Kediri

Korban

Indonesia, merah darahku
Putih tulangku, bersatu dalam semangatmu

-gombloh: kebyar-kebyar-

 

korban/kor·ban/ n 1 pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya; kurban: jangankan harta, jiwa sekalipun kami berikan sebagai --; 2 orang, binatang, dan sebagainya yang menjadi menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya: sepuluh orang -- tabrakan itu dirawat di rumah sakit Bogor;
berkorban/ber·kor·ban/ v menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya; menjadi korban; menderita (rugi dan sebagainya); 2 memberikan sesuatu sebagai korban: kami rela ~ demi kejayaan nusa dan bangsa; mengorbankan/me·ngor·ban·kan/ v 1 memberikan sesuatu sebagai pernyataan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya: dia bersedia ~ hartanya untuk perjuangan kemerdekaan bangsanya; 2 menjadikan sesuatu sebagai korban; pengorbanan/pe·ngor·ban·an/ n proses, cara, perbuatan mengorbankan (kbbi.web.id).

Bermula dari kedua putra manusia pertama yang diminta untuk memberikan yang terbaik, sebagai wujud bakti kepada Tuhan yang telah menganugerahkan bermacam kenikmatan sehingga tercukupi segala sarana dan prasarana bagi tugas sebagai khalifah di atas bumi.

Putra pertama yang telah disusupi dengan anasir jahat, memberikan hasil kebun yang bahkan apabila diberikan secara cuma-cuma kepada orang lain untuk dimasak pun belum tentu akan diterima, karena sudah layu, beberapa lembar krowak dimakan ulat, ada yang sudah kering, mulai kisut dan tak lagi menunjukkan kesegaran bahwa itu baru saja dipetik.

Putra kedua, dengan ketaatan dan bekal iman yang tak tergoyahkan oleh apa pun, memberikan hasil ternaknya berupa seekor domba, gemuk, sehat, bulunya mengilap lebat, tanduknya menandakan kekuatan, dan umur yang sudah mencukupi untuk disembelih apabila dimasak menjadi makanan.

Dan Tuhan pun dengan segala kasih dan sayang-Nya, memilih untuk menerima pemberian terbaik dari kedua hamba keturunan penghuni surga yang karena keteledoran diharuskan untuk pindah menjadi bermukim di dunia, maka sejatinya kampung halaman kita adalah surga tempat di mana tak lagi ada sakit dan resah, tak ada sedih maupun gelisah, tak ada khawatir dan ketakutan.

Bapak para nabi menerima perintah lewat mimpi selama tiga hari berturut-turut untuk mempersembahkan anak lelaki satu-satunya yang baru menginjak remaja dan sedang menjadi qurrota a’yun, mulai bisa membantu ayahnya menyelesaikan pekerjaan rumah dan menemani melayani umat. Dan pas sayang-sayangnya itulah sang putra dipaksa untuk menyerahkan hidupnya dengan merelakan nyawanya di depan sebilah pisau sang ayah.

Tuhan penuh cinta tidak membiarkan begitu saja hamba-Nya yang patuh dan taat mengalami dan menjalani kesedihan sendiri, digantinya menjadi kegembiraan dengan menukar leher sang anak menjadi leher seekor biri-biri, yang menurut riwayat adalah biri-biri persembahan dari putra manusia pertama.

Kakek nabi pamungkas gundah bukan kepalang, karena telah mengeluarkan janji bahwa bila memiliki 10 anak lelaki dan hidup hingga dewasa, dia akan mempersembahkan satu anaknya yang paling disayangnya sebagai tumbal di hadapan berhala yang bertebaran mengelilingi Kakbah. Atas nasihat dan arahan sesepuh serta orang pintar pada masa itu (hal ini juga menunjukkan bahwa si anak juga disayang oleh lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar), diundilah si anak dengan 10 ekor unta hingga hasilnya memunculkan unta bukan nama anak terkasih.

100 ekor unta pada akhirnya menjadi pengganti kepala sang anak, dan ini menjadi penanda keistimewaan sang anak yang akan memberikan cucu dan kelak akan menjadi manusia terpilih untuk memberikan kabar tentang hari akhir, hari pertanggungjawaban atas segala tindak dan laku manusia di dunia, terlepas dari profesi dan pekerjaan ketika di tempat fana.

Manusia mulia memilih untuk mengesampingkan keceriaan menikmati kesenangan sesaat dan menggantinya dengan menepi dan menyepi, tak hirau dengan hiruk pikuk kota Mekah yang pada masa itu sudah menjadi jujugan masyarakat Arab dan sekitarnya untuk melaksanakan haji. Dan menjadi kelaziman atas keterbelakangan budaya dan kezaliman mereka, ritual diisi dengan pesta miras, mabuk dan hal tak senonoh yang membuat al amin menyendiri di gua Hira di puncak gunung Cahaya (Jabal Nur), berjarak sekira 6 km dari pusat kota dengan perkiraan waktu mendaki untuk kondisi saat ini sekitar 1 jam, maka tidak usah dibayangkan kondisi pada masa itu, jalan belum tertata rapi, penerangan hanya mengandalkan cahaya bintang dan bulan, tersaruk batu, terluka menyandung kerikil tajam, sesampai di puncak bertambah dengan kesedihan melihat kota Mekah yang penduduknya tak sadar bahwa ada yang salah dan tidak pada tempatnya dengan itu semua.

Setelah menerima wahyu yang menjadi penanda bahwa sudah dilantik menjadi nabi dan rasul, sang cahaya juga meninggalkan kekayaan duniawi dan hidup sederhana serta cukup dengan yang dimakan hari ini, karena bila masih tersisa untuk hari esok menandakan sudah sangat kaya, hingga dilimpahkan semuanya untuk yang membutuhkan.

Godaan harta, tahta dan wanita menghampiri dengan pasti ke sisinya yang ditawarkan para pemuka Quraisy dengan syarat tidak meneruskan panggilan kebaikan yang menggoncangkan sendi-sendi masyarakat jahiliah. Sang Kuasa pun melihat dengan penuh kasih juga menjanjikan untuk menjadikan seperti simbah Sulaiman, namun dijawab cukuplah sebagai abdan nabiya. Maka sudah terbiasa berpuasa karena tidak ada makanan secuil pun di dalam rumah, yang pada akhirnya ketika dipanggil menghadap Tuhan, masih menyisakan utang yang harus dilunasi dan menjadi tanggungan anaknya.

Selesai putra sang fajar menyampaikan pidato di depan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, dirumuskanlah kelima dasar itu menjadi Pancasila dengan masih terdapat tambahan kalimat pada sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Dan ini menjadi perdebatan panjang antara kelompok Islam dan selainnya, bahkan ada ancaman akan ada disintegrasi bangsa bila kalimat itu masih mengekor pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Terjadi tarik ulur yang ulet, masing-masing kelompok perwakilan kukuh dengan pendapat dan argumentasi yang kuat serta prinsip untuk bertahan, yang pada akhirnya mbah Hasyim dan kawan-kawan legowo lebih memilih untuk menyelamatkan persatuan dan kesatuan bangsa daripada mempertahankan sebaris kalimat yang akan berpotensi meruntuhkan bangsa menuju kemerdekaannya.

Hari ini…

Ada yang memilih tidak memanfaatkan waktu istirahatnya untuk tetap berkomunikasi dengan stakeholders lewat telepon pintar, ruang zoom, atau tatap muka secara langsung, ada yang meninggalkan hangatnya kemulan sarung dan selimutan di sepertiga malam terakhir untuk dapat berdua-duaan dengan yang sejati hanya memohon demi kebaikan bangsa dan negeri, ada yang meninggalkan anak istri agar bisa menyedekahkan sedikit waktu dan tenaga hanya untuk berlomba dalam kebaikan, ada yang tetap menebarkan senyum terbaiknya meski lawan bicaranya membalas dengan kerutan di wajah, ada yang menyimpan egonya di tempat terdalam yang tak mungkin untuk diraih kembali dan menggantinya dengan sikap nyegoro demi mengedepankan kemaslahatan bersama, dan itu semua karena tindakan berani berkorban adalah jiwa luhur sebagai manusia dan sebuah tindakan Pancasila.

Selamat Hari Lahir Pancasila!

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
KPPN Kediri
Jl. Basuki Rahmat No.4, Balowerti, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur 64123 
Tel: 0354-682151, 683610 Fax: 0354-682325, 686472

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

 

 

Search