Hari Selasa, 9 September 2025, akan tercatat sebagai momen penting dalam sejarah pengelolaan fiskal Indonesia. Setelah hampir 14 tahun mengabdi dalam beberapa periode berbeda, Sri Mulyani Indrawati resmi melepas jabatan Menteri Keuangan. Tongkat estafet kemudian diserahkan kepada Purbaya Yudhi Sadewa, yang sehari sebelumnya dilantik Presiden dalam perombakan Kabinet Merah Putih.

Suasana di Aula Mezzanine Gedung Kementerian Keuangan pada hari itu penuh haru. Para pegawai memberikan tepuk tangan panjang, sebagian bahkan tidak kuasa menahan air mata. Sebagai pemimpin yang selama ini disegani karena integritas dan ketegasannya, Sri Mulyani meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya.

Namun, yang paling membekas bukan hanya perpisahan itu, melainkan pesan terakhir yang ia sampaikan. Dengan suara bergetar, ia menutup sambutannya dengan kalimat: "Salam sukses untuk semuanya yang hadir, dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia" Sebuah kalimat sederhana, tetapi sarat makna.

Jejak Panjang Kepemimpinan

Sri Mulyani memulai kiprahnya sebagai Menteri Keuangan pada 2005 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak saat itu, namanya identik dengan disiplin fiskal, transparansi, dan keberanian menghadapi kelompok kepentingan yang berusaha merongrong sistem keuangan negara.

Kiprahnya terhenti pada 2010 ketika ia dipercaya menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Namun, panggilan untuk kembali datang pada 2016. Presiden Joko Widodo kala itu meminta Sri Mulyani kembali ke Tanah Air untuk mengawal APBN di tengah tantangan global yang tidak menentu.

Sejak itulah, ia kembali menjadi garda depan dalam menjaga stabilitas fiskal. Perannya sangat krusial terutama saat pandemi Covid-19 melanda. APBN dijadikan instrumen utama penyangga ekonomi, menyalurkan belanja kesehatan, melindungi kelompok rentan, dan menopang dunia usaha agar tetap bertahan.

Di luar angka-angka, Sri Mulyani juga dikenal memperkuat tata kelola kelembagaan di Kementerian Keuangan. Digitalisasi pelayanan, peningkatan profesionalisme SDM, hingga penegakan integritas menjadi agenda yang konsisten ia dorong. Warisan itu kini menjadi fondasi bagi penerusnya untuk melanjutkan.

Purbaya Yudhi Sadewa: Meneruskan Estafet

Purbaya Yudhi Sadewa bukan nama baru di dunia ekonomi. Sebelum dilantik sebagai Menteri Keuangan, ia menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020. Rekam jejaknya sebagai ekonom dan pejabat publik membuatnya dipercaya Presiden untuk memegang kendali fiskal negara.

Dalam pidato perdananya di hadapan jajaran Kementerian Keuangan, Purbaya mengakui bahwa amanah ini sangat berat. Tantangan global yang kompleks, mulai dari ketidakpastian geopolitik, ancaman krisis pangan, hingga perubahan iklim, menuntut kebijakan fiskal yang lincah dan adaptif. Di sisi lain, tantangan domestik juga tidak kalah besar: mengawal program prioritas pemerintah, menjaga defisit tetap terkendali, serta memastikan belanja negara produktif dan berpihak kepada rakyat,

Dengan rendah hati, ia meminta dukungan seluruh jajaran Kemenkeu untuk bekerja bersama menjadikan kebijakan fiskal sebagai instrumen kuat menjaga stabilitas sekaligus motor penggerak pembangunan. Ia pun memberikan penghormatan khusus kepada Sri Mulyani, menyebut integritas dan reputasi internasional yang dibawa pendahulunya sebagai teladan yang harus dijaga.

Pesan Moral di Balik Perpisahan

Apa yang membuat pidato perpisahan Sri Mulyani begitu bergaung? Jawabannya terletak pada makna moral yang terkandung di dalamnya. "Jangan pernah lelah mencintai Indonesia" bukan sekadar kalimat pamit seorang pejabat tinggi. Ia adalah ajakan kebangsaan yang ditujukan kepada seluruh rakyat.

Cinta kepada Indonesia tidak hanya dimiliki oleh pejabat publik. Guru yang mendidik murid dengan penuh dedikasi, petani yang bekerja keras menyediakan pangan, tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa mengenal waktu---semuanya adalah bentuk nyata dari cinta yang sama. Bahkan warga biasa yang patuh membayar pajak dan menjaga kerukunan sosial, juga sedang menghidupi pesan itu.

Dalam konteks Sri Mulyani, cinta kepada Indonesia diwujudkan dalam konsistensi menjaga APBN tetap sehat dan kredibel. Baginya, mengelola keuangan negara adalah ibadah sekaligus pengabdian. Pesan itu kini menjadi refleksi bagi kita semua: sudahkah peran kita sehari-hari menjadi wujud cinta kepada negeri ini?

Regenerasi dan Harapan Baru

Pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan seharusnya tidak dipandang sekadar pergantian orang. Ia adalah bagian dari regenerasi yang alami. Setiap menteri membawa gaya dan prioritas masing-masing, tetapi prinsip dasar pengelolaan fiskal harus tetap sama: menjaga kepercayaan publik.

Purbaya mewarisi APBN 2026 yang telah disiapkan Sri Mulyani. Kerangka keberlanjutan sudah diletakkan, mulai dari penguatan belanja produktif, pengendalian defisit, hingga pembiayaan inovatif. Namun, Purbaya juga dihadapkan pada tantangan baru seperti pembiayaan transisi energi, transformasi digital, dan kebutuhan mendukung agenda pembangunan jangka panjang.

Dalam hal ini, publik tentu berharap bahwa Purbaya dapat mengelola kesinambungan dan inovasi secara seimbang. Keberhasilan menjaga kredibilitas fiskal tidak hanya akan menentukan arah ekonomi, tetapi juga masa depan kesejahteraan bangsa.

Dengan kepergian Sri Mulyani, Indonesia kehilangan sosok teknokrat yang sudah lama menjadi simbol integritas dan profesionalisme. Namun, bangsa ini juga mendapat warisan penting: sebuah pesan kebangsaan yang relevan di setiap zaman---jangan pernah lelah mencintai Indonesia.

Kini, harapan tertuju pada Purbaya Yudhi Sadewa. Seperti halnya pendahulunya, ia dituntut untuk memegang amanah besar ini dengan keteguhan hati. APBN bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan wajah nyata dari cita-cita bangsa.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat perpisahan Sri Mulyani sebagai momen elegan yang menyatukan refleksi dan harapan. Dari tangannya, warisan itu kini diteruskan kepada penerusnya. Dan bagi kita semua, pesan itu adalah pengingat bahwa kecintaan kepada Indonesia tidak boleh pernah padam.

 

Disclaimer : Tulisan diatas adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat organissasi

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

KPPN Watampone
Jl. K.H. Agus Salim No.7, Macege, Tanete Riattang Barat, Watampone, Sulawesi Selatan 92732

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

   

 

Search