| Sehubungan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor SE7/PB/2024tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Anggaran Atas Pekerjaan Yang BelumDiselesaikan Pada Akhir Tahun Anggaran, bersama ini disampaikan hal sebagai berikut: | ||||
| 1. | Pelaksanaan anggaran atas pekerjaan yang belum diselesaikan pada akhir tahun anggaran dengan menggunakan Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109 Tahun 2023. | |||
| 2. | Dalam rangka implementasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109 Tahun 2023, diberikan petunjuk teknis pelaksanaan sebagai berikut: | |||
| a. | Pekerjaan yang dapat menggunakan RPATA merupakan pekerjaan yang pembayarannya dilakukan melalui mekanisme pembayaran: | |||
| 1) | LS kontraktual termasuk pekerjaan swakelola; atau | |||
| 2) | LS nonkontraktual tanggap darurat bencana. | |||
| b. | Pengajuan SPM-Penampungan | |||
| 1) | dilakukan untuk menampung pendanaan pekerjaan kontraktual yang belum diselesaikan dari tanggal 23 s.d. 31 Desember 2024, dengan tidak ada pembatasan nilai. | |||
| 2) | batas waktu penyampaian SPM-Penampungan tanggal 17 s.d. 23 Desember 2024 pada jam kerja. | |||
| c. | 1) | batas waktu pengajuan SPM-Pembayaran ke KPPN paling lama 5 (lima) hari kerja setelah tanggal BAPP/BAST. | ||
| 2) | terhadap pekerjaan yang mensyaratkan masa pemeliharaan, penyampaian SPM-Pembayaran ke KPPN dilampiri Fotokopi Jaminan Pemeliharaan yang disahkan oleh PPK. Kebenaran dan keabsahan jaminan pemeliharaan menjadi tanggung jawab sepenuhnya PPK. | |||
| 3) | pengajuan SPM-Pembayaran ke KPPN yang melebihi 5 (lima) hari kerja, dapat dilakukan setelah mendapat dispensasi sebagai berikut: | |||
| a) | keterlambatan pengajuan SPM-Pembayaran 6 (enam) sampai dengan 15 (lima belas) hari kerja setelah BAPP/BAST, permintaan dispensasi disampaikan KPA Satker kepada Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan. | |||
| b) | keterlambatan pengajuan SPM-Pembayaran lebih dari 15 (lima belas) hari kerja setelah BAPP/BAST, permintaan dispensasi disampaikan oleh Pimpinan Unit Eselon I Satker berkenaan kepada Dirjen Perbendaharaan. | |||
| d. | Pengajuan SPM-Penihilan | |||
| 1) | dilakukan apabila terdapat saldo pada RPATA setelah pekerjaan berakhir. | |||
| 2) | batas waktu penyampaian SPM-Penihilan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah: | |||
| a) | masa kontrak berakhir; atau | |||
| b) | pemberian kesempatan berakhir. | |||
| e. | Dalam hal pekerjaan terdapat kemajuan namun tidak terselesaikan sehingga terdapat saldo RPATA, pengajuan SPM-Pembayaran harus sekaligus disertai pengajuan SPM Penihilan. | |||
| f. | Dalam hal pengajuan SPM-Pembayaran dan SPM-Penihilan sebagaimana dimaksud dalam huruf e tidak diajukan bersamaan, KPPN menolak/mengembalikan pengajuan SPM tersebut. | |||
| g. | Terhadap pengajuan SPM yang dikembalikan/ditolak oleh KPPN, Satker melakukan perbaikan dan mengajukan kembali SPM dimaksud paling lama 2 (dua) hari kerja. | |||
| h. | Dalam rangka menjaga konsistensi tahun penerbitan antara SPM dengan SP2D, untuk pekerjaan yang diselesaikan di antara tanggal 23 s.d. 30 Desember 2024, SPM Pembayaran dan/atau SPM-Penihilan dapat diajukan dengan pengaturan sebagai berikut: | |||
| 1) | SPM dimaksud diajukan paling lambat tanggal 30 Desember 2024 pukul 12.00 waktu setempat. | |||
| 2) | Pengajuan SPM yang melewati batas waktu tersebut, agar disampaikan di tahun 2025 dengan tetap memperhatikan batasan waktu paling lama 5 (lima) hari kerja setelah tanggal BAPP/BAST atau masa kontrak berakhir. | |||
| 3. | Pekerjaan yang tidak selesai di akhir tahun anggaran dapat diberikan kesempatan penyelesaian ke tahun berikutnya paling lama 90 (sembilan puluh) hari kalender dengan ketentuan: | |||
| a. | kontrak ditandatangani paling lambat tanggal 30 November 2024. | |||
| b. | merupakan kontrak tahunan atau kontrak tahun jamak pada tahun terakhir. | |||
| c. | untuk pekerjaan konstruksi, prestasi pekerjaan minimal telah terselesaikan 50% dari nilai kontrak per tanggal 31 Desember 2024. | |||
| d. | untuk pekerjaan yang termasuk Prioritas Nasional, Proyek Strategis Nasional, dan Program Strategis Nasional tanpa persyaratan sebagaimana tersebut di atas. | |||
| e. | penyelesaian pekerjaan yang dikecualikan dari mekanisme pemberian kesempatan penyelesaian pekerjaan adalah sebagai berikut: | |||
| 1) | pekerjaan untuk pengadaan alutsista TNI menggunakan Rekening Dana Cadangan Alutsista (RDCA); dan | |||
| 2) | pekerjaan yang bersumber dari pinjaman/hibah/SBN. | |||
| f. | pemberian kesempatan maksimal 2 (dua) kali dengan akumulasi paling banyak 90 (sembilan puluh) hari kalender. | |||
| 4. | Terhadap pemberian kesempatan menyelesaikan pekerjaan ke tahun berikutnya, Penyedia dikenakan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. | |||
| 5. | Pemberian kesempatan penyelesaian pekerjaan ke tahun anggaran berikutnya sebagai berikut: | |||
| a. | PPK dan Penyedia melakukan perubahan kontrak. | |||
| b. | PPK merekam informasi pemberian kesempatan pada Aplikasi SAKTI meliputi: | |||
| 1) | Informasi tambahan atas data kontrak berupa: | |||
| a) | Jenis proyek; | |||
| b) | Jenis pekerjaan; dan | |||
| c) | Progress penyelesaian pekerjaan sampai dengan tanggal 31 Desember 2024 | |||
| 2) | Informasi detail pemberian kesempatan meliputi: | |||
| a) | Jangka waktu kesempatan yang diberikan; dan | |||
| b) | Nomor dan tanggal surat pernyataan kesanggupan Penyedia. | |||
| 3) | Mengunggah surat pernyataan kesediaan Penyedia dan dokumen pendukung lainnya. | |||
| c) | PPSPM melakukan verifikasi atas perekaman informasi pemberian kesempatan yang dilakukan PPK. Dalam hal pemberian kesempatan memenuhi persyaratan, PPSPM menyampaikan secara elektronik informasi pemberian kesempatan dimaksud kepada KPPN. | |||
| 6. | Direktur Jenderal Perbendaharaan dapat memberikan dispensasi atas pekerjaan di luar kriteria pemberian kesempatan sebagaimana telah diatur dalam Pasal 28 huruf b Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109 Tahun 2023. | |||
| 7. | Permohonan dispensasi sebagaimana dimaksud pada angka 6, disampaikan oleh Pimpinan Unit Eselon I dari Satker berkenaan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan. | |||
| 8. | Bersama ini kami sampaikan Pedoman Teknis lebih lanjut mengenai Proses Bisnis RPATA, Penggunaan Aplikasi SAKTI, dan Pedoman akuntansi dan pelaporan. | |||
UNDUH S-1656/KPN.0801/2024 DISINI:






