Mudik Tahun 2025 Relatif Lancar, Persiapan yang Matang atau Sebab Lain?

Penulis: Septian (Kanwil DJPb Jawa Timur)
Mudik, konon yang merupakan singkatan dari Bahasa Jawa ‘mulih dhisik’ berarti pulang dulu, merupakan tradisi sebagian besar warga Indonesia yang merupakan perantau. Tradisi ini khas dilakukan para perantau berangkat mulai menjelang Idulfitri dan kembali ke perantauan saat liburan telah selesai. Tahun 2025 ini pun tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 2025, setidaknya hingga saat ini terjadi perlambatan ekonomi sebagaimana diperkirakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dengan berbagai sebab, baik dari luar karena disrupsi ekonomi global, maupun dari dalam negeri di antaranya oleh kondisi geopolitik, kebijakan moneter, maupun terhambatnya penerimaan perpajakan. (Interim Report March 2025 'Steering to Uncertainty' yang dirilis 17 Maret 2025).
Mudik dan Idulfitri memiliki dampak ekonomi yang besar, terutama bagi daerah tujuan pemudik. Pada masa ini umumnya terjadi peningkatan perputaran uang, pertumbuhan ekonomi lokal yang akhirnya meningkatkan aktivitas bisnis, dan kesejahteraan di daerah-daerah. Atas sebab ini pulalah pemerintah memastikan kelancaran tradisi ini agar keselamatan dan kenyamanan pemudik dapat terjaga dengan baik.
Menurut Kementerian Perhubungan melalui Sistem Informasi Terintegrasi Kemenhub, diperkirakan terdapat 10.168.141 pemudik yang melakukan perjalanan selama periode H-10 hingga H+1 Lebaran 2025. Jumlah ini lebih rendah 563.000 pemudik dibandingkan periode yang sama saat Lebaran 2024. Meskipun jumlah pemudik mengalami penurunan, permasalahan infrastruktur masih menjadi tantangan besar. Jalur utama masih menghadapi kepadatan lalu lintas yang memerlukan pengelolaan yang optimal. Situs otomotif.kompas.com menyebutkan bahwa jumlah kendaraan yang meninggalkan Jakarta diperkirakan meningkat hingga 60 persen dibandingkan hari normal. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan sangat penting untuk mengantisipasi potensi kemacetan.
Kesiapan infrastruktur jalan menjadi aspek penting dalam mendukung kelancaran arus mudik tahun 2025. Pemerintah perlu memastikan bahwa kondisi jalan tol dan jalan arteri tetap prima serta terbebas dari gangguan yang bisa menimbulkan kemacetan. Kegiatan perbaikan maupun pelebaran jalan sebaiknya dilakukan lebih awal agar tidak menghambat perjalanan. Selain itu, peningkatan fasilitas umum seperti rest area, SPBU, dan posko kesehatan juga perlu dilakukan demi kenyamanan para pemudik. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan transportasi umum yang memadai.
Hal lain yang memerlukan perhatian adalah menggunakan perangkat yang ada untuk mengelola arus transportasi selama periode mudik dan balik. Hal ini memerlukan koordinasi bersama banyak pihak. Pengelola transportasi, aparat penegak hukum, pengelola sarana, dan infrastruktur harus dikelola untuk memberikan pelayanan yang diperlukan bagi pemudik. Peran serta masyarakat juga diperlukan untuk mengawal dan mengawasi kelancaran arus mudik dan balik Idulfitri 2025 ini.
Pada akhirnya, mudik tidak hanya mengenai kembalinya perantau ke rumah, tapi juga mengingatkan orang mengenai asal usul dirinya. Tidak pula sekedar untuk bertemu dan melepas kangen kepada keluarga, namun juga menyambungkan silaturahim dan menghapuskan dosa, baik yang disengaja maupun tidak. Mungkin juga sekadar berbagi rejeki dan turut memajukan ekonomi kampung halaman, tapi juga membantu sesama dan berbagi keberkahan pada sanak saudara. Pun dengan mudik tahun ini, apapun yang terjadi akan menjadi cerita yang patut dikenang pada lebaran-lebaran berikutnya.




