Aksara
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman
-Ibu Sud: Pergi Belajar-
Alkisah pemuda Aji Saka yang berasal dari tanah Hindustan melakukan perjalanan panjang, menyeberangi lautan, mendaki pegunungan ditemani dua orang sahabat setia, Dora dan Sembada (jangan-jangan animasi Dora the Explorer terilhami dari kisah ini), menuju Medang Kamulan di Pulau Jawa.
Dalam perjalanan tersebut mereka singgah di Pulau Majeti, Aji Saka meninggalkan sebuah pusaka dan meminta Dora untuk menjaganya dengan pesan, tidak ada yang boleh mengambilnya kecuali Aji Saka sendiri. Apabila menelusuri di mesin pencari Google, Pulau (Pulo) Majeti berada di Lingkungan Siluman Baru, Kelurahan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat dan saat ini sedang dibuatkan filmnya oleh Jose Poernomo dengan pemeran utama Tatjana Saphira, Justin Adiwinata dan Maskara Mahendra.
Melanjutkan perjalanan bersama Sembada, tibalah Aji Saka di negeri Medang Kamulan yang diperintah Raja Dewata Cengkar dan menginap serta tinggal di rumah Nyai Sengkeran. Tetangga dan masyarakat sekitar, melihat kebijaksanaan dan dalamnya ilmu Sang Aji (dalam salah satu episode sinetron Rumah Masa Depan ada tokoh bernama Sangaji yang dikisahkan sangat pandai dan menang dalam lomba Cerdas Cermat, dan sejak saat itu siapa pun yang otaknya cerdas akan dijuluki Sangaji), berbondong-bondong berguru dan menimba ilmu hingga tempat itu menjadi padepokan Ki Aji (Mbah Pram dalam Arus Balik mengisahkan bahwa Aji adalah sebutan untuk orang yang memiliki ilmu linuwih dan untuk menghormatinya dipanggil dengan Ki Aji yang menjadi cikal bakal gelar Kiai).
Prabu Dewata Cengkar, jauh sebelum Aji Saka datang, menghendaki pengorbanan dari rakyatnya untuk dijadikan lauk dan santapan sehari-hari. Bermula dari juru masak kerajaan yang tidak sengaja jarinya terluka saat mengiris bahan masakan hingga darahnya menetes dan bercampur dengan bumbu yang ada. Hari itu sang prabu merasakan makanan yang disantapnya berbeda dengan hari-hari sebelumnya, terasa lebih legit dan gurih serta sedap di lidah. Tak kuasa menahan desakan dan titah, juru masak membeberkan rahasia tidak sengaja, maka terhitung mulai saat itu sang prabu menghendaki setiap hari harus ada bumbu yang berasal dari darah dan daging manusia, dan era kegelapan pun dimulai.
Tidak ada yang berani membantah atau menolak, karena hasilnya akan sama saja, tetap ada yang menjadi korban. Berita ini sampailah juga ke telinga Sang Aji, yang sangat peduli dan menaruh empati dengan kondisi dan situasi masyarakat negeri Medang Kamulan. Masih menjadi pertanyaan apakah Medang Kamulan Dewata Cengkar merupakan Medang Kamulan (sebagai cikal bakal kerajaan Mataram Kuno) yang didirikan oleh Mpu Sindok yang memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, tepatnya di Kab. Nganjuk dan meninggalkan prasasti Anjuk Ladang. Dan dari Mpu Sindok akan menurunkan Raja Airlangga yang membagi kerajaan menjadi Jenggala dan Panjalu.
Setelah menyusun strategi dan memohon perlindungan dari Tuhan, Sang Aji pun berangkat ke istana untuk menyerahkan diri secara sukarela menjadi bahan masakan dan korban namun dengan mengajukan satu syarat. Prabu Dewata Cengkar yang heran sekaligus gembira, karena tidak biasanya ada yang datang menyerahkan diri untuk menjadi santapannya, tanpa berpikir panjang mengabulkan syarat yang diajukan Sang Aji.
Sang Aji rela disantap sang prabu bila diberi tanah seluas ikat kepala yang sedang dipakainya, dan sang prabu segera menarik ikat kepala Sang Aji, terus dan terus namun ikat kepala itu tak putus-putus dan tak habis-habis, tidak ketahuan pangkalnya. Sang prabu yang semakin penasaran terus menarik hingga tak terasa tiba di tepi jurang laut selatan, dan akibat rakus, tergesa-gesa, tidak waspada, terperosok jatuh ke laut selatan dan menjadi buaya putih.
Dengan tewasnya Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka disepakati rakyat menjadi raja di Medang Kamulan, dan teringat ia dengan pengiringnya yang ditinggal di Pulau Majeti menjaga pusaka yang ditinggalkannya.
Karena kesibukan dan masih awal menjadi raja, diutuslah Ki Sembada untuk mengambil pusaka tersebut tanpa membekali sesuatu pun dan sudah memercayai kedua sahabatnya akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
Tibalah Ki Sembada di tempat Ki Dora menjaga dengan setia, amanah dan penuh tanggung jawab pusaka yang dititipkan Sang Aji kepadanya. Setelah berkabar dan mengobrol secukupnya, Ki Sembada menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengambil pusaka Sang Aji (andai saat itu sudah ada SMS, WA maupun telepon).
Ki Dora sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan tidak mau menyerahkan karena memegang teguh pesan Sang Aji ketika meninggalkannya bersama pusakanya dahulu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah, Ki Sembada tidak mungkin pulang dengan tangan kosong yang berarti melalaikan tugas dan perintah, demikian juga Ki Dora tidak akan menyerahkan pusaka itu kepada orang lain kecuali Sang Aji sendiri karena menjaga amanah.
Perselisihan itu pada akhirnya diselesaikan dengan adu kesaktian, selama berhari-hari keduanya mengadu jurus, membenturkan ilmu, saling balas, baku hantam dan baku pukul, menendang, menangkis hingga sampyuh berkalang tanah.
Sang Aji ketika tengah memimpin rapat kerajaan bersama para pembantunya mendengar peristiwa Ki Dora dan Ki Sembada, dan ingatlah bahwa kesalahan ada pada dirinya (pemimpin yang mau dan berbesar hati mengakui bahwa ia salah), hingga mengakibatkan kedua sahabat setianya tewas.
Untuk mengenang kesetiaan dan kepatuhan kedua pengiring tersebut Aji Saka menciptakan sajak empat baris.
Ha na ca ra ka (ada utusan)
Da ta sa wa la (saling berselisih pendapat)
Pa dha ja ya nya (sama sama sakti)
Ma ga ba tha nga (sama-sama menjadi mayat)
Sajak ini menjadi aksara Jawa yang sarat dengan makna, nilai-nilai kesetiaan, keberanian, pengabdian, tanggung jawab, amanah, profesionalisme, kerja sama, integritas, pelayanan, kesempurnaan. Aksara ini tidak hanya digunakan untuk menulis Bahasa Jawa, namun juga bahasa-bahasa lain di Nusantara.
Berbeda dengan huruf yang tidak memiliki makna, aksara penuh dengan makna, aksara Jawa, Arab, Mesir, Mesopotamia, hingga UNESCO pun menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara bukan Hari Huruf.
Selamat Hari Aksara.
Disarikan dari berbagai sumber: indonesiakaya.com, detik.com, sampoernaacademy.sch.id, Arus Balik-Pramoedya Ananta Toer, sinau bareng Mbah Nun, sinetron Rumah Masa Depan, pentas Ketoprak Siswo Budoyo.





