1001*
Mimpi adalah kunci
-Nidji: Laskar Pelangi-
Alkisah Putri Sahrazad mesti memutar akal dan pikirannya agar tidak menjadi korban suaminya yang terlalu berprasangka buruk terhadap perempuan, istri sebelumnya melakukan tindakan asusila yang membuat kepercayaan sang raja runtuh dan terpaksa melakukan langkah strategis yang diperlukan untuk memitigasi risiko keberlangsungan proses bisnis pengelolaan kerajaan yang dipimpinnya.
Untuk menghindari dampak dari tindakan suaminya, Putri Sahrazad menceritakan satu kisah sebelum tidur semacam bed time stories kepada sang raja, hingga waktu fajar menjelang dan ayam jantan meneriakkan nyanyian menggugah mentari yang mulai menyeruak di ufuk timur. Dongeng sebelum tidur itu membuat sang raja lupa untuk menitahkan hukuman kepada istrinya dan semakin membuat penasaran hati lelaki yang tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan tokoh dalam dongeng yang diceritakan oleh istrinya.
Cerita demi cerita dikuak oleh Putri Sahrazad untuk sang raja, mulai dari Aladdin dan lampu ajaibnya yang mengisahkan kebaikan di sisi Aladdin melawan kejahatan di sisi tukang sihir dalam memperebutkan kuasa atas sesosok jin yang dapat memberikan dan mewujudkan apapun permintaan dan mimpi terliar tuannya, yang sudah diejawantahkan dalam dunia perfilman, baik animasi, aksi langsung (live action) maupun perpaduan keduanya, yang terakhir sang jin diperankan oleh pakdhe Will Smith yang juga membintangi tetralogy Bad Boys bersama pakdhe Martin Lawrence. Sebuah tayangan penuh ledakan yang sudah menjadi ciri khas sang sutradara, mbah Michael Bay yang juga menelurkan Transformers (sebagai perwujudan nasionalismenya sepanjang film berdurasi lebih dua jam bertebaran penampakan The Stars Spangled Banner).
Kisah lain tentang jin yang tak ada hubungan dengan jin Aladdin, suatu ketika ada tiga orang penumpang kapal terdampar di suatu pulau terpencil, jauh dari wilayah yang pernah dijejak kaki manusia manapun, tak tahu mana lor dan kidul, seperti ulat yang bergulung di daun pisang apabila kita buka dan kita bacakan mantra enthung-enthung endi lor endi kidul, ulat itu hanya menggeliat bergeleng ke kiri dan kanan.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ketiga orang itu masing-masing dari Indonesia, Amerika dan Jepang menemukan sebuah botol yang setelah digosok keluar jin sakti yang mampu mengabulkan tiga permintaan. Mereka sepakat untuk masing-masing menyampaikan satu permintaan hingga tepat tiga permintaan sesuai syarat maksimal pengajuan kepada jin dari botol. Si Amerika meminta untuk dikembalikan ke tanah airnya nun jauh di benua Amerika, dan dalam sekejap hilanglah teman Amerika kita kembali ke rumahnya. Demikian juga dengan orang Jepang, dalam sekilasan menghilang dan kembali ke negeri para samurai.
Si Indonesia yang paling polos dan lugu, bingung ditinggal kedua temannya, terasa betapa sepi dan sunyinya tinggal sendirian, padahal baru beberapa detik lalu ia berbincang dengan kedua temannya meski menggunakan bahasa isyarat seadanya. Maka ia pun menyampaikan permintaan terakhir kepada jin dari botol, “Jin setelah ditinggal teman-temanku bagaimana aku bisa hidup sendiri di sini, tak ada yang kuajak ngobrol, ngrasani tetangga, main tebak-tebakan, masak bersama dengan bahan seadanya atau tukaran perkara receh. Sebagai permintaan terakhir bisakah Engkau kembalikan mereka ke sini wahai Jin yang baik budi.”
Putri Sahrazad juga menceritakan tentang Ali Baba melawan empat puluh penyamun, yang juga berkisah tentang kebaikan dan keburukan sekaligus keberuntungan. Ali Baba yang miskin tidak sengaja menemukan gua yang dijadikan tempat penyamun menimbun harta hasil jarahannya. Namun pintu tidak dapat dibuka begitu saja, harus dengan password berupa mantra tertentu yang hanya diketahui oleh raja penyamun, dan tanpa drama berjilid-jilid tahulah Ali Baba mantra pembuka pintu gua, yang dalam lakon ludruk maupun ketoprak dengan meneriakkan kalimat sezam buka pintu, dan bergemuruhlah pintu kokoh dari batu utuh terbuka perlahan, yang mungkin dengan scoring music dari mbah Hans Zimmer akan semakin dramatis. Dan sudah wajibnya bahwa kejahatan akan kalah dengan kebaikan, maka empat puluh penyamun pun keok diakali Ali Baba, dan harta dalam gua, karena belum ada polisi, penegak hukum ataupun APH yang lain, seluruhnya menjadi milik Ali Baba. Si miskin papa berubah menjadi hartawan tak kurang suatu apa.
Dan tak terasa genap 1001 malam Putri Sahrazad mengisahkan dongeng tentang hal-hal tak biasa kepada sang raja, suaminya, yang tersadar bahwa tak semua perempuan sama dan memiliki perangai asusila seperti istrinya terdahulu, maka selamatlah sang putri dari pedang algojo kerajaan.
Lik To nggethu tak hirau dengan keramaian di sekelilingnya, ia fokus dengan secarik kertas penuh dengan coretan dan sebuah buku kecil sarat dengan gambar, lambang, simbol dan berbagai tulisan. Mungkinkan orang tua yang sehari-harinya mengayuh becak dan sering mangkal di Pasar Pon sedang mempelajari ilmu simbologi seperti Prof. Langdon tokoh fiktif rekaan paklik Dan Brown yang sudah memecahkan misteri lukisan mbah Leonardo da Vinci tentang Yesus dan ke-12 rasul-Nya.
Ketika teman-teman sesama pengukur jalan mengajaknya minum kopi di warung yu Jah depan terminal, lik To tetap bergeming menoleh pun tidak, bahkan ia menambah kertas bekas kalender usang untuk memperluas coretan dan gambarnya, hanya satu kata meluncur dari bibirnya yang tak lepas dari kepulan asap, sik, begitu teriaknya sambil lalu.
Mentari sudah lingsir ke barat, sinar jingganya menandakan bahwa senja dengan kesenduan berkala telah tiba, lik To sigeg-sigeg kertas penuh coretan dan buku kecilnya dimasukkan ke kotak di belakang jok becaknya menyisakan secarik kertas yang disimpan di saku baju lusuhnya.
Lewat depan terminal ia diteriaki teman-teman yang tadi mengajaknya minum kopi, dan lik To hanya membalas dengan teriakan, “Prapatan.” Ada harapan dan asa di dalam nada suaranya, semangat dalam mengayuh pedal becaknya.
Hanya seperempat jam, lik To sudah balik lagi merapat di warung yu Jah, duduk methingkrang mengeluarkan sesobek kertas dari saku dan buku kecil yang didekapnya seolah kitab suci dan diletakkannya dengan penuh khidmat di meja.
Sebuah buku ajaib yang memuat berbagai macam kegiatan, profesi, pekerjaan, benda, hewan, peralatan, dan berbagai hal lengkap dengan sederet angka di sampingnya, yang akan membuat kagum siapapun yang membacanya karena akan menimbulkan tanya, bagaimana author buku ajaib ini bisa menghubungkan antara seekor monyet dengan angka 23, bekicot dengan angka 02 (harus ada angka nol-nya, tidak boleh ditulis hanya angka dua saja, karena artinya akan jauh berbeda), pekerja kantoran berangka 54 atau seorang kere (di buku lik To tertulis pengemis bergambar lelaki agak bungkuk berpakaian penuh tambalan dan bertumpu pada tongkat untuk berjalan) dengan angka 33.
“Iki sip pokoke, wis sak kop-e,” ujar lik To penuh percaya diri, teman-teman yang merubungnya melihat sebaris empat angka dan buku 1001 Tafsir Mimpi.
*hasil bincang santai dengan para ratu di ruang kolaborasi





