Perekonomian Nusa Tenggara Barat Triwulan IV 2025 mencapai Rp52,04 triliun (harga berlaku) dengan pertumbuhan 12,49% (y-on-y) yang didorong akselerasi Industri Pengolahan sebesar 137,78%. Struktur ekonomi masih didominasi Industri Pengolahan sebesar 76,37%, mencerminkan fokus hilirisasi sumber daya daerah, sementara ekspor barang dan jasa menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan kenaikan 103,11% (y-on-y). Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,49% (c-to-c), mengindikasikan daya beli masyarakat yang relatif terjaga di tengah inflasi Desember 2025 sebesar 3,01% (y-on-y) yang terkendali dalam kisaran sasaran. Inflasi terutama dipicu kenaikan harga emas, pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 17,76%, serta tekanan dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,83%.
Kinerja fiskal Provinsi Nusa Tenggara Barat periode 2023-2025 menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Pada tingkat APBN, realisasi pendapatan negara di NTB tercatat Rp7.554,16 miliar (103,41%) pada 2023, meningkat menjadi Rp9.393,21 miliar (92,63%) pada 2024, kemudian turun menjadi Rp4.839,74 miliar (111,02%) pada 2025 akibat dampak kebijakan pemusatan administrasi perpajakan (PMK 81/2024) dan larangan ekspor konsentrat mineral. Belanja negara relatif stabil di kisaran Rp26-28 triliun dengan serapan di atas 97%, didominasi Transfer ke Daerah sebesar Rp19.762,24 miliar pada 2025, sehingga defisit APBN melebar menjadi Rp22.583,26 miliar pada 2025.
Implementasi Program Makan Bergizi Gratis belum menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi agregat pada periode awal pelaksanaan. Namun demikian, pada tingkat sektoral mulai terlihat indikasi perubahan dinamika pertumbuhan pada sektor yang terkait dengan rantai pasok program, seperti pertanian, transportasi dan distribusi, jasa lainnya, serta industri pengolahan meskipun pertumbuhan industri pengolahan masih dipengaruhi secara dominan oleh aktivitas hilirisasi pertambangan dan smelter. Temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena pendekatan analisis yang digunakan belum sepenuhnya mengendalikan pengaruh faktor ekonomi lain di luar implementasi program.
Industri Kecil Menengah sektor konveksi di Provinsi NTB tumbuh rata-rata 61 unit per tahun dengan proyeksi 1.012 unit pada 2030 dan potensi peningkatan basis ekonomi lokal. Kendala utama mencakup akses pembiayaan, adopsi teknologi, dan peningkatan kompetensi SDM.
Baca KFR Selengkapnya di bawah ini ....


