Kediri

Attitude

Peradaban dengan beradab itu berbeda

-Netflix: American Primeval-

 

Sejatinya Tuhan telah menetapkan empat perjodohan bagi manusia sebagai khalifatullah di bumi (bukan sekadar empat istri, dan mohon tidak membatasi frasa perjodohan hanya berupa bertemunya lelaki dan perempuan dalam satu pernikahan) dengan mengirim mbah Adam menjejakkan kaki di tanah asalnya setelah menikmati beberapa saat keindahan surga yang tiada tara (mbah Nun).

Perjodohan pertama dan utama adalah Tuhan dengan manusia itu sendiri. Di satu sisi Tuhan telah menyediakan segala sarana dan prasarana bagi manusia untuk menjalani kehidupan di muka bumi, lengkap, komplit, sempurna, dan tugas manusia untuk memanfaatkan itu semua demi kemaslahatan kehidupan dan tidak lupa mensyukuri itu semua dengan berserah diri kepada segala kehendak dan ketentuan-Nya.

Kedua antara manusia dengan alam, tidak sebatas yang ada di bumi namun seluruh alam, semesta, universe, tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi sebagaimana diutusnya Sang Nabi menjadi rahmatan lil alamin. Maka sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk tidak mengeksploitasi alam dengan semena-mena, tanpa hirau atas apa yang terjadi sesudahnya, dan bila ini dipegang teguh, tak akan ada longsor, tak ada banjir, tak ada korban sia-sia.

Ketiga antara manusia sebagai pemimpin dan manusia yang dipimpin, merupakan hubungan yang unik mengingat sifat manusia satu dengan yang lain tidak sama dan tidak memungkinkan untuk disamakan. Seberapa banyak jumlah manusia yang memiliki pikiran sendiri, maka sejumlah itulah keinginan dan perbedaan yang ada.

Keempat perjodohan antara lelaki dan perempuan, yang sudah menjadi kodrat dan titah Sang Kuasa, bukan sebaliknya lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan sebagaimana kaum Nabi Luth.

Dari keempat perjodohan tersebut ada satu titik hubung yang memungkinkan terciptanya keseimbangan yang harmonis, yakni adab dengan kaidah baik, benar dan indah.

Hubungan dengan Tuhan tidak lepas dari rambu dan aturan yang telah dititahkan lewat utusan, bagaimana seharusnya hamba menjalin hubungan dengan yang telah memberinya hidup. Boleh saja seorang lelaki menghadap Tuhannya dengan hanya mengenakan celana sebatas menutupi aurat, sudah masuk dalam kategori benar, namun untuk baik belum tentu apalagi sisi indahnya. Dalam berbusana, mbah Imam Al Gazali mensyaratkan tidak dicela oleh ulama (ini yang utama) dan kedua tidak menjadi gunjingan khalayak ramai. Meskipun sejatinya Tuhan maklum saja atas segala tingkah dan laku makhluk yang bernama manusia, karena risiko ditanggung oleh penumpang.

Alam dan isinya, baik yang terlihat maupun yang tidak tampak, sebagai entitas yang lebih tua dari manusia karena diciptakan terlebih dulu, maka seharusnyalah kita sebagai yang paling bontot  menaruh hormat kepada yang lebih tua. Hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, meski bumi akan menerima apapun yang dilempar manusia ke atasnya, sudah menjadi poin positif bahwa kita berlaku baik kepada tanah yang menopang kehidupan kita.

Demikian juga dengan binatang, ingatkah kita dengan kisah seorang perempuan yang menjual dirinya pada akhirnya diangkat sebagai ahli surga hanya karena memberi minum seekor kirik yang kehausan. Tumbuhan yang hanya memberi apa yang dipunyai tanpa sedikit pun meminta apa yang kita punya, karena kita tak akan mampu membuat pohon mengeluarkan buahnya, tak sedetik pun kita bisa menumbuhkan meski hanya sepersekian milimeter batang pohon yang ada, dan semua tumbuhan memberikan buah terbaiknya kepada manusia berupa oksigen.

Apalagi sesama manusia, harus benar-benar memenuhi ketiga kriteria baik, benar dan indah. Ketika memberi makan ayam peliharaan, tidak mengapa bila kita tebar dan lempar jagung serta beras begitu saja, ayam akan langsung mengerubunginya. Namun elokkah bila seorang teman bertamu ke rumah, kita suguhkan sesuatu dengan lemparan meskipun wadahnya bagus, makanannya enak.

Pemimpin dan rakyat yang dipimpin juga memiliki hubungan Istimewa, hingga di dalam khasanah budaya Jawa terdapat istilah manunggaling kawulo lan gusti. Ada garis dan batas yang harus dipatuhi masing-masing agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Pada masa kerajaan/kesultanan, rakyat yang akan melaporkan atau mengadukan sesuatu kepada raja/sultan cukup duduk pepe di alun-alun menghadap siti hinggil/sitinggil, maka sultan akan langsung paham bahwa ada rakyatnya yang memiliki kendala dan permasalahan. Sedangkan pada era digital saat ini penyampaian pendapat dilakukan lewat media apa saja yang penting cepat sampainya ke tangan yang berwenang.

Dalam narasi agama ada tata cara untuk mengingatkan pemimpin apabila keliru dalam bertindak. Alkisah dalam balutan udara Pacet yang sejuk dan mengigilkan badan, imam salat subuh lupa meneruskan lanjutan bacaan surat pendek yang agak panjang karena ingatannya masih terpaku pada kacamata yang hilang, lupa ditaruh di mana sebelum meletakkan kepala di bantal semalam. Akibatnya memang sungguh fatal, di tengah bacaan surat tiba-tiba macet, mandeg jegreg seperti kendaraan terhalang lampu merah, blangkemen selayaknya saat wawancara litsus CPNS. Barisan belakang tak ada yang bisa membetulkan karena sama-sama tidak hafal, sedangkan salat tak boleh putus di tengah jalan, hingga terdengar teriakan dari tempat wudu “qul hu ae Sul!”

Dalam pergaulan suami istri sudah biasa bila terjadi kondisi naik dan turun seperti angka inflasi, meski terkadang hanya karena hal-hal receh seperti menaruh baju yang baru dipakai sekenanya, tidak digantung atau langsung dimasukkan ke mesin cuci, hingga pating slengkrah di mana-mana. Atau rambut bekas cukur jenggot dan kumis yang dibiarkan berserakan di lantai, tanpa ada kehendak untuk menyapu atau membersihkannya. Atau piring kotor yang menumpuk setelah acara buka bersama, yang pada akhirnya tangan istrilah yang membuat segalanya kembali seperti semula.

14 abad yang lewat, Nabi Pamungkas telah memberi contoh konkret tentang hubungan manusia dengan Rabb-nya, interaksi manusia dengan semesta alam, pemimpin dengan yang dipimpin serta bagaimana membentuk rumah tangga yang sakinah dengan bekal cinta dan rahmat Tuhan yang tak terhingga.

Selamat merayakan Idul Fitri 1446 H.

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
KPPN Kediri
Jl. Basuki Rahmat No.4, Balowerti, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur 64123 
Tel: 0354-682151, 683610 Fax: 0354-682325, 686472

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

 

 

Search