Perekonomian Jabar Tetap Tangguh
Didukung Kinerja Fiskal Yang Solid dan Terjaga
Bandung, Juni 2026
Perkembangan APBN hingga 31 Mei 2026
- Kinerja APBN di Jawa Barat sampai dengan 31 Mei 2026 kembali mencatatkan surplus regional sebesar Rp15,55 triliun di tengah kekhawatiran kondisi global yang mempengaruhi kinerja fiskal. Surplus APBN Jawa Barat tersebut terdiri atas total Pendapatan Negara sebesar Rp60,66 triliun (32,18% dari target), sementara total Belanja Negara sebesar Rp45,11 triliun (41,76% dari pagu).
- Pendapatan Negara s.d. 31 Mei 2026 kembali tumbuh, pada akhir Mei 2026 tercatat tumbuh sebesar 5,62%. Tumbuhnya pendapatan negara per 31 Mei 2026 ini didorong oleh Penerimaan Perpajakan sebesar Rp57,63 T yang tumbuh sebesar 6,11% (yoy) walaupun Penerimaan Bukan Pajak yang terkontraksi sebesar 0,65% (yoy). Penerimaan dari Sektor Pajak Dalam Negeri sebesar Rp4,66 triliun dan tumbuh 11,34% sedangkan sektor Kepabeanan dan Cukai menyumbang Rp11,87 triliun namun terkontraksi sebesar -10,17% (yoy). Penerimaan dari sektor pajak mencatatkan pertumbuhan, kecuali penerimaan pajak lainnya. Sektor ekonomi yang menyumbang pertumbuhan tertinggi pada sisi penerimaan perpajakan per 31 Mei 2026 adalah pada sektor Keuangan dan Asuransi yang tumbuh 40,31% (netto), sektor transportasi dan pergudangan (28,17%), Jasa Profesional (24,21%), Perdagangan (21,35%), dan Administrasi Pemerintahan (19,75%). Hal ini disebabkan karena peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat terutama menjelang saat Hari Raya Idul Adha dan libur panjang. Walaupun demikian, penerimaan pajak terbesar tetap disumbang dari sektor Industri Pengolahan sebesar Rp21,62 T, tumbuh tipis 6,08%. Sektor ini yang mendominasi sekitar 40-50% dari total penerimaan pajak di Jawa Barat.
- Realisasi PNBP sampai dengan Mei 2026 sebesar Rp3,03 Triliun atau 44,26% dari target tahun 2026, mengalami kontraksi sebesar 2,93% (yoy). Penerimaan PNBP kembali mencatatkan kontraksi seperti bulan sebelumnya walaupun biasanya Penerimaan PNBP akan mengalami pertumbuhan pada periode setelahnya sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kontraksi pada PNBP per 31 Mei 2026 didorong oleh penurunan penerimaan PNBP Lainnya yang terkontraksi 15,26% (yoy). Kontraksi terbesar terdapat pada Penerimaan PNBP POLRI (Pendapatan STNK, TNKB dan BPKB), Jasa Pelayanan Pertanahan serta PNBP Uang Sitaan TPPU dan Uang Pengganti Tipikor.
- Hingga 31 Mei 2026, Belanja Negara telah terealisasi Rp45,11 triliun atau 41,76% dari pagu tahun 2026 sebesar Rp108,03 triliun, secara yoy kembali mengalami pertumbuhan sebesar 1,67% meningkat disbanding pertumbuhan pada periode sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama pada Belanja Kementerian/Lembaga yang mengalami pertumbuhan 27,71%. Pertumbuhan belanja K/L ini terjadi pada seluruh jenis belanja. Belanja K/L sampai dengan 31 Mei 2026 terealisasi sebesar Rp16,66 triliun atau 35,54% dari pagu, tumbuh dibanding tahun lalu pada semua komponen belanja. Pertumbuhan tertinggi pada Belanja Modal yang mencatatkan realisasi Rp1,88 triliun, tumbuh 126,60% (yoy) dibanding Mei 2025. Sebaliknya,Belanja Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) masih mencatatkan kontraksi sebesar -9,18% (yoy). Perlambatan TKDD tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan pagu TKDD pada tahun 2026.
- Transfer Ke Daerah dan Dana Desa tercatat tumbuh negatif 9,18% dengan realisasi sebesar Rp28,45 triliun atau capaian 46,52% dari pagu. Penyaluran TKD hingga 31 Mei 2026 sudah mencapai Rp27,62 triliun (46,61% dari pagu) terkontraksi 1,59% (yoy), sementara Dana Desa mencapai Rp832,47 miliar (43,58%) terkontraksi 74,48% (yoy). Tingginya kontraksi pada Dana Desa disebabkan karena tertahannya penyaluran Dana Desa pada awal tahun anggaran 2026. Dana Desa baru bisa disalurkan pada Bulan Maret 2026 setelah terbitnya PMK No. 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa Tahun 2026.
- Selain realisasi belanja yang tercantum dalam I Account APBN, terdapat berbagai program prioritas yang pelaksanaan dan penyalurannya dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat dan memberi manfaat kepada masyarakat di wilayah Jawa Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaksanakan di 27 Kab/Kota dilaksanakan oleh 6.794 SPPG dan melibatkan 30.132 supplier, secara total program MBG telah menjangkau 14,68 juta penerima manfaat. Kemudian, Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) telah menjangkau 15.915 penerima dengan realisasi Rp2,0 triliun melibatkan 19 Asosiasi, 1.087 pengembang dan 1.750 perumahan. Untuk perkembangan pembentukan KDKMP, telah terbentuk 5.970 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Saat ini pemetaan gerai aktif KDKMP telah mencapai 56,32%. Program Sekolah Rakyat telah beroperasi di 20 lokasi dengan jumlah 47 unit sekolah dengan rincian 13 SD, 23 SMP, dan 11 SMA. Sedangkan, Program Revitalisasi Sekolah telah dilaksanakan oleh tiga Kementerian walaupun masih terdapat catatan program yang belum merata di Jawa barat. Target Revitalisasi Sekolah pada 1.699 unit dan telah terealisasi 1.625 unit. Kemudian, Program SMA Unggul Garuda saat ini telah dikembangkan beberapa sekolah antara lain SMA Cahaya Rancamaya, SMA Pribadi Bandung, SMA Islam Al Azhar 24, SMA Dwi Warna Boarding School, SMA IT As-Syifa Boarding School Wanareja, SMAS Insan Cendekia Al Kausar, dan SMAS Darul Hikam Internasional dan telah berjalan sejak tahun ajaran 2025. Sedangkan, Capaian Prioritas Ketahanan Pangan telah terealisasi Rp2,37 triliun dengan capaian serapan beras mencapai 491.297 ton.
- Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai dengan Mei 2026 sebesar Rp16,12 triliun kepada 245,83 ribu debitur dan penyaluran Kredit Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp926,45 miliar untuk 161,58 ribu debitur. Penyaluran KUR di Provinsi Jawa Barat berkontribusi sebesar 11,50% terhadap penyaluran KUR secara nasional dengan penyaluran terbesar pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar Rp6,29 triliun.
Kondisi Makroekonomi Regional
- Perekonomian Jawa Barat triwulan I 2026 tumbuh 0,24% (q-to-q) dan 5,79% (yoy). PDRB ADHK tercatat sebesar Rp 475,41 triliun dan ADHB sebesar Rp799,11 triliun. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan Nasional memiliki pola yang serupa dengan distribusi yang tidak jauh berbeda didorong pertumbuhan pada Industri Pengolahan sebagai kontributor terbesar.
- Tingkat Inflasi Mei 2026 sebesar 3,07% (yoy) dengan IHK 111,77. Inflasi tertinggi di Kota Bandung (3,32% yoy); sedangkan inflasi terendah di Kabupaten Subang (2,61% yoy). Komoditas Penyumbang utama inflasi yoy pada bulan Mei 2026 adalah emas perhiasan (0,72%), Daging Ayam Ras (0,19%), Beras (0,18%), Minyak Goreng (0,15%), dan Bahan Bakar Rumah Tangga (0,14%). Sedangkan yang memberikan andil deflasi adalah komoditas Sabun Deterjen Bubuk (-0,07%), Pembersih Lantai (-0,04%), dan Tarif Jalan Tol (-0,01%).
- Neraca Perdagangan Jawa Barat April 2026 Surplus USD 2,35 miliar. Total Ekspor USD 3,45 miliar (↑ m-to-m, ↑ y-on-y) dan Total Impor USD 1,10 miliar (↑ m-to-m, ↑ y-on-y). Pada Januari-April 2026 secara total mengalami surplus USD 8,90 miliar. Berdasarkan transaksi perdagangan Nonmigas, neraca perdagangan dengan AS menunjukkan surplus mencapai USD 1.960,93 Juta, sedangkan defisit perdagangan dengan Tiongkok dan Taiwan mengalami defisit -USD 698,63 Juta dan -USD 29,34 Juta.
- Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat Mei 2026 naik 1,23% menjadi 118,30, didorong kenaikan pada Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar (1,53%) lebih tinggi disbanding kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,30%. Sedangkan, Nilai Tukar Nelayan (NTN) turun 0,87% menjadi 116,87.
Di tengah gejolak, ekonomi Indonesia dan Jawa Barat tetap tinggi, ditopang inflasi yang terkendali, dan dukungan fiskal yang efektif. Kinerja APBN Regional Jawa Barat hingga Mei 2026 tetap bekerja optimal sebagai shock absorber sekaligus penggerak pertumbuhan, melalui penerimaan negara yang terjaga dan belanja yang semakin ekspansif untuk mendukung program prioritas dan daya beli masyarakat. Ke depan, APBN akan terus dioptimalkan untuk mendukung program prioritas nasional serta menjadi katalis pertumbuhan ekonomi. Langkah-langkah dalam menjaga kualitas Belanja Negara terus ditingkatkan dan dipercepat realisasinya, sementara produktivitas Kas Negara terus dioptimalkan. Pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, adaptif, dan kredibel untuk memperkuat momentum pertumbuhan, menjaga stabilitas, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan dalam perekonomian Jawa Barat.
-----------------


