Di era modern, pengelolaan keuangan negara tidak lagi hanya dipandang sebagai urusan birokrasi yang kaku. Generasi Z (Gen Z), yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan arus informasi yang cepat, memiliki cara pandang yang berbeda terhadap keuangan negara. Mereka tidak hanya melihat aspek kepatuhan terhadap hukum, tetapi juga menyoroti nilai transparansi, dampak sosial, dan integritas personal dari para pengelolanya.
1. Gen Z dan Cara Pandangnya terhadap Keuangan Negara
Gen Z dikenal sebagai generasi yang kritis, terbuka, dan sangat peduli terhadap isu keadilan sosial. Dalam konteks keuangan negara, mereka cenderung:
- Menuntut transparansi penuh dalam penggunaan anggaran
- Menginginkan akses informasi yang mudah melalui platform digital
- Lebih peka terhadap isu korupsi dan penyalahgunaan wewenang
- Mengharapkan dampak nyata dari anggaran terhadap masyarakat
Bagi Gen Z, keuangan negara bukan sekadar laporan angka, tetapi cerminan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
2. Personality Ideal Pengelola Keuangan Negara Menurut Gen Z
Jika dikaitkan dengan prinsip dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Gen Z cenderung mengharapkan karakter berikut:
- Transparan dan Terbuka
Gen Z terbiasa dengan informasi real-time. Mereka menginginkan pengelola keuangan negara yang tidak tertutup, serta mampu menyampaikan data anggaran secara jelas dan mudah dipahami publik. - Berintegritas Tinggi
Integritas menjadi nilai utama. Sedikit saja indikasi penyimpangan dapat langsung menjadi sorotan publik, terutama di media sosial. - Adaptif terhadap Teknologi
Pengelola keuangan negara diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi, seperti melalui dashboard anggaran atau sistem pelaporan online. - Berorientasi Dampak Sosial
Gen Z lebih menghargai hasil nyata daripada sekadar proses administratif. Mereka ingin melihat bahwa anggaran benar-benar berdampak pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
3. Kritik Gen Z terhadap Sistem yang Ada
Dari sudut pandang Gen Z, meskipun regulasi seperti undang-undang keuangan negara sudah lengkap, masih terdapat beberapa tantangan:
- Kurangnya transparansi yang mudah diakses publik
- Bahasa laporan keuangan yang terlalu teknis dan sulit dipahami
- Lambatnya respon terhadap isu-isu publik
- Ketidaksesuaian antara laporan dan realitas di lapangan
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya pada aturan, tetapi juga pada cara implementasi dan komunikasi.
4. Peran Media Sosial dan Digitalisasi
Gen Z memanfaatkan media sosial sebagai alat kontrol sosial. Mereka dapat dengan cepat:
- Menyebarkan informasi terkait kebijakan anggaran
- Mengkritisi keputusan pemerintah
- Mengawal isu-isu keuangan negara
Akibatnya, personality pengelola keuangan negara juga dituntut untuk lebih responsif, komunikatif, dan akuntabel secara publik, bukan hanya secara administratif.
5. Membangun Kepercayaan di Mata Gen Z
Untuk mendapatkan kepercayaan dari Gen Z, diperlukan pendekatan yang berbeda, antara lain:
- Menyajikan data keuangan secara visual dan mudah dipahami
- Melibatkan publik dalam proses perencanaan (partisipatif)
- Menunjukkan hasil nyata dari penggunaan anggaran
- Menegakkan hukum secara tegas terhadap pelanggaran
Kesimpulan
Dalam perspektif Generasi Z, pengelolaan keuangan negara tidak cukup hanya patuh pada undang-undang. Personality pengelola menjadi faktor kunci yang menentukan kepercayaan publik. Karakter yang transparan, adaptif, berintegritas, dan berorientasi pada dampak sosial adalah harapan utama Gen Z. Dengan menggabungkan kekuatan regulasi dan tuntutan generasi baru, pengelolaan keuangan negara dapat menjadi lebih relevan, terbuka, dan dipercaya oleh masyarakat luas.
by : Christofel Heski Wurangian

