Ajem
Aku lelah menyaksikan manusia saling menyakiti
-john cofey: green mile-
“Disakiti atau menyakiti.”
“Disakiti!!!”
“Dihina atau menghina.”
“Dihina!!!”
“Dicintai atau mencintai.”
“Dicintai!!!”
Satu pertanyaan yang dijawab dengan serempak oleh mereka yang meriung sambil menikmati cemilan dan jajanan yang tersedia. Siang yang terik paling enak memang ngobrol bersama sambil bergunjing, menggosip, membicarakan hal remeh tentang masakan, pakaian, keramaian lalu lintas, sekolah anak, kerudung baru, rencana jalan santai hari Jumat, komputer yang ngadat, sinyal yang timbul tenggelam, satker yang ngengkelan, sepatu baru salah satu anggota yang harus diinjak dulu untuk perkenalan, atau merayakan ulang tahun salah seorang yang akan menjadi korban selama sehari penuh, dan akan menjadi bahan perbincangan hangat selama berhari-hari kemudian.
“Mbak Na, senam besok instrukturnya siapa?”
“Lha njaluk sopo, sing kae, iki opo kui?”
Sudah sering aku mendengar, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan seperti ini. Setiap Jumat, jadwal senam yang menjadi sarana penyegaran mingguan bagi semuanya, akan menimbulkan riuh ketika sudah masuk dalam pemilihan instruktur. Ada yang mau instruktur dengan gerakan yang sederhana sehingga mudah diikuti, yang lain maunya instruktur yang sedap dipandang untuk menambah semangat, yang satu lagi ingin instruktur yang menyatu dengan peserta dan gerakan baru agar tidak bosan, yang pada akhirnya semuanya terserah kepada yang ditanya, dan disepakati dengan anggukan kepala tanpa terkecuali.
Namun tak akan terjadi perdebatan panjang ketika ada pengumuman seperti ini, besok senam jam 6.45 WIB disediakan nasi pecel maknyus, siapa yang pecel siapa yang tumpang. Esoknya selesai berpeluh, entah peluh karena hangat mentari duha atau peluh karena gerakan senam, semua berkumpul menikmati sebungkus nasi pecel, yang bagi beberapa orang pedasnya setara dengan omongannya tetangga.
“Lombanya besok apa aja mbak Atik?”
“Sik tak pilihane, sing penting rame, kabeh melu yo.”
“Trus jurine sopo?”
“Lek Ho ae, diundang rene.”
Rupanya mereka sedang membincangkan rencana perayaan agustusan, yang diisi dengan lomba sederhana memperingati ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-79. Ada yang bilang ini sebagai wujud cinta tanah air, ada lagi yang menambahkan sebagai penghormatan bagi pahlawan yang telah berjuang menjadikan Indonesia merdeka, dan yang lain menimpali bahwa ini mengingatkan dahulu tidak semudah ini dalam merebut kemerdekaan. Aku yang hanya menjadi pendengar sejati sekadar menggumam betapa kompaknya mereka semua.
“Mbak aku neng seksi Bank ditompo ora?”
“Yo takono bapakku.”
“Bapake sampean ra gelem ambek aku.”
Sepenggal dia lo gue inilah yang memicu munculnya isu dewan jenderal, sebuah forum tak resmi yang menggagas siapa harus ke mana, menggantikan siapa, untuk apa, sekaligus alasan dan latar belakang yang mendasarinya. Ini menjadi bahan gosip berhari-hari, bahkan terkadang tempat rapat berpindah ke dalam ruangan sebelah, yang tidak semua anggota bisa memasukinya. Namun aku masih bisa mendengar bisik-bisik lirih yang sayup-sayup menembus batas kaca.
“Mbak aku yo gelem neng seksi Bank.”
“iya dik, kalo sampeyan bapakku gelem nompo.”
“Tapi kalo umum sampean tinggal, pakdhe ga rontok jenggote?”
Padahal isu itu sudah mulai mereda, namun sepenggal tanya di sore itu membuat bara kembali menyala. Sebelum hari menjelang senja, pertemuan kembali dihela. Semua merapat, berbisik, diselingi tawa, tegukan minuman, suara kerupuk remuk disela gigi, toples dibuka, rodong ditata dan bersamaan melintas seorang perempuan.
“Mbak Las aku teh jahe!”
“Aku juga mbak!”
Rupanya mbak Las sekilas entah dari mana, pengelola kantin yang suka menyediakan makanan apapun pesanan dan kesukaan mereka, masakan rumahan yang akan mengingatkan pada ibu yang pernah memasakkan sarapan anak-anaknya. Sayur lodeh nangka, bobor sawi, jangan bening, oseng kangkung, tempe dan tahu goreng, terkadang ada paru goreng, patin masak pedas, lele goreng, serta telur dadar yang bila jendela ruang dibuka saat menggoreng, harumnya akan sampai merasuk ke dalam. Tak ketinggalan minumannya, jeruk, teh, kopi, ramuan aneka rempah, jus buah apapun, bahkan yang tidak sedang musimnya, namun kebanyakan yang ada jus mangga, jambu merah, semangka, apel, wortel, naga, melon dan tak lupa jus alpukat.
“Mas Dhika kemarin sakit apa?”
“Jarene mbak Atik mencret.”
“Muntah!”
Itu godaan ketika makan bersama, membicarakan hal-hal jorok yang bagi sebagian orang sangat tabu untuk diperbincangkan ketika di depannya ada sepiring hidangan siap santap. Tapi itu tak berlaku bagi mereka, semakin ada yang jijik, semakin bertambah sadis dan kejam kosakata yang keluar. Sudah biasa aku dengar mereka sambil menyuapkan sesendok nasi menguarkan kata muntah, ingus, ludah kental, kopok, iler, bab, kepet, dan itu semua tidak mengurangi sedikitpun rasa nikmat mengunyah makanan yang ada.
“Kalo dipanggil mas Apip senang kui Tik”
“Yo wis, mengko tak panggile mas Apip, tapi kabeh meneng ae sik, jo komentar”
Itulah salah satu cara mereka membully, merundung yang lain, dan anehnya bukannya marah, yang dirundung malah senang tertawa-tawa seolah tak ada beban. Karena bagi mereka mengolok-olok, menggojlok adalah tanda cinta. Motto mereka, benar saja salah, apalagi salah. Maka jangan pernah salah kata, salah ucap, salah mengeluarkan komentar, dan bila sudah terlanjur ketrucut, jangan pernah membantah apapun yang diteriakkan mereka, …jangan ya dek ya… nurutlah, karena semakin membantah, akan semakin bengis dan tajam kalimat yang menyerang, hingga si korban benar-benar tidak mampu lagi, bahkan sekadar untuk menarik napas panjang. Namun demikian aku tahu, sejatinya di dalam hati mereka hanya ada cinta dan kasih sayang, aku yang mendengar bisa merasakan, namun tak bisa mengungkapkan, karena aku hanya sebuah meja.





