
Perkembangan Kinerja Fiskal Regional Gorontalo Periode s.d 30 April 2025
“Optimisme Ekonomi Gorontalo:Pertumbuhan Solid dan Dukungan Fiskal yang berkelanjutan”
Gorontalo, 28 Mei 2025 – Di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika domestik yang terus bergerak, Provinsi Gorontalo menunjukkan performa fiskal dan ekonomi yang tangguh. Dalam gelaran Press Conference APBN Regional Lo Hulonthalo yang diselenggarakan di Kota Gorontalo, pada 28 Mei 2025, sejumlah indikator makro dan realisasi anggaran dipaparkan sebagai bukti keberlanjutan pemulihan dan penguatan ekonomi di Bumi Serambi Madinah.
Ekonomi Gorontalo Tumbuh Solid 6,07 Persen
Triwulan I 2025 menjadi titik cerah bagi ekonomi Gorontalo dengan capaian pertumbuhan 6,07 persen (yoy) — lebih tinggi dari rerata nasional. Angka ini sedikit meningkat 0,15 persen (qtq) dibandingkan Triwulan IV 2024, mengindikasikan momentum pertumbuhan yang terjaga. Nilai PDRB Gorontalo (ADHK) tercatat sebesar Rp8.450,87 M dan (ADHB) sebesar Rp14.136,02 M. Pertumbuhan ini disokong oleh kinerja ekspor barang dan jasa yang melonjak 8,4 persen, serta pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh sehat di angka 4,82 persen. Nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar nelayan (NTN) juga meningkat, masing-masing menjadi 114,07 dan 102,78, menandakan daya beli dan keberlanjutan usaha petani-nelayan mulai membaik. Sementara itu, tingkat kemiskinan menurun menjadi 13,87 persen, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik menjadi 72,01, memperlihatkan perbaikan kesejahteraan secara menyeluruh. Meskipun demikian, inflasi tetap menjadi perhatian utama. Pada April 2025, laju inflasi tahunan (yoy) di Provinsi Gorontalo mencapai 2,30 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 1,95 persen pada April 2025. Secara bulanan (m-to-m), inflasi tercatat 1,09 persen. Kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran menjadi pemicu utama inflasi ini. Kelompok-kelompok tersebut adalah makanan, minuman, dan tembakau (4,99 persen); pakaian dan alas kaki (0,94 persen); perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga (0,58 persen); kesehatan (1,06 persen); rekreasi, olahraga, dan budaya (0,75 persen); pendidikan (0,55 persen); penyediaan makanan dan minuman/restoran (1,52 persen); dan perawatan pribadi dan jasa lainnya (4,73 persen). Komoditas seperti Ikan Selar/Tude (0,46 persen), Cabai Rawit (0,45 persen), dan Emas Perhiasan (0,39 persen) adalah penyumbang utama inflasi.
APBN Regional On Track: Belanja Naik, Defisit Terkendali
Kinerja APBN di wilayah Gorontalo hingga April 2025 mencerminkan peran aktif fiskal sebagai instrumen stabilisasi dan pertumbuhan. Realisasi pendapatan mencapai Rp391,50 miliar atau 26,92 persen dari target, tumbuh 2,29 persen yoy. Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp3,246 triliun, atau 31,31 persen dari pagu, naik signifikan 10,38 persen dibanding tahun lalu. Meski mencatat defisit regional sebesar Rp2,85 triliun, pemerintah pusat berhasil menjaga keseimbangan primer positif di tingkat nasional. Peningkatan belanja difokuskan pada sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial.
Dana Desa dan TKD: Tulang Punggung APBD Daerah
Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) menjadi kunci distribusi fiskal ke wilayah. Per April 2025, total TKD yang disalurkan mencapai Rp2,27 triliun atau 34,86 peresen dari total pagu, dengan realisasi tertinggi pada Dana Desa (53,22 persen) dan Dana Alokasi Umum (38,73 persen). Secara konsolidasi, TKD menyumbang 89,31 persen dari total pendapatan daerah, menunjukkan peran krusial APBN dalam menopang struktur fiskal daerah. Di sisi lain, hal ini menjadi alarm untuk terus mendorong optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang hingga April 2025 baru terealisasi Rp190,08 miliar, atau 13,5 persen dari target.
Kredit Program: Perdagangan Dorong UMKM Daerah
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Gorontalo mencapai Rp189,3 miliar kepada 4.170 debitur. Kabupaten Gorontalo mencatat penyaluran tertinggi, baik dari sisi nominal (Rp68,25 miliar) maupun jumlah penerima (1.618 debitur). Sektor Perdagangan Besar dan Eceran mendominasi, menyerap lebih dari 50% penyaluran KUR. Sementara itu, program Ultra Mikro (UMi) menyalurkan Rp6,94 miliar kepada 1.282 debitur, meski masih menghadapi tantangan berupa irisan produk pembiayaan sejenis dan minimnya koperasi penyalur.
Bansos dan Program Sosial: Jaring Pengaman Terus Diperkuat
Hingga April 2025, Bantuan Sosial (Bansos) tersalurkan sebesar Rp126,10 miliar kepada 197.270 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Program unggulan seperti BPNT, PKH, dan YAPI terus menjangkau masyarakat, dengan Kabupaten Gorontalo sebagai penerima tertinggi.Tak kalah penting, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau ribuan siswa di seluruh kabupaten/kota. Inisiatif ini juga melibatkan sektor swasta seperti PT Pani Gold Project di Pohuwato yang menyediakan makanan bergizi bagi ratusan siswa dan guru.
Optimisme Terus Dijaga, Kolaborasi Diperkuat
Realisasi APBN dan kinerja ekonomi Gorontalo hingga April 2025 menunjukkan arah yang positif dan terkendali. Dengan dukungan belanja negara, dana transfer ke daerah, serta program perlindungan sosial dan pembiayaan UMKM, pemerintah daerah dan pusat diharapkan terus memperkuat kolaborasi. Ke depan, fokus perlu diarahkan pada penguatan PAD, efektivitas belanja daerah, serta penguatan kelembagaan dan kapasitas fiskal daerah agar ketergantungan terhadap TKD dapat perlahan dikurangi, menuju kemandirian fiskal yang berkelanjutan.




