
Pekanbaru, 21 Januari 2026
Perkembangan Perekonomian Riau sampai Akhir Bulan Desember 2025
- Perekonomian Riau Triwulan III tumbuh membaik sebesar 4,98 persen (y-o-y), 3,54 persen (q-to-q), dan 4,74 persen (c-to-c). Perekonomian didominasi sektor Industri Pengolahan, Pertanian, dan Pertambangan. Dari sisi pengeluaran PDRB didominasi Konsumsi Rumah Tangga (33,73 persen), Ekspor Luar Negeri (31,03 persen), dan Pembentukan Modal Tetap Bruto atau PMTB (30,93 persen).
- Pertumbuhan Riau mengalami percepatan dari triwulan sebelumnya, dan jauh lebih baik dari pertumbuhan Triwulan III 2024 yang hanya 3,46 persen. Namun demikian pertumbuhan lebih rendah daripada nasional (5,04 persen) karena sangat mengandalkan sumber daya alam (sawit, minyak, dan gas bumi, serta batubara) dengan industri pengolahan yang mengolah SDA tersebut menjadi barang setengah jadi. Dengan harga CPO yang tinggi dan stabil pertumbuhan Triwulan IV diprediksi antara 4,8 persen - 5,2 persen. Produksi migas dan batubara yang cenderung turun semakin menurunkan peran sektor pertambangan dalam ekonomi Riau. Naiknya harga CPO di pasar internasional meningkatkan ekspor sehingga PDRB sisi Ekspor Luar Negeri melonjak sebesar 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
- Masyarakat Riau memiliki kesejahteraan yang lebih baik dari pada nasional. Hal ini tercermin dari angka indikator kesejahteraan relatif lebih baik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Riau mencapai 76,31. Walaupun di November 2025 terjadi deflasi 0,22 persen (m-to-m), bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara sebagai daerah pemasok pangan serta Natal dan Tahun baru perlu diwaspadai mengingat inflasi tahunan telah melebihi target yaitu 4,27 persen (y-o-y). Perlu diwaspadai juga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang meningkat menjadi 4,16 persen di bulan Agustus dari sebelumnya 4,12 persen di bulan Februari. Kenaikan inflasi dan kenaikan TPT dapat mengancam naiknya tingkat kemiskinan yang di bulan Maret 2025 sudah turun di angka 6,16 persen.
Perkembangan APBN Terkini
- Realisasi Penerimaan APBN s.d. Desember 2025 mencapai Rp26.347,41 miliar (129,16 persen dari target) naik 17,41 persen (y-o-y) dan Belanja Rp31.982,59 miliar (95,43 persen dari pagu) atau turun 2,89 persen (y-o-y). Realisasi Penerimaan APBN dipengaruhi penerimaan pajak yang turun 6,57 persen dan penerimaan Bea Cukai yang naik 143.38 persen seiring kenaikan Tonase ekspor.
- Penerimaan Pajak sampai dengan Bulan Desember 2025 sebesar Rp15.811,59 miliar atau terkontraksi sebesar 6,57 persen dibandingkan tahun 2024 di periode yang sama. Salah satu penyebab turunnya realisasi penerimaan pajak adalah penurunan dari PPh sebesar 15,92 persen dan PPN sebesar 8,44 persen, Namun PBB dan Pajak Lainnya mengalami pertumbuhan realisasi penerimaan yang naik masing-masing 17,20 persen dan 2809,29 persen (y-o-y).
- Penerimaan Bea Cukai masih melanjutkan tren positif sampai akhir tahun. Angka penerimaan mencapai Rp9.200,92 miliar atau naik 143,38 persen dibanding tahun lalu di periode yang sama. Kolom tarif di bulan Desember turun dari kolom 7 ke kolom 6. Adapun secara Tonase, periode Desember 2025 komoditas CPO dan turunan mengalami kenaikan tonase dibandingkan bulan sebelumnya, dari 1,1 Jt Ton menjadi 1,6 Jt Ton.
- Pada bulan Desember 2025, PNBP terealisasi Rp1.334,89 miliar atau terkontraksi sebesar 23,11 persen (y-o-y) dibandingkan dengan tahun 2024, yang disebabkan turunnya penerimaan PNBP Lainnya sebesar 32,63 persen. Sementara Pendapatan BLU sedikit mengalami pertumbuhan sebesar 3,35 persen dibandingkan tahun lalu di periode yang sama.
- Belanja negara mencapai Rp982,59 miliar atau terkontraksi 2,89 persen dibanding 2024 (y-o-y). Belanja Pemerintah Pusat mencatatkan kontraksi 16,90 persen seiring dengan menurunnya pagu anggaran dibandingkan dengan tahun lalu dan adanya efisiensi anggaran. Belanja Transfer Ke Daerah mencatatkan pertumbuhan 2,93 persen (y-o-y) atau terealisasi sebesar Rp23.945,38 miliar. Pertumbuhan ini disokong oleh pertumbuhan penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar 7,74 persen (y-o-y) dan DAK Non Fisik sebesar 18,34%.
- Sampai dengan akhir Desember 2025 realisasi APBN Regional Riau mencatatkan defisit sebesar Rp635,18 miliar. Defisit ini lebih rendah dari tahun lalu di periode yang sama yang mencapai Rp10.495,31 miliar.
- Neraca Perdagangan periode November 2025 surplus USD1.526,91 juta dengan nilai ekspor USD1.628,85 juta turun 8,12 persen (m-to-m). Terjadi penurunan pada ekspor Lemak & Minyak Hewan/Nabati berupa CPO, diikuti Bahan Kimia Organik, dan Berbagai Produk Kimia. Sementara ekspor migas naik 154,71 persen dibanding bulan sebelumnya. Nilai impor November 2025 sebesar USD101,94 juta atau turun 35,77 persen (m-to-m). Secara kumulatif neraca perdagangan Riau s.d. November 2025 surplus USD17.709,53 juta. Kontribusi ekspor Riau terhadap nasional pada November 2025 mencapai 7,23 persen.
- Penyaluran KUR sampai dengan Desember 2025 terealisasi Rp9,60 triliun atau mencapai 96,29 persen dari plafon KUR Tahun 2025 kepada 113.077 debitur atau 103,10 persen dari target. Rata-rata penyaluran s.d Des 2025 sebesar Rp84,97 juta/debitur.
- Realisasi penyaluran UMi s.d. Desember 2025 sebesar Rp392,20 miliar atau sebesar 161,28% dari target penyaluran UMi kepada 58.333 debitur atau mencapai 126,81 persen. Rata-rata penyaluran sampai Des 2025 mencapai Rp6,72 juta/debitur.
Perkembangan APBD Regional Riau Terkini (Portal DJPK, SIKRI, Dit.APK cutoff 10/1/2026)
- Realisasi pendapatan APBD sebesar Rp021,60 miliar sebesar 73,95 persen dari pagu. Realisasi Pendapatan APBD terkontraksi 12,37 persen (y-o-y) disebabkan oleh penurunan PAD sebesar 8,43 persen (y-o-y), pendapatan transfer sebesar 12,95 persen (y-o-y), dan transfer antar daerah sebesar 26,12 persen (y-o-y). Sedangkan Lain lain Pendapatan Daerah yang Sah (LLPDyS) tumbuh sebesar 27,58 persen (y-o-y).
- Belanja APBD terealisasi sebesar 70,42 persen yaitu Rp020,35 miliar masih didominasi oleh belanja operasi dengan porsi (77,40 persen). Realisasi belanja daerah mengalami penurunan sebesar 24,37 persen (y-o-y) yang dipengaruhi penurunan pada hampir seluruh komponen belanja, seperti belanja operasi sebesar 19,23 persen (y-o-y), belanja modal 51,24 persen (y-o-y), dan belanja transfer sebesar 21,55 persen (y-o-y) karena kebijakan efisiensi belanja dan implementasi opsen pajak.
- APBD Riau mengalami surplus sebesar Rp1.001,25 miliar, berbanding terbalik dengan pagu yang direncanakan defisit. Sampai dengan Desember 2025, tercatat pembiayaan daerah sebesar Rp133,12 miliar karena penerimaan pembiayaan lebih besar dari pembayaran cicilan pokok utang. Kondisi surplus ini lebih disebabkan realisasi belanja yang lambat, bukan karena penerimaan yang meningkat.
Kinerja Kredit Program Pemerintah
- Penyaluran KUR Riau sampai dengan Des 2025 terealisasi Rp9,60 triliun kepada 113.077 debitur. penyaluran dan debitur terkontraksi sebesar 1,63% dan 5,61% secara yoy. Kinerja penyaluran KUR s.d Des mencapai 96,29% dari plafon KUR Tahun 2025.
- Realisasi penyaluran UMi s.d. Des 2025 sebesar Rp392,20 miliar kepada 58.333 debitur. Nilai penyaluran tumbuh sebesar 41,03% dan debitur juga tumbuh 24,23% secara yoy.

