
Yogyakarta, 31 Oktober 2025 - Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih menunjukkan tren positif di berbagai sektor, di mana pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,49% (yoy) atau 1,20% (qtoq) pada akhir September tahun 2025. Hal tersebut tak lepas dari peran APBN yang hadir di masyarakat sebagai instrumen fiskal yang dikelola secara hati-hati, namun tetap ekspansif guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Kanwil DJPb DIY) mencatat Belanja Negara sampai dengan akhir September 2025 mencapai Rp14,98 triliun. Belanja Pemerintah Pusat (BPP), Belanja Pegawai, dan Belanja Bantuan Sosial masih konsisten mendorong realisasi belanja pemerintah pusat.
Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta dalam siaran pers yang diterbitkan Kamis (30/10/2025) menyebut kinerja APBN diharapkan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi dengan berangsurnya relaksasi blokir efisiensi, sedangkan termin kontrak untuk belanja modal lebih dari 50% telah dijadwalkan pada semester II. Sementara itu, pada Belanja Transfer ke Daerah (TKD), Dana Keistimewaan DIY sudah terealisasi cukup tinggi yakni sebesar Rp800 miliar (80% dari pagu Rp1 triliun).
"Hingga akhir September 2025, realisasi TKD telah mencapai 79,59% dari pagu," ujar Agung Yulianta.
Sementara itu, Pendapatan Negara di DIY sampai dengan September 2025 telah terealisasi Rp6,67 triliun atau 63,76% dari target. Salah satunya Penerimaan Pajak yang realisasinya mencapai Rp5,19 triliun hingga 30 September 2025 dengan PPh, Cukai, dan Bea Masuk sebagai kontributor utama.
Jenis perpajakan PPh, Cukai, dan Bea Masuk memiliki kontribusi pada Penerimaan Perpajakan masing-masing 51,97%; 65,25%; dan 72,63%. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh positif 10,77% yang dipengaruhi oleh kenaikan pendapatan BLU sebesar 17,00% (yoy) pada kegiatan Pendapatan Jasa Pelayanan Rumah Sakit dan Pendapatan Jasa Pelayanan Pendidikan.
Agung Yulianta menegaskan, kinerja APBN di DIY tersebut menghadirkan sejumlah program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari berbagai jenis bantuan sosial antara lain Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang terealisasi Rp463,74 miliar untuk 832.710 peserta terkonfirmasi.
Lalu ada Program Keluarga Harapan (PKH) terealisasi Rp215,22 miliar untuk 277.744 peserta terkonfirmasi, dan Yatim Atensi (YAPI) terealisasi Rp5,58 miliar untuk 13.253 peserta terkonfirmasi sampai dengan akhir September 2025. Selanjutnya, Bantuan Pendidikan antara lain Progam Penerima BOS (Kemenag) yang teralisasi Rp25,30 miliar untuk 17.110 penerima, Progam Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) terealisasi Rp9,63 miliar serta Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dengan realisasi Rp10,80 miliar untuk 995 mahasiswa.
Untuk menjaga ketahanan pangan, kinerja APBN di DIY juga terwujud dalam bentuk subsidi pupuk yang telah terealisasi sebanyak 37.624,39 ton (51,57% dari alokasi sebanyak 72.961 ton). Subsidi pupuk ini terdiri atas pupuk Urea, pupuk NPK, pupuk NPK Kakao, dan pupuk organik. Sementara itu, subsidi listrik sampai dengan akhir September 2025 di wilayah DIY mencapai Rp111,82 miliar dengan jumlah pelanggan sebanyak 583.890.
"Kinerja APBN hingga 30 September 2025 tetap solid dan terjaga. APBN terus dikelola secara hati-hati namun ekspansif sebagai instrumen fiskal utama guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global," tutur Agung Yulianta.




