Basuki Rahmat 10
It's my life
It's now or never
I ain't gonna live forever
I just want to live while I'm alive
-Bon Jovi: Its my life-
Sejalur dengan jalan Dhoho lurus ke arah utara setelah perempatan Bank Indonesia (karena di pojok barat-utara terdapat Gedung Bank Indonesia Kediri) masuk jalan Basuki Rahmat, hanya seruas sepanjang seratusan meter. Di sisi timur ada dua institusi (karena Auto 2000 menghadap ke jalan Hasanuddin), Hotel Merdeka (di samping selatannya ada rumah pribadi dengan arsitektur vintage serasa sejuk dengan rimbun pohon dan bunga) dengan Coffe Shop dan Sky Disk-nya, dan tepat di depan Balai Kota Kediri terdapat Kantor Treasury Indonesia.
Pintu masuk ada di sebelah utara, dan akses keluar di sebelah selatan. Saat menapak di pintu masuk (sisi selatan pintu ada tugu penanda biru kuning dari plat besi menjulang lima meter) terdapat tulisan besar in (seolah menegaskan ada in di dalam) yang menandakan sudah benar langkah dituju. Halaman luas dengan paving block bercorak mural seperti dalam ukiran tribal dengan warna biru, kuning dan abu-abu serta garis putih untuk penanda lapangan bola voli, cukup untuk memarkir 20-an kendaraan roda 4 apabila ada acara yang melibatkan satuan kerja mitra, dan parkir kendaraan roda 2 ada di sisi utara.
Sebagai tempat pelaksanaan upacara hari besar nasional, Hari Pahlawan, Kebangkitan Nasional, Kemerdekaan RI, Sumpah Pemuda dan tak lupa Hari Oeang RI yang akan melibatkan Kemenkeu Satu, karena ada dua Kantor Pajak dan satu Kantor Bea Cukai serta mitra perbankan Himbara juga bank swasta yang menerima setoran penerimaan negara baik pajak maupun PNBP, maka pada hari itu halaman ramai dengan barisan peserta upacara dan riuh cerita dan senda gurau.
Namun akan menjadi lebih semarak, ceria serta lebih bergemuruh ketika ada salah satu anggota yang bertambah umur, di pinggir halaman sudah disiapkan seember penuh air, juga kran yang siap menyemprot dengan kekuatan penuh, dan bedak atau tepung untuk prosesi tabur bunga di atas kepala. Ditingkahi jeritan, tawa terbahak hingga perut terasa kaku, lari menghindari balasan lebih kejam, dan permukaan halaman mulai becek serta…yang kuberi bukan jam dan cincin, bukan seikat bunga, atau puisi juga kalung hati…menggema dari sound yang tidak horeg, sambil berjingkrak ringan dan tepuk tangan.
Masuk ke gedung dua lantai dengan arsitektur simetris kiri dan kanan membentuk huruf U, lebih indah dan megah lagi bila ditilik dari sudut bird view, berarti kapan-kapan mesti dipotret menggunakan pesawat tanpa awak (drone) agar semakin tampak dengan jelas kemegahan dan keunikannya. Cerita tentang pesawat tanpa awak, suatu ketika mbah Kartolo pelaku ludruk legendaris dari Surabaya, diminta uang oleh putranya.
“Nggo tuku opo Le?”
“Tuku drone Pak.”
“Opo drone iku?”
“Pesawat tanpa awak Pak.”
“Lha ndhas thok, yok opo mlakune, opo ga nabrak.”
Memasuki gedung akan melewati selasar yang memiliki dua jenis undakan, satu menanjak rata dengan pagar di kiri dan kanan untuk pegangan sebagai jalan bagi tamu penyandang disabilitas terutama pengguna kursi roda. Satu lagi dengan tiga tangga yang juga berfungsi untuk arena foto setelah olah raga senam bugar hari Jumat (or-Semat), dengan format pelatih senam duduk di tengah dan dikelilingi putri Indonesia, paling belakang berdiri atau jongkok para bodyguard yang sudah keberatan perutnya.
Ada empat pilar kiri kanan selasar menyangga atap fiber melengkung seolah melindungi dan memeluk yang lewat di bawahnya, dan sebelum masuk lewat pintu otomatis yang bisa membuka dan menutup sendiri (terkadang tak ada siapa pun yang lewat juga suka membuka dan menutup sendiri), ada tempat cuci tangan dari batu dengan sabun dan tisu. Di seberangnya ada kotak pengaduan, puji Tuhan senantiasa kosong, yang berarti tak pernah ada pengaduan apa pun.
Di utara dan selatan selasar terdapat taman dengan berbagai tanaman pohon dan bunga, rumput terawat rapi (kayaknya nyaman digelar tikar menikmati senja sambil ngeteh dan ngemil tempe gembos), mengundang kupu-kupu, laba-laba, undur-undur, belalang, capung, burung, pacet, katak, sekali-sekali ular namun hanya sampai gerbang depan karena sudah keburu diusir para penjaga, yang menandakan bahwa taman itu berhasil menjadi sebuah taman.
Menempel dengan tembok depan bertuliskan KPPN Kediri ISO, juga ada taman dengan pohon besar di kiri dan kanan sebagai peneduh, seolah mengumumkan datanglah ke sini hati dan jiwamu akan damai dan teduh. Di sisi utara ada pohon bunga kamboja dengan bunga rimbun mekar setiap hari yang bisa dirangkai untuk acara-acara tertentu, sedangkan di sisi selatan meneduhi tempat parkir mobil dinas dan pos jaga menjulang tinggi pohon mangga sebesar pelukan dua orang dewasa, dan di bawahnya tersedia kursi dan tempat duduk sebagai sarana menikmati pagi atau sore sambil melihat lalu lalang di jalanan.
Melewati pintu otomatis akan disambut oleh receptionist yang menebarkan senyum, salam dan sapa sebagai implementasi budaya kerja Kemenkeu, menanyakan segala keperluan tamu yang datang, membawa apa, mau ketemu siapa, sudah mengikat janji atau belum, dan akan disampaikan ke yang bersangkutan, sementara tamu dipersilakan duduk di ruang tamu yang tersedia sofa apabila duduk akan lupa berdiri.
Di sisi utara ada satu ruang yang dibuat khusus untuk para ibu, terutama yang memiliki keperluan khusus dengan bayinya, karena itu selalu tertutup, dengan dekorasi bunga sakura sedang mekar dan latar putih serupa salju. Di sisi selatan ada ruang terbuka untuk pojok UMKM sebagai pengejawantahan program La Basar Si Kediri, tentu saja memajang berbagai produk UMKM mitra. Batik, kerajinan tangan, makanan ringan, dengan tembok berornamen Simpang Lima Gumul serta sepasang sofa kecil yang nyaman untuk menikmati kudapan.
Satu langkah ke depan, masuk ruang front office. Ada seperangkat sofa abu-abu untuk tamu, tapi sudah waktunya rehat, jadi dilanjut pekan berikutnya biar ga kesel yang baca.
*mengenang 36 purnama





