Basuki Rahmat 10 (2)
Ibarat api yang menghanguskan kepasrahan
-K.H. Saputro: Kemauan-
Ruang Front Office seluas lapangan tenis menyambut tamu dengan penataan yang elegan, di sisi tengah dengan latar tulisan nama kantor terdapat dua perangkat meja kursi yang menjadi tempat duduk sekaligus kerja dua punggawa CSO H&Z, masing-masing dengan dua komputer jinjing yang selalu menyala dan siap sedia mempertahankan menyelamatkan… di sisi utara ada satu meja persegi dengan enam kursi putar yang menjadi tempat favorit saat kegiatan doa pagi, sehingga akan ada perlombaan kecil, semacam rebutan untuk mendudukinya meski pada akhirnya personel yang sama hanya berganti posisi. Itulah ruang Mini TLC dengan tulisan Handal menyala di tembok utara, dan menempel di sebelahnya semacam meja bar dilengkapi kursi tinggi.
Jauh di ujung selatan ada mini pantry, tapi sebelum sampai ke sana akan melewati sudut kecil sebagai bentuk kolaborasi dengan BPDLH (Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup) dengan penjaga DS (bukan Digital Signature seperti yang ada di Sakem), dan tepat di depannya ada tempat bermain anak yang suatu ketika pernah terdengar suara anak bermain padahal ruangan sepi dan gelap serta sudah pulang semua. Selangkah ke selatan dibatasi partisi dengan hiasan bambu kuning terdapat ruang tunggu VIP bagi tamu yang memerlukan untuk bertemu dengan tetua, dan satu meja sekretaris.
Melewati itu semua tibalah di mini pantry, terkadang membikin iri tamu yang datang, karena meja, kursi, lemari, lampu, wastafel, peralatan makan dan minum tertata sedemikian rupa sehingga membuat betah dan terasa hangat oh di dalam hati. Tersedia kopi, teh, gula putih, gula rendah kalori dan siapa saja tamu yang datang bisa menyeduh sendiri minuman sesuai selera dan kesukaan masing-masing, meski tetap ada petugas yang selalu sigap menjaga apabila diperlukan sewaktu-waktu. Menyatu di sisi barat ada ruang tempat menyimpan segala macam barang yang diperlukan sebagai penyangga mini pantry, dan di sebelah timur ada pintu buthulan tembus ke ruang Sub Bagian Umum.
Ruang kepala menempel di sebelah sekretaris, sedangkan di sebelahnya ada ruang rapat Sekartaji, tempat berbincang segala hal terkait tugas pelaksanaan Treasury Indonesia secara lebih formal, karena ada tempat non-formal tempat semua uneg-uneg ditumpahkan (nanti akan sampai ke sana), dengan meja panjang dikelilingi 20-an kursi putar dan pasti tahu kursi mana yang paling diincar. Di tembok utara terpampang potret para tetua, tembok selatan ada lukisan besar beberapa ekor kuda berlari, di timur ada berbagai piagam penghargaan dan di barat tersedia TV selebar rentangan tangan untuk menampilkan data dan fakta bila diperlukan dalam rapat (terkadang juga buat nge-yutub).
Lewat pintu buthulan akan tiba di ruang sub bagian umum, sebagai supporting unit, akan di temui ruang kaca seluas 2x2 m, dulu ada IT (bukan judul film horor) di dalamnya. Di sebelahnya duduk K yang pindah ke kota K dan suka ngintip ke dalam ruang kaca lewat jendela. Di depan ada dua ruang kubikel, dulu ada HaE sekarang tinggal E sendiri, karena Ha sudah terbang ke negeri seberang.
Lurus ke utara melewati ruang selasar dengan meja panjang dan beberapa kursi yang menjadi tempat rehat, ada sofa panjang dengan TV di depannya (karena efisiensi tak ada lagi suara dan gambar yang menyala), juga ada lemari penuh buku (Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan nongkrong di raknya, tak lupa Caping 14-nya pak GM) dan dua alat olah raga (yang seharusnya dari pukul 16.30 sampai dengan 17.00 WIB cukup untuk mengeluarkan keringat).
Tiba di ruang utara ada tiga kubikel dan empat meja, dua meja di sisi timur dulu ada ES yang sudah p, dua meja di utara ada Y yang pindah ke A di pulau B, dan A yang pindah ke B di pulau K. Kubikel selatan mepet di dinding dengan tulisan nilai nilai Kemenkeu, di samping pintu tembus ke ruang FO ada DJ/JD (bukan pemutar musik jedag jedug/perusahaan pengiriman barang), di sebelahnya ada EZ/EA (bukan Emergency Zone/Employee Advocacy). Kubikel tengah ada duo R (bukan Rolls Royce bukan pula Raden Roro), kubikel barat ada L2EA (bukan merk blue jeans juga bukan judul lagunya Toto). Kursi di kubikel yang kosong akan digunakan untuk tempat duduk pelajar dan mahasiswa yang sedang PKL maupun magang.
Di barat ruang kubikel ada ruang istirahat, Panji untuk laki-laki dan Galuh untuk perempuan, juga ruang kolaborasi dengan dua meja oval dan kursi sangat ergonomis untuk tempat bincang santai dan terkadang menjadi tempat kerja sambil ngemil jajanan yang selalu ada di atas meja entah dari mana datangnya, seperti rezeki yang datang dari tempat yang tidak disangka-sangka. Selain bincang dan ngobrol, di sini juga menjadi tempat rasan-rasan, bisik-bisik, umik-umik, ruang makan paling cozy, nonton TV, juga bernyanyi karaoke setiap sore menjelang pulang yang tentunya sangat menyenangkan dan cukup satu dua lagu, karena bila bernyanyi sepanjang satu album pertanda esok hari tidak masuk kerja.
Peralatan untuk memasak juga lengkap, mulai dari alat menanak beras, kompor portabel, kulkas dua pintu yang penuh dengan makanan dan minuman entah milik siapa, lemari untuk menyimpan perkakas dan peralatan, dan setiap pekan pada hari Jumat meja akan penuh dengan makanan yang senantiasa berganti menu, yang jelas akan ada satu piring menyendiri, khusus untuk yang belum gedhe yang berarti tidak ada cabe seiris pun di dalamnya.
Masih ada ruang di samping kolaborasi, lantai dua dan halaman belakang, tapi disambung berikutnya saja, sudah sayah yang membaca.





