JL. Jenderal Sudirman No.249 Pekanbaru 28116

 

Berita

Seputar Kanwil DJPb

Press Release Kinerja APBN Riau (Realisasi s.d. 31 Oktober 2025)

 

 

Pekanbaru, 20 November 2025

Perkembangan Perekonomian sampai Akhir Bulan Oktober 2025

  1. Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping KTT APEC di Korea Selatan, pada kamis 30 Oktober 2025 meredakan ketegangan perang tarif antara US dan China. Di sisi lainnya, Pemerintahan Amerika Serikat mengalami shutdown akibat kegagalan Kongres untuk menyepakati anggaran negara menjelang awal tahun fiskal baru 2026. Harga Emas terus meningkat secara signifikan sepanjang bulan Oktober 2025, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 21 Oktober 2025, menembus level Rp 2.487.000 per gram.
  2. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil tinggi di 5,12 persen, inflasi juga terjaga rendah di 2,86 persen (yoy) dengan defisit APBN hanya sebesar 02 persen dari PDB. Dari sisi perdagangan, Berdasarkan data dari BPS, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 65 bulan berturut-turut, sebesar US$33,48 miliar sepanjang periode Januari hingga September 2025, atau naik US$11,30 miliar.
  3. Ekonomi Riau sampai dengan Oktober 2025 atau triwulan III tahun 2025 tumbuh mencapai 4,59% (yoy). Neraca perdagangan di Riau untuk bulan Oktober 2025 masih surplus sebesar US$ 1,4 miliar dengan ekspor sebesar US$ 1,58 miliar (terkontraksi 21,18 persen dari bulan sebelumnya) dan impor sebesar US$ 134,14 juta (tumbuh 6,51 persen dibanding bulan sebelumnya).
  4. Masyarakat Riau memiliki kesejahteraan yang lebih baik dari pada nasional, hal ini tercermin dari angka indikator kesejahteraan relatif lebih baik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Riau mencapai 76,31. Namun demikian, inflasi perlu diwaspadai karena kenaikan yang cukup tinggi pada Juli dan berlanjut hingga bulan September, walaupun di Oktober terjadi deflasi 0,06% (m-to-m), inflasi tahunan di Oktober telah melebihi target yaitu 4,95 persen (y-o-y). Perlu diwaspadai juga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang meningkat menjadi 4,16 persen di bulan Agustus dari sebelumnya 4,12 persen di bulan Februari. Kenaikan inflasi dan kenaikan TPT dapat mengancam naiknya tingkat kemiskinan yang di bulan Maret sudah turun di angka 6,16 persen.


Perkembangan APBN Terkini

  1. Pendapatan negara mencapai Rp20.587,18 miliar atau tumbuh 29,38 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2024 (y-o-y) terutama disebabkan pertumbuhan pada penerimaan Bea Cukai yang tumbuh 349,31 persen (y-o-y). Pendapatan pajak terkontraksi 9,40 persen (y-o-y) karena penurunan terjadi pada PPh sebesar 17,56 persen dan PPN sebesar 10,92 persen yang disebabkan besarnya restitusi. Penerimaan Bea Cukai melanjutkan pertumbuhan dengan capaian 349,31 persen (y-o-y) atau Rp7.594,97 miliar disebabkan kenaikan Bea Keluar sebesar 384,65 persen (y-o-y) karena kenaikan kolom tarif menjadi 7 dan tonase ekspor CPO meningkat dibanding tahun sebelumnya. PNBP terealisasi Rp1.139,72 miliar atau terkontraksi 0,05 persen (y-o-y) dibandingkan dengan tahun 2024, yang disebabkan turunnya PNBP lainya sebesar 1,16 persen, sementara PNBP dari BLU meningkat 1,88 persen.
  2. Belanja Pemerintah Pusat mencatatkan kontraksi 20,13 persen seiring dengan menurunnya pagu anggaran dibandingkan dengan tahun lalu dan adanya efisiensi anggaran di awal tahun. Hanya Pos Belanja Pegawai yang tercatat mengalami pertumbuhan 8,76 persen (y-o-y).​ Belanja Transfer Ke Daerah mencatatkan pertumbuhan 1,29 persen (y-o-y) atau terealisasi sebesar Rp20.128,34 miliar. Pertumbuhan ini hanya disokong oleh pertumbuhan penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar 18,76 persen (y-o-y).​
  3. Pada bulan Oktober 2025 neraca APBN Regional Riau mencatatkan defisit sebesar Rp5.404,88 miliar artinya pemerintah pusat menyalurkan lebih banyak dana ke Riau dibandingkan penerimaan yang dikumpulkan dari Riau. Defisit ini masih lebih rendah dari target yang mencapai Rp12.695,99 miliar.
  4. Penyaluran KUR sampai dengan Oktober 2025 terealisasi Rp8,04 triliun kepada 95.274 debitur, penyaluran terkontraksi sebesar 6,07 persen dan debitur terkontraksi 8,33 persen secara y-o- Rata-rata penyaluran s.d September 2025 sebesar Rp84,36 juta/debitur. Kinerja penyaluran KUR s.d Oktober 2025 mencapai 80,56 persen dariplafon KUR Tahun 2025 untuk Provinsi Riau dengan realisasi debitur 86,87 persen dari target. Penyaluran KUR sampai dengan Oktober 2025 terealisasi Rp8,04 triliun kepada 95.274 debitur, penyaluran terkontraksi sebesar 6,07 persen dan debitur terkontraksi 8,33persen secara y-o-y. Rata-rata penyaluran s.d September 2025 sebesar Rp84,36 juta/debitur.
  5. Realisasi penyaluran UMi s.d. Oktober 2025 sebesar Rp260,88 miliar kepada 39.568 debitur. Nilai penyaluran terkontraksi sebesar 2,68 persen dan debitur juga terkontraksi 12,78 persen secara y-o- Rata-rata penyaluran sampai Oktober 2025 mencapai Rp6,59 juta/debitur. Kinerja penyaluran UMi s.d Okt 2025 sebesar 107,28 persen dari target penyaluran UMi sedangkan realisasi debitur mencapai 86,02 persen​.​ Penyaluran UMi paling banyak terdapat di Kab.Rokan Hilir sebesar Rp40,56 miliar sedangkan debitur terbanyak di Kab. Kampar sebanyak 6.244 debitur, penyaluran yang terendah di Kab.Pelalawan sebesar Rp 7,96 miliar kepada 1.199 debitur. Penyaluran UMi didominasi oleh PNM adalah 89,99% kepada 35.691 debitur.

 

Perkembangan APBD Regional Riau Terkini

  1. Realisasi pendapatan daerah sebesar Rp867,66 miliar sebesar 62,14 persen dari pagu. Realisasi Pendapatan daerah terkontraksi 13,11 persen (y-o-y) disebabkan oleh penurunan pada PAD sebesar 6,29 persen (y-o-y), pendapatan transfer sebesar 14,77 persen (y-o-y), dan transfer antar daerah sebesar 27,24 persen (y-o-y). Sedangkan LLPDyS tumbuh sebesar 58,38 persen (y-o-y). ​
  2. Belanja APBD terealisasi sebesar 58,95 persen yaitu Rp173,41 miliar didominasi oleh belanja operasi (78,54 persen). Realisasi belanja daerah mengalami penurunan sebesar 15,30 persen(y-o-y) yang dipengaruhi penurunan pada hampir seluruh komponen belanja, seperti belanja operasi sebesar 9,53 persen (y-o-y), belanja modal 43 persen (y-o-y), dan belanja transfer sebesar 20,40 persen (y-o-y) karena kebijakan efisiensi belanja dan implementasi opsen pajak.​
  3. APBD Riau mengalami surplus sebesar Rp694,25 miliar, berbanding terbalik dengan pagu yang direncanakan defisit. Sampai dengan Oktober 2025, tercatat pembiayaan daerah sebesar Rp138,68 miliar karena penerimaan pembiayaan lebih besar dari pembayaran cicilan pokok utang. Kondisi surplus ini lebih disebabkan realisasi belanja yang rendah, bukan karena penerimaan yang meningkat.

 

Isu Tematik

  1. Ketergantungan tinggi ekonomi Riau pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, (28,99 persen) khususnya sub sektor Perkebunan khususnya sawit dan sub sektor Kehutanan serta sektor Industri Pengolahan (30,13 persen) yang sangat berhubungan dengan kedua sub sektor tersebut dengan produk dominan berupa barang setengah jadi berupa CPO dan bubur kertas. Struktur ekonomi ini kurang sustainable dan rentan terhadap volatilitas harga komoditas. Adapun dampak bagi sektor perpajakan ialah peningkatan Bea Keluar tetapi diikuti meningkatnya restitusi PPN, karena tarif PPN atas barang ekspor 0 persen.
  2. Rekomendasi terkait hal tersebut, Kanwil DJPb Provinsi Riau mendorong dilakukankan hilirisasi dan diversifikasi ekonomi dengan melakukan diseminasi atas hasil Joint Research “Strategi Penguatan Agribisnis Ekspor untuk Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan” kepada stakeholder khususnya yang ada di Riau. Melalui diseminasi ini diharapkan muncul awareness terkait peluang hilirisasi dan diversifikasi hasil produk perkebunan dan kehutanan, melalui industri pengolahan lanjutan yang menghasilkan produk bernilai tinggi.

Tag Populer

Lima Budaya Kementerian Keuangan

Hak Cipta © Kanwil DJPb Provinsi Riau - Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb
Jalan Jenderal Sudirman No. 249 Pekanbaru Kode Pos 28116
Telp : (0761) 22686 | Fax : (0761) 22647 |

Ikuti Kami

WhatsappIKUTI KAMI

 

Pengaduan Kami: 

 

 

Search