Jakarta, djpb.kemenkeu.go.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2018 yang belum diaudit (unaudited) kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).”LKPP adalah bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas pelaksanaan APBN” Kata Menteri Keuangan Srimulyani Indrawati saat memberikan sambutan pada penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Pusat atau LKPP tahun 2018 dan entry meeting pemeriksaan LKPP tahun 2018 (27/03). Pemerintah memiliki kewajiban untuk menyampaikan LKPP unaudited kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun angaran berakhir.
Beberapa Menteri turut hadir dalam pelaporan keuangan tersebut seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Menteri Agama Lukman Hakim, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.
Ditjen Perbendaharaan selaku (UIC) penyusunan LKPP telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan kualitas LKPP 2018 antara lain; Menyusun LKPP tahun 2018 melalui system aplikasi LKPP terintegrasi G2, menyelisaikan tindak lanjut rekomendasi BPK dan monitoring tindak lanjut rekomendasi secara berkala, membentuk taks force penyelesaiaan penyebab opini disclaimer pada 2 K/L dan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) pada 6 K/L.
LKPP tahun 2018 yang disampaikan kepada BPK terdiri dari tujuh komponen laporan antara lain laporan realisasi APBN, laporan perubahan saldo anggaran lebih, laporan arus kas, laporan operasional, neraca, laporan perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan.
Dalam kondisi perekonomian dunia yang tidak stabil, pada tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,17% lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Kinerja pada sisi belanja negara menunjukan tren perbaikan yang cukup signifikan, ditunjukan dengan penyerapan anggaran yang mencapai 99,5% disertai dengan kualitas belanja yang semakin baik. Dibanding tahun sebelumnya, terdapat peningkatan belanja Negara sebesar 10% diatas nominal inflasi, sehingga pencapaian sasaran strategis pembangunan dapat tercapai dengan baik.
Pada tahun 2018 penerimaan negara mencapai angka sebesar 102,6% dari target APBN 2018.
Defisit anggaran pada 2018 tercatat sebesar 1,79% lebih rendah dari target defisit yang sebesar 2,19%. “Defisit yang lebih rendah ini, menunjukkan pengelolaan defisit dan keuangan negara yang dilakukan secara hati-hati dan optimal” Kata Sri Mulyani Indrawati.



“Hal yang menjadi catatan adalah bahwa apakah segala koordinasi dan komunikasi yang dilakukan serta membangun aplikasi dapat diterima dengan baik oleh stakeholders, dan kemampuan DJPb untuk dapat membangun sistem yang lebih simpel, sederhana, dan mudah bagi stakeholders,“ pesan Dirjen Perbendaharaan Marwanto Harjowiryono.
Segala kemajuan teknologi dan pengembangan aplikasi yang dilakukan oleh DJPb tidak selalu berarti jumlah SDM yang dibutuhkan semakin sedikit. Optimalisasi teknologi informasi akan berdampak pada perubahan kebutuhan SDM, yang dengan kata lain akan memunculkan jalur karier baru dengan tingkat pengetahuan dan keahlian yang lebih tinggi.
“Meskipun tahun 2018 bukan tahun yang mudah, dengan adanya kekhawatiran karena krisis ekonomi global, kita bisa melewatinya dengan baik. Tahun 2019 tidak akan lebih mudah karena kondisi yang tidak stabil masih berlanjut, yang akhirnya mempengaruhi postur APBN kita. Tahun 2019 juga merupakan tahun politik. Oleh karena itu kita perlu terus waspada. Kita harus tetap menjaga pelaksanaan APBN secara tepat waktu dan tepat kualitas sehingga APBN mampu menjalankan ketiga fungsinya yaitu alokasi, distribusi, dan stabilisasi perekonomian,” sebut Menteri Keuangan.
Digitalisasi penyaluran Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga mendapatkan perhatian khusus dari Menteri Keuangan, karena bantuan teknologi memungkinkan DJPb selaku pembina bisa menelusuri manfaat yang diterima oleh para debitur dan bagaimana mereka mengembangkan usahanya. Adapun terkait Badan Layanan Umum (BLU), Menteri Keuangan menegaskan bahwa waktu 13 tahun sejak ditetapkannya pola pengelolaan keuangan BLU sudah mencukupi untuk masuk ke tahap selanjutnya, yaitu memikirkan bagaimana agar BLU semakin memberikan manfaat bagi rakyat, bukan sekadar menambah jumlah BLU.
