnya dijunjung tinggi, dihormati dan diopeni.

Manusia bisa belajar dari apapun yang ada di bumi, yang tak bergerak dan tidak tumbuh, yang tumbuh namun tidak bergerak dan yang tumbuh serta bergerak. Semua memberikan pandangan bahwa ketika manusia diturunkan ke bumi, Tuhan telah menyediakan sarana dan prasarananya, lengkap, komplit, seimbang tanpa satu kekurangan.

Dari batu, sebagai benda yang tidak tumbuh dan tidak bergerak, manusia belajar bahwa kekerasan hanya akan membuahkan kekerasan, maka manusia yang tidak dapat menerima nasihat, masukan, pendapat, himbauan dari orang lain, dinamakan kepala batu. Demikian juga keingkaran kepada ibu juga diwujudkan menjadi batu, Malin Kundang, Jaka Budeg.

Kepada gunung, manusia belajar bahwa ada misteri yang tak terjangkau oleh akal dan teknologi, ada kalanya dan saat tiba waktunya, gunung yang terlihat diam memuntahkan lahar, abu panas, material vulkanik lain yang meski pada awalnya menimbulkan kerusakan, namun memberi kesuburan pada lahan sekitarnya. Maka di lembah, lereng gunung berapi akan kita temui tanaman buah yang rasanya tidak akan kita temui di tempat yang tidak pernah disentuh oleh material gunung berapi (dalam History of Java, mbah Raffles menyebutkan kesuburan tanah Jawa mampu menghidupi seluruh Nusantara).

Tumbuhan memberi pelajaran pada manusia bahwa hidup berarti memberi. Manusia tidak bisa menumbuhkan pohon mangga, atau membuatnya berbuah, namun tiba-tiba saja, pohon di depan rumah memberi kita sebiji mangga, ranum, manis, legit. Pohon memberi kesejukan di saat mentari menyinarkan panasnya, sekaligus mengeluarkan oksigen untuk manusia bernapas, serta mengambil karbondioksida yang dibuang manusia.

Tumbuhan mengajarkan untuk bersilaturahmi, bahwa manusia tak bisa hidup sendiri. Pohon yang tumbuh di pinggir jalan, senantiasa melengkungkan dahan dan rantingnya untuk meraih pohon di seberang jalan, hingga di tengah menjadi teduh dan adem. Bahkan untuk rumput yang seolah tak ada manfaatnya, selain untuk diinjak dan dicabut serta dibuang, maka masyarakat lapisan bawah dinamakan dengan masyarakat lapisan akar rumput.

Hingga simbah memberi contoh dengan berdoa di bawah pohon besar, yang menyimpan air, memberi keteduhan, menahan tanah dari longsor saat hujan, maka sekarang kita memanjatkan (pohon tempat yang bisa dipanjat) doa pada Tuhan dan memohon (dari kata pohon) keberkahan dan rahmat, keselamatan dunia dan akhirat.

Ketika Qabil kebingunan setelah memisahkan nyawa dari raga Habil, akan diapakan mayat saudaranya ini, merasa bersalah namun tak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba dilihatnya seekor gagak yang mengubur gagak yang lain, dengan menggali tanah menggunakan paruhnya. Manusia belajar dari hewan dalam memperlakukan mayat, karena tidak mungkin dibiarkan begitu saja.

Seberapapun rakus dan mampu kita untuk menghabiskan sumber daya yang ada, ulat mengajarkan ketika saatnya tiba untuk menghentikan itu semua dengan berpuasa, membungkus diri, menjadi kepompong, untuk selanjutnya menjadi kupu-kupu yang menebarkan manfaat, keindahan, membantu penyerbukan tanaman, dan hanya memakan yang baik-baik saja, madu.

Ribuan tahun yang lewat, dalam perangpun Nabi telah berpesan, jangan merusak rumah ibadah, dan jangan menebang pohon, hingga bila esok hari kiamat sedangkan di genggaman tangan ada biji kurma, maka tetap tanamlah.

Bumi yang kita pijak, kita perebutkan, kita tumpahkan darah di atasnya, hanyalah setitik kecil di tengah alam semesta yang tak terhingga. Karena alam semesta, tumbuhan dan hewan dimunculkan lebih dulu dari manusia, maka sudah seharusnya dan semestinya manusia menaruh hormat kepada mereka semua.

Uluk salamlah kepada tanah yang kita taruh sampah di atasnya, anjing yang menyalak ketika kita lewat di depannya, kepada pohon yang tumbuh di halaman rumah, yang berjajar di sepanjang jalan, burung yang membuat susuh di belakang rumah, binatang piaraan tetangga, dan malaikat yang senantiasa membersamai hidup kita serta makhluk tak kasat mata lain yang mungkin melihat kita, karena ...tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya...(Q.S. 17: 44).

Selamat hari bumi.

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
KPPN Kediri
Jl. Basuki Rahmat No.4, Balowerti, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur 64123 
Tel: 0354-682151, 683610 Fax: 0354-682325, 686472

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

 

 

Search