Sampai Kuartal III Tahun 2024 APBN Jawa Barat Tetap Solid
Bandung, 29 Oktober 2024
- Perkembangan Perekonomian Sampai dengan 30 September 2024
- Pertumbuhan ekonomi global masih dibayangi risiko dan ketidakpastian, antara lain disebabkan oleh dinamika pasar keuangan (volatilitas nilai tukar & yield), eskalasi perang dagang AS-Tiongkok, peningkatan fragmentasi dan proteksionisme, terbatasnya support kebijakan untuk pertumbuhan global, lemahnya prospek pertumbuhan global, serta belum redanya perang Rusian-Ukraina dan memanasnya situasi di Timur Tengah.
- Inflasi domestik di wilayah Jawa Barat bulan September terkendali, sebesar 2,09% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,68. Penyumbang utama inflasi yoy diantaranya komoditas beras, emas perhiasan, sigaret kretek mesin, kopi bubuk, dan sigaret kretek tangan.
- Neraca perdagangan Jawa Barat surplus di angka USD 2,33 miliar. Ekspor USD 3,53 miliar, sementara Impor sebesar USD 1,20 miliar.
- Nilai Tukar Petani (NTP) turun menjadi 111,98 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) juga turun menjadi 112,04. NTP Jawa Barat turun akibat dari penurunan NTP Hortikultura yang dalam.
-
Perkembangan APBN sampai 30 September 2024
- APBN kembali mencatatkan surplus sebesar Rp18,55 triliun dengan total pendapatan sampai 30 September 2024 mencapai Rp112,096 triliun (68,45 persen dari APBN, sementara total belanja mencapai Rp93,55 triliun (73,41 persen dari APBN).
-
Pendapatan Wilayah Jabar tumbuh sebesar 2,88 persen (yoy) atau senilai Rp3,14 triliun. Kenaikan terbesar terjadi pada Pajak penghasilan Non Migas yang tumbuh 9,10 persen atau senilai Rp3,70 triliun. Kenaikan Bea Masuk sebesar 7,75 persen karena terdapat importasi Bulog dan realisasi pelunasan dari hasil audit cukup signifikan.
-
Kinerja Belanja Pemerintah Pusat mengalami pertumbuhan sebesar 14,91 persen atau senilai Rp12,14 triliun. Pertumbuhan terjadi pada semua jenis belanja kecuali Belanja Modal, pertumbuhan terbesar pada belanja Barang sebesar 17,77 persen atau senilai 2,27 triliun.
-
Realisasi TKD tumbuh sebesar 15,73 persen (yoy) pertumbuhan terjadi di semua jenis Dana Transfer. Realisasi terbesar pada DAU sebesar Rp5,50 triliun. Pertumbuhan tertinggi pada Dana Insentif Fiskal (DIF) sebesar 566,81 persen karena meningkatnya pemda yang mendapat DIF.
-
Keseimbangan Primer menunjukkan surplus sebesar Rp18,55 triliun yang lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Semakin membaiknya kinerja penerimaan perpajakan dan PNBP memberikan andil yang kuat dalam menciptakan angka surplus.
-
Penerimaan pajak s.d. September 2024 mencapai Rp 85,48 triliun. Dari semua jenis pajak, hampir semua terkontraksi. Kelompok PPN dan PPnBM mengalami kontraksi sebesar 1,11 persen (Rp446 miliar) dibanding periode yang sama tahun lalu. PBB tumbuh negatif 13,83 persen (Rp65 miliar), dan Pajak lainnya tumbuh negatif 3,69 persen (turun Rp24 miliar). Sedangkan, jenis pajak PPh Non Migas mengalami pertumbuhan sebesar 9,10 persen (Rp 3,699 triliun). Namun demikian, secara total Penerimaan pajak tahun 2024 tumbuh positif sebesar 3,84 persen (Rp3,164 triliun), dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Jika dilihat dari realisasi per bulan, secara netto, pada realisasi bulan September 2024 sebesar Rp. 9,24 triliun. Lebih besar jika dibanding realisasi netto bulan September 2023 sebesar Rp. 6,51 triliun.
-
Distribusi target penerimaan untuk Kanwil DJBC Jawa Barat TA 2024 Rp36,09 triliun, naik 2,69 persen dari target Tahun 2023. Penerimaan rutin Rp21,07 triliun (58,66 persen) dan Extra Effort Rp109,15 miliar (0,52 persen). Pertumbuhan penerimaan cukai EA disebabkan karena perubahan bisnis pelunasan cukai dari Tangerang ke Bogor.Kanwil dan KPPBC melakukan penindakan rokok ilegal sebanyak 3.340 penindakan, jumlah Barang Hasil Penindakan 45,7 juta batang dengan perkiraan nilai barang Rp62,17 miliar dan potensi penerimaan negara yang hilang Rp33,53 miliar. Bea Masuk tumbuh 7,85 persen atau Rp35,05 miliar (yoy), didorong oleh:(a) Importasi Bulog melalui pelabuhan Patimban pada KPPBC Purwakarta, (b) Adanya realisasi pelunasan dari hasil audit yang nilainya cukup signifkan, (c) Hal yang menjadi perhatian basis penerimaan rutin dari Kawasan Berikat & Gudang Berikat (BC 2.5), Pusat Logistik Berikat (BC 2.8), dan Importasi komoditas kendaraan (BC 2.0 Pembayaran Berkala).
-
Total realisasi PNBP tumbuh positif sebesar 11,30 persen (yoy) dengan capaian 106,99 persen dari target Rp5,08 triliun yang kontribusi dari berbagai sumber PNBP lainnya dan pendapatan yang dihasilkan Badan Layanan Umum. Beberapa jenis pendapatan mengalami penurunan, namun pendapatan terkait kendaraan bermotor dan pendidikan menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hal ini mencerminkan adanya perubahan prioritas konsumsi masyarakat untuk pendidikan dan mobilitas.
-
Dalam rangka percepatan transformasi ekonomi jangka pendek, Pemerintah mengalokasikan peran fiskal melalui berbagai kegiatan. Antara lain Pengendalian Inflasi (Stabilitas Harga), Penghapusan Kemiskinan Eksatrem, Penurunan Prevalensi Stunting, Peningkatan Investasi, penurunan Tingkat Pengangguran, dan Bantuan Sosial. Pengendalian Inflasi (Stabilitas Harga) dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga dalam bentuk kegiatan Prasarana Jaringan Sumber Daya Air, Prasarana Bidang SDA dan Irigasi, OM Prasarana Bidang Konektivitas Darat (Jalan), OM Prasarana Bidang SDA dan Irigasi, OM Prasarana Jaringan Sumber Daya Air. Penghapusan Kemiskinan Ekstrem dialokasikan Pagu Rp1,31 triliun dengan Realisasi Rp780,29 miliar atau 59,68 persen. Penurunan Prevalensi Stunting Pagu Rp44,79 miliar, Realisasi sebesar Rp89,94 miliar atau 62,12 persen. Alokasi pagu untuk Penurunan Tingkat Pangangguran terdapat pada Kementerian Ketenagakerjaan sebesar Rp329,27 miliar dengan realisasi Rp166,51 miliar (50,57 persen). Realisasi Bansos s.d. 30 September 2024 di Jawa Barat mencapai Rp12,36 triliun dengan jumlah 29.434.719 KPM yang terdiri dari Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Program Keluarga Harapan (PKH), Yatim Piatu (YAPI) dan Kartu Prakerja.
-
Sebagai kesimpulan, di tengah dinamika global masih tinggi yang dipengaruhi oleh tensi geopolitik, kontraksi aktivitas, perdagangan dan manufaktur, serta volatilitas pasar keuangan harga komoditas. Inflasi domestik di wilayah Jawa Barat bulan September terkendali, sebesar 2,09 %(yoy). Kinerja APBN s.d. September 2024 tetap solid melaksanakan peran fiskal mendukung pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Belanja Negara tumbuh cukup tinggi dengan dijaga kualitasnya didukung dengan semakin membaiknya kinerja penerimaan perpajakan dan PNBP yang memberikan andil yang kuat dalam menciptakan angka surplus.
*********
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat
Gedung Dwi Warna, Jalan Diponegoro Nomor 59, Bandung pada telepon (022) 7207046


