Pembaca yang budiman, kita pasti tahu saat ini pemerintah Indonesia sedang sibuk dengan sebuah program yang sangat mendukung untuk kesejahteraan anak, program apakah itu? Yaa, betul sekali itu adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah program dengan biaya yang sangat besar tetapi memiliki tujuan yang sangat mulia. Program ini langsung menyasar ke anak-anak sekolah dasar dan ibu hamil dari keluarga prasejahtera. Namun pernahkah kita tahu bagaimana kondisi kesehatan anak-anak Indonesia pada tahun-tahun lalu? Ya, tepat sekali kondisi kesehatan anak-anak Indonesia sangat memprihatinkan. Pembaca tentu ingat bagaimana kasus gizi buruk dan stunting yang dialami anak-anak Indonesia khususnya di Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Sulawesi Barat. Pernah seorang pelajar dari Provinsi Nusa Tenggara Timur bercerita bahwa dia dan keluarganya tidak pernah mengonsumsi lauk ayam dan telur karena kemiskinan ekstrem yang dialami keluarganya. Keluarga ini akan bersuka cita dapat menu ayam dan telur ketika ada tetangga yang mengadakan acara syukuran, itupun tidak setiap bulan ada acara seperti itu. Mendengar cerita ini penulis merasa sedih, trenyuh dan teriris-iris tanpa terasa air mata menetes dengan sendirinya. Lalu kita berpikir bagaimana mungkin anak-anak ini akan bisa menangkap pelajaran sedangkan asupan gizi tidak terpenuhi dengan baik?
Kondisi keluarga di atas tidak hanya terjadi pada satu atau dua keluarga, tidak pula hanya terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, tetapi masih banyak keluarga-keluarga lain di seluruh Provinsi di Indonesia. Menurut harian Tempo pada tahun 2023 ada provinsi dengan prevalensi kasus stunting tertinggi yaitu Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan dengan tingkat prevalensi di atas 30%. Prevalensi adalah proporsi (atau persentase) dari suatu populasi yang memiliki karakteristik atau penyakit tertentu pada titik waktu atau periode waktu tertentu.
Kehadiran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program kebijakan prioritas nasional dalam situasi saat ini merupakan sebuah harapan bagi anak-anak sekolah dasar dan ibu hamil dari keluarga prasejahtera. Program ini bertujuan untuk mengatasi masalah stunting, gizi buruk, dan ketimpangan asupan makanan anak-anak sekolah. Sasaran awal adalah anak sekolah dasar dan ibu hamil dari keluarga prasejahtera. Program ini diuji coba pada pertengahan 2025 dengan dilakukan di beberapa daerah antara lain Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan di lapangan ada beberapa dampak positif antara lain: peningkatan kehadiran siswa, siswa bersemangat mengikuti pelajaran, dan siswa sangat senang karena dapat menu yang bergizi dan gratis.
Dampak positif yang lain bahwa program ini akan dapat menggerakkan ekonomi UMKM yang menjadi mitra dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Posisi UMKM dapat sebagai pemberi pasokan sumber bahan mentah yang akan diolah menjadi menu pada saat pemberian Makan Bergizi Gratis. Pemberian Makan Bergizi Gratis kepada siswa dapat berupa makanan basah pada hari Senin, dan makanan lainnya berupa susu, roti, buah, atau ubi pada hari Selasa dan Rabu. Khusus untuk pemberian susu dilakukan dua kali seminggu. Kemudian dengan program ini masyarakat dan anak-anak sekolah dapat memahami tentang pentingnya asupan gizi bagi kesehatan.
Dalam jangka panjang program ini dapat memberikan dampak positif yang lebih besar lagi yaitu sebagai investasi negara. Kenapa bisa disebut demikian? Ya karena dengan terpenuhi standar gizi yang baik bagi siswa-siswa tersebut nantinya anak-anak itu akan tumbuh dengan baik secara mental dan intelektual. Setelah beberapa tahun ke depan anak-anak itu akan menjadi Sumber Daya Manusia yang handal.
Pembaca yang budiman, dari cerita manis tentang program Makan Bergizi Gratis di atas ternyata masih terdapat beberapa kasus untuk dijadikan pelajaran dan evaluasi. Kasus tersebut antara lain, di Jawa Tengah SD Dukuh 03 Sukoharjo terdapat 40 siswa keracunan dengan gejala sakit perut, mual, muntah dan sakit kepala setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis. Kemudian Provinsi Jawa barat beberapa daerah seperti Bandung 342 siswa, Tasikmalaya 400 siswa, Bogor 223 siswa mengalami gejala yang sama setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis. Selanjutnya Provinsi NTT 384 siswa, ibu hamil beserta bayinya mengalami gejala yang sama. Kita semua tentu menyayangkan mengapa hal itu bisa terjadi bukan? Ya, tentu kita merasa kasihan dengan kejadian itu. Kemudian di benak kita muncul pertanyaan apa penyebab itu semua? Dan bagaimana dampak psikologis bagi penerima ?
Ternyata setelah dilakukan penelitian oleh tim ahli bahwa ada beberapa penyebab terjadinya kasus tersebut antara lain:
- Cemaran mikrobiologis
Terjadi karena bakteri seperti Salmonella, E. coli, dan Staphylococcus aureus terdapat pada bahan makanan atau selama proses pengolahan, distribusi, dan penyimpanan.
- Cemaran Kimia
Bisa terjadi karena penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak tepat.
- Pengolahan dan penyimpanan tidak sesuai prosedur
Berisiko menurunkan kualitas dan keamanan pangan.
- Jarak waktu yang terlalu lama
Jarak waktu antara selesai masak dan sampai dikonsumsi yang terlalu lama dapat menurunkan kualitas makanan.
Kejadian tersebut akan berdampak kurang baik bagi penerima yaitu trauma pada anak sehingga para orangtua melarang anak-anak mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis. Dampak lainnya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat pada program pemerintah ini. Dampak psikologis yang kurang baik seperti ini harus segera diberikan solusi yang cepat dan memadai.
Setelah terjadinya beberapa kasus keracunan tersebut pihak-pihak terkait langsung berkoordinasi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sehingga kejadian tersebut tidak terjadi lagi. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah perbaikan yang menyeluruh dari proses pemilihan bahan baku, penyiapan menu, pengujian menu sebelum disajikan, setiap tahap dilakukan pengawasan dari tim ahli. Setelah langkah-langkah seperti di atas diterapkan maka saat ini tidak ada kasus keracunan lagi. Anak-anak sekolah tidak takut lagi untuk mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis, pun demikian halnya para orangtua murid.
Kita semua berharap agar program ini terus berjalan dan selalu dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan di lapangan. Penulis memberikan masukan beberapa hal yang harus dilakukan sehingga program Makan Bergizi Gratis ini dapat terlaksana dengan baik, antara lain:
- Rantai pasok pangan lokal kuat yaitu dengan bekerja sama dengan petani, nelayan, dan UMKM daerah
- Standar menu gizi seimbang nasional dilakukan dengan cara disesuaikan sesuai usia dan kebutuhan energi anak
- Manajemen dan pengawasan secara transparan untuk mencegah kebocoran anggaran atau penyalahgunaan dana.
- Pelibatan masyarakat dan sekolah yaitu orang tua dan guru ikut terlibat memastikan kualitas makanan.
- Evaluasi jangka menengah terhadap indikator gizi dan pendidikan anak.
Pembahasan tentang program Makan Bergizi Gratis dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut: Program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang sangat baik untuk menurunkan kasus gizi buruk dan stunting. Keberlangsungan program ini menuntut kerja keras dan dukungan dari seluruh masyarakat. Pengawasan dan evaluasi secara terus menerus akan meningkatkan kualitas program pemerintah ini.
Selanjutnya penulis tetap optimis dan mendukung penuh upaya pemerintah untuk mengurangi kasus gizi buruk dan stunting melalui program Makan Bergizi Gratis ini. Penulis berharap program ini mendapat dukungan dan kepercayaan masyarakat sehingga program ini tetap berjalan dan dicintai seluruh rakyat Indonesia. Penulis pun berharap kepada para pembaca untuk dapat berpartisipasi dan memberikan dukungan sesuai kemampuan untuk tercapainya program pemerintah yang mulia ini.
Disclaimer
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi



