Latihan
Berceritalah, maka kamu akan lucu
-Jokpin: salah piknik-
Seorang pemain sepakbola sebelum bertanding dapat dipastikan melakukan latihan jauh hari bahkan berbulan sebelumnya. Mendribel bola bila bertemu one on one dengan pemain lawan atau berkelit dengan indah saat dikeroyok dalam perebutan bola di tempat dan lokasi krusial mendekati gawang musuh, menendang dengan kaki kiri dan kanan, menyundul dalam perebutan bola atas, sliding yang bersih agar tidak terkena semprit kartu merah atau kuning dari wasit, latihan beban kaki agar tendangan kuat dan jauh serta tepat pada titik yang dituju, menguatkan otot leher sebagai persiapan sundulan yang tepat dan akurat, latihan pernapasan agar mampu bermain secara simultan dalam waktu 2x45 menit (bukan sampai magrib) yang terkadang ada tambahan waktu, tak lupa berlari untuk mengejar bola agar tidak didahului pemain lawan.
Smash oom Rudi Hartono yang mampu membawa Indonesia menyimpan juara All England delapan kali, tidak akan terwujud tanpa latihan terus menerus, mengabaikan hal lain yang semestinya dijalani anak-anak muda sezamannya. Disertai disiplin keras untuk menetapi bahwa berlatih lebih dari yang lain, meski pada awalnya hanya berlatih di jalan raya depan rumah (era 70-80 ketika kendaraan bermotor hanya dimiliki satu dua orang dan itupun benar-benar orang berpunya), yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi seorang legenda.
Seorang pelajar atau mahasiswa, sebelum ujian triwulan, semester maupun ujian akhir, semestinya mempersiapkan dengan belajar dan berlatih soal-soal ujian sebelumnya, apalagi bagi siswa akhirussanah yang akan menempuh pendidikan lanjutan. Berlatih menyelesaikan soal tentunya menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan. Bahkan seorang pegawai yang sudah bertahun-tahun menghibahkan hidupnya untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor tetap harus belajar dan berlatih soal dalam menghadapi ujian hard competency setiap tahunnya, sebagai wujud kompetensi individu yang bersangkutan atas tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab menjadi ASN.
Maestro pelukis yang harga satu buah lukisannya bernilai puluhan bahkan ratusan miliar, tidak begitu saja secara tiba-tiba mampu menghasilkan sebuah lukisan yang membuat penikmatnya terkagum-kagum hingga menarik para kolektor untuk memajang di salah satu dinding galerinya. Dia pasti melalui proses latihan berdarah-darah dalam menemukan campuran warna yang pas, sapuan kuas yang menghasilkan garis dan lengkung memukau, gradasi warna yang tak mungkin ditiru oleh pelukis lain, atau detail yang menjadi tema lukisannya. Seperti pada era mooi indie, sebelum ditemukannya kamera fotografi, dalam menuangkan gambaran seorang tokoh ke kanvas, pelukis akan memberikan detail yang mirip dengan kenyataan. Mulai dari mata, hidung, bibir, helai rambut--warna hingga modelnya, pakaian yang dikenakan baik jenis kain, hiasan, lipitan, renda, wiru, ikat pinggang, topi, dan tidak ketinggalan ekspresi wajah tokoh yang dilukis (contoh: Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh mbah Raden Saleh).
Ibu Dolorosa Sinaga, seorang pematung yang karya-karyanya mencerminkan perhatian terhadap isu-isu sosial dan budaya, keimanan, krisis sosial, solidaritas, multikulturalisme, perjuangan perempuan dan hak asasi manusia, tidak secara instan mampu menghasilkan sebuah patung yang diakui oleh para kritikus seni, meski bagi kita yang tidak memahami seni dan tahu bahwa patung indah hanya seperti yang ada di candi-candi yang tersebar di penjuru negeri, akan terbengong dan bertanya patung apa ini. Beliau bertahun-tahun menekuni seni patung dengan media logam, lewat belajar dan berlatih terus menerus hingga menemukan paduan dan campuran yang pas agar patung logamnya tidak mudah rusak terpapar cuaca, bertahan dengan kondisi iklim Nusantara dan menghasilkan karya seni yang membawa dan memberi makna tersendiri, hingga terpajang di galeri bergengsi manca negara.
Demikian juga dengan pakdhe Nyoman Nuarta, dengan latihan terus menerus mampu menghasilkan karya patung yang tak lekang oleh zaman, bahkan patung Garuda Wisnu Kencana di Bali dibangun dalam kurun tak kurang dari 15 tahun, dan keahlian itu tidak begitu saja tersemat di tangan dan bahunya, semua berproses dengan peluh dan keringat yang tak bisa dinilai dengan harga.
Lik Joko Pinurbo sebelum menemukan bahwa kata celana dapat dijadikan tema bagi puisi-puisinya hingga mengantarkannya menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, telah melalui proses panjang berlatih dan belajar memadu padankan kata yang pada akhirnya menemukan satu kata yang biasa namun unik untuk dijadikan pokok bahasan, yakni celana (silakan dinikmati puisi Celana Buatan Ibu yang sangat sublim). Dan itu tidak diperoleh dalam satu dua kali coretan serta langsung menghasilkan sebuah kalimat dalam puisi yang selesai membaca akan membuat senyum tersungging, gemas dan sangat mengena serta ujung-ujungnya semakin penasaran untuk mencari buku puisinya yang lain.
Orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar rajin salat lima waktu, tidak sekaligus serta merta memberi perintah disiplin salat, namun lebih kepada melatih untuk tidak berat dalam melaksanakan salat. Diajak ke masjid terlebih dulu, meski si kecil akan lari bermain ke sana ke mari, selanjutnya diajak salat bersama teman sebayanya, seperti salat tarawih, walau ketika aamiin akan mengagetkan cicak yang sedang menunggu nyamuk datang untuk disantap. Setelah terbiasa dengan latihan kecil di kemudian hari tidak lagi canggung untuk salat tanpa harus diminta dan disuruh orang tuanya.
Puasa demikian juga, anak tidak langsung diminta berpuasa sehari penuh dari subuh hingga magrib. Pertama cukuplah berlatih tidak makan dan minum hingga pukul 10.00, apabila dirasa sudah kuat ditambah lagi jeda waktunya hingga waktu zuhur tiba, atau puasa bedug yang boleh berbuka ketika bedug zuhur berbunyi. Lulus puasa bedug dilanjutkan hingga berbuka waktu asar tiba, dan pada akhirnya kuatlah berpuasa hingga magrib, dan itu pun tidak langsung satu bulan, namun akan menjadi kebanggaan orang tua ketika anak mampu puasa selama sebulan penuh tanpa satu kali pun mokel.
Karena puasa memerlukan latihan, maka lebaran pun juga memerlukan latihan. Alkisah sekaleng wafer telah berpindah dari rak toko swalayan ke sudut ruangan di atas lemari.
“Mi…niliki wafermu oleh.”
“Ho oh mbak, buka wae.” Sebuah suara menyahut di seberang meja, tidak memerlukan waktu lama semua sudah meriung, duduk anteng mengelilingi meja dengan kaleng wafer di atasnya, masih dalam bungkus plastik, dengan gambar wafer lapis cokelat, tulisan Khong Guan beserta lambang kemudi kapal di bagian atas dinding kaleng.
“Enak yo.”
“Ho oh enak tibakno.”
“Berapa lapis…ratusan.”
“Isshh kui sing kae.”
“Jaman biyen, yen eneng Khong Guan sing digoleki disik wafere, dibungkus plastik.”
“Seneng lek mbuka mbak, koyok mbuka rokok, eneng benang cukaine.”
“Aku ra sido rioyo mbak, waferku wis kelong.”
“Lek ngono sing wis mangan urunan, nggo ngijoli wafere Ami, ayo diitung.”
“Aku sakjane ga seneng wafer, lha dipekso.” Sebuah suara protes memelas sambil tetap mengunyah wafer yang terlanjur tergerus gigi.
“Ora iso, wis kadung yo melu urunan.” Bentakan yang langsung membuat pemrotes cep klakep.
“Seberang selatan panggil ke sini mbak, biar ikut urunan.”
“Iya bapake sekalian, ben roto.”
Tak lama tibalah rombongan kafilah selatan ikut duduk melingkar untuk menikmati wafer latihan lebaran, yang sudah makan dan dihitung urunan menunggu dengan harap-harap cemas dan begitu masing-masing sudah melakukan satu gigitan…
“Hayo urunan….”





