
Yogyakarta, 5 Desember 2025 - Inklusivitas bukan sekadar memberikan ruang yang setara kepada semua pihak termasuk penyandang disabilitas, tetapi juga mengakui dan memberikan tempat bagi potensi mereka yang tak kalah mengesankan. Sebagai bentuk komitmen untuk konsisten menciptakan kesetaraan bagi semua, Rumah Pemberdayaan Hanenda bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Kanwil DJPb DIY) menggelar "Hanenda & Kanwil DJPb DIY Disability Fest" pada 5-6 Desember 2025 dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional.
Digelar di Treasury Learning Center (TLC) Yogyakarta yang ramah bagi semua kalangan, kegiatan ini diwarnai dengan banyak keseruan. Mulai dari pameran lukisan hasil karya para difabel, pembukaan stan-stan UMKM yang juga dilakukan para penyandang disabilitas hingga berbagai kesenian tari dan menyanyi yang juga melibatkan difabel.
Tak hanya itu, pembukaan acara ini juga dihadiri langsung oleh Pemerhati Disabilitas sekaligus Duta Kesetaraan Hanenda yang juga penyanyi Paramitha Rusady dan sutradara Aditya Gumay. Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta beserta unsur dari pemda juga berkesempatan hadir dalam momen tersebut.
Dalam sambutannya, Agung Yulianta menegaskan kegiatan ini merupakan wujud konkret kehadiran negara untuk mendukung penyandang disabilitas demi meraih kesetaraan dalam berkarya serta berkontribusi bagi bangsa. Menurutnya, konsistensi dalam mewujudkan kesetaraan dapat dilakukan secara bersama-sama melalui kolaborasi pihak-pihak yang terkait.
"Kegiatan ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya melalui program-programnya, tapi juga pemanfaatan aset negara agar bisa dipakai untuk bersama sama mendukung inklusivitas. Semangat kolaborasi yang terbangun di dalam kegiatan hari ini membuktikan bahwa ketika masyarakat, komunitas, dan instansi pemerintah bergerak bersama-sama, maka dapat tercipta sebuah ruang inklusif yang memberikan manfaat," kata Kepala Kanwil DJPb DIY.
Sementara itu Pembina Hanenda, Sri Nurhayati berharap peringatan Hari Disabilitas Internasional tak sekadar seremonial belaka. Ia menegaskan bahwa para penyandang disabilitas memiliki potensi luar biasa yang wajib didukung sehingga mereka memiliki kesetaraan di semua bidang meski memiliki keterbatasan.
"Kami memiliki program-program termasuk perfilman, seni, dan budaya untuk membina serta membimbing teman-teman yang berkebutuhan khusus karena mereka memiliki potensi-potensi yang luar biasa untuk bisa menjadi mandiri di semua aspek," ucapnya.
Duta Kesetaraan Hanenda, Paramitha Rusady mengaku kegiatan Disability Fest ini menjadi momen yang penting bagi dirinya. Menurutnya, para penyandang disabilitas ingin menjadi pemimpin inovatif dan pengukir sejarah tanpa perlu dikasihani. Ia pun menyebut sosok penyanyi Putri Ariani.
"Di mata saya, Putri Ariani adalah simbol keberanian dan bukti hidup bahwa penyandang disabilitas bukan hanya objek yang perlu dibandingkan dan mereka tidak ingin dikasihani. Bukan harus dipanggil dengan air mata, melainkan subjek yang mampu menjadi pemimpin inovator dan pengukir sejarah. Dan saya ingin menyampaikan aku, kamu, kita setara," ujarnya.

Puncak pembukaan kegiatan ini dimeriahkan dengan sendratari Rama dan Shinta yang melibatkan kolaborasi antara anak-anak difabel dengan pegawai Kanwil DJPb DIY. Pentas seni ini juga diiringi musik gending Jawa dari kelompok karawitan Laras Swara Artha dari Kanwil DJPb DIY.
Pada hari kedua, Hanenda dan Kanwil DJPb DIY menggelar kegiatan Ruang Isyarat yang membuka kesempatan bagi semua pihak untuk belajar mengenai bahasa isyarat serta seminar mengenai disabilitas. Melalui kegiatan ini, semua pihak yang terlibat menegaskan komitmennya untuk mengakui keberagaman kemampuan dan kondisi di masyarakat sebagai kekuatan serta menjadi tanggung jawab bersama demi memastikan seluruh individu terlibat dalam pembangunan.




