Sebagai bagian dari amanah PMK 130/2024 mengenai Pembiayaan UMKM, pelaksanaan Survei Nilai Kinerja Debitur (NKD) Tahun 2025 kembali menjadi agenda strategis bagi seluruh jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Bagi KPPN Wonosari, kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan ataupun pengumpulan data semata. NKD adalah kesempatan untuk turun ke lapangan, mendekatkan diri dengan debitur, sekaligus mengukur dampak nyata pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di tengah masyarakat—sebuah langkah penting dalam memperkuat peran KPPN sebagai Special Mission Advisory di tingkat daerah.
Survei NKD tahun ini melibatkan Kanwil DJPb dan KPPN di seluruh Indonesia sebagai enumerator. Sampel responden disiapkan oleh UKM Center FEB UI, sementara hasil dan pertanggungjawaban survei dilaporkan melalui aplikasi SIMEKA milik Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan pengumpulan data yang lebih terstruktur, representatif, dan akuntabel, sekaligus mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung pemberdayaan UMKM.
Pelaksanaan Survei di Lapangan: Mendekati Debitur, Memahami Cerita Mereka
KPPN Wonosari melaksanakan survei pada 6 dan 11 November 2025, melibatkan empat debitur sebagai responden:
-
Risma Yuni Dwi Astari
-
Niken Nawangsari
-
Ida Qolivah
-
Suprihatini
Tim survei terdiri dari gabungan pegawai ASN dan PPNPN KPPN Wonosari, yaitu:
-
Ibu Sumiyati
-
Istin Sultona
-
Gandung Wahyudi
-
Lintang Indah Permatasari
-
PPNPN: Fachri Purwatmaja, Ali Budi Oktanto, dan Fitria Imroatus S.
Tidak hanya itu, pelaksanaan survei juga dikoordinasikan bersama penyalur PNM Mekaar dari Unit Girisubo dan Tepus, dibantu oleh tim pengawas terkait untuk memastikan proses berjalan lancar, tertib, serta diterima dengan baik oleh para debitur. Pendekatan kolaboratif seperti ini penting karena aktivitas survei membutuhkan keterbukaan, kenyamanan, dan suasana komunikasi yang hangat antara enumerator dan responden.
UMi: Bukan Sekadar Pembiayaan, Melainkan Penopang Harapan
Melalui survei ini, semakin jelas bahwa pembiayaan UMi telah memberi ruang bagi usaha kecil untuk tumbuh, meski dengan langkah-langkah sederhana. Dana yang diterima para debitur digunakan untuk menambah modal, membeli bahan baku, memperbaiki peralatan usaha, atau memperluas dagangan sedikit demi sedikit.
Bagi sebagian orang, angka pinjaman UMi mungkin tampak kecil.
Namun bagi keluarga-keluarga seperti yang ditemui di Wonosari, pinjaman ini adalah harapan.
Harapan untuk berdiri di kaki sendiri.
Harapan untuk menjaga dapur tetap mengepul.
Harapan untuk memberikan sedikit kenyamanan bagi keluarga.
Di sinilah makna NKD terasa lebih dalam: menilai bukan hanya aspek ekonomi, tetapi juga bagaimana pembiayaan ini memberikan dampak sosial yang nyata.
Refleksi dari Lapangan: Sebuah Pengingat Sunyi
Dari perjalanan survei ini, muncul pertanyaan yang menggugah:
Jika mereka yang hidup dalam keterbatasan tetap bersyukur, mengapa kita yang memiliki lebih sering kali masih mudah mengeluh?
Pertanyaan sederhana ini menjadi catatan kecil bagi tim KPPN Wonosari—sekaligus pengingat untuk kita semua—bahwa keberkahan sering hadir di tempat-tempat yang tampak sederhana.
Dan untuk program UMi, satu ucapan layak disampaikan:
Terima kasih, UMi.
Kehadiranmu bukan hanya membantu usaha kecil, tetapi juga menguatkan keluarga yang benar-benar membutuhkan.
Melalui Survei NKD 2025, KPPN Wonosari meneguhkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan UMKM. Kegiatan ini membuktikan bahwa peran KPPN bukan hanya sebagai penyalur anggaran, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat kecil yang berjuang memperbaiki taraf hidupnya.
KPPN Wonosari akan terus hadir, mendukung, dan memastikan program pembiayaan berjalan tepat sasaran serta memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat Gunungkidul dan sekitarnya.
#SurveiNKD2025 #KPPNWonosari #DJPb #UMi #PembiayaanUMKM #PIP #UMKMNaikKelas #SpecialMissionAdvisory #KPPN149 #SiapLayananPasti #Kemenkeu



