Tunjangan Hari Raya 2026 : Stimulus Pertumbuhan Ekonomi dan Multiplier Effect Terhadap Perekonomian Domestik Melalui Peningkatan Konsumsi Hari Raya Lebaran
Pendahuluan
Tunjangan Hari Raya (THR) bagi jutaan pekerja dan ASN di seluruh Indonesia selalu dinanti-nanti pencairannya. THR dianggap sebagai tambahan pendapatan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri yang akan dibelanjakan untuk keperluan Hari Raya. Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan salah satu kebijakan ekonomi yang memiliki dampak penting terhadap aktivitas perekonomian masyarakat di Indonesia. Dalam perekonomian, pencairan THR sering menjadi faktor yang mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga. Konsumsi masyarakat sendiri merupakan komponen terbesar dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Oleh karena itu, peningkatan daya beli akibat THR dapat memberikan dampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi.

THR Sebagai Stimulus Pertumbuhan Ekononomi
Kementerian Keuangan melalui Badan Kebijakan Fiskal memperkirakan guyuran Tunjangan Hari Raya (THR) oleh pemerintah maupun sektor swasta dinilai akan memberikan dampak positif terhadap konsumsi rumah tangga dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,5%-6% di Kuartal I-2026. Tambahan pendapatan masyarakat melalui pencairan THR akan meningkatkan aktivitas belanja, terutama selama Ramadan dan Idul Fitri.
Lonjakan konsumsi menjadi salah satu faktor penting yang menopang kinerja ekonomi pada awal tahun. Peningkatan belanja masyarakat biasanya terjadi pada sektor ritel, makanan dan minuman, transportasi, hingga pariwisata domestik, seiring meningkatnya mobilitas dan kebutuhan rumah tangga selama periode hari besar keagamaan. Pemerintah terus berupaya mempercepat realisasi belanja negara serta memastikan program-program prioritas berjalan efektif guna menjaga momentum pertumbuhan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat daya beli masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi domestik. Momentum musiman ini diharapkan mampu meningkatkan perputaran uang di masyarakat dan memperkuat aktivitas ekonomi domestik pada awal 2026.
Multiplier Effect Konsumsi Hari Raya Lebaran
Tren ekonomi menunjukkan bahwa pencairan THR mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama hingga kuartal kedua setiap tahunnya. Ketika dana THR diterima masyarakat, daya beli meningkat akan memicu lonjakan transaksi di berbagai sektor. Perputaran uang tersebut menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang dapat memperkuat perekonomian daerah. Tahun ini pemerintah menyalurkan THR sekitar Rp55 triliun kepada sekitar 10,5 juta penerima, yang terdiri dari aparatur sipil negara, TNI, Polri, dan pensiunan. Selain itu ada THR dari sektor swasta diperkirakan sebesar Rp 124 triliun dan Bonus Hari Raya (BHR) untuk pengemudi online sebesar Rp 220 miliar. Injeksi likuiditas dalam jumlah besar ini secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Secara ekonomi, peningkatan konsumsi tersebut dapat terlihat melalui indikator seperti Indeks Penjualan Riil (IPR). Kenaikan indikator ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat meningkat. Karena konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia, peningkatan konsumsi akibat THR juga berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga meningkat sekitar 20-25 persen pada periode Lebaran dibandingkan bulan biasa. Lonjakan ini terjadi pada berbagai sektor, mulai dari makanan, pakaian, transportasi, hingga jasa digital. Survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menunjukkan bahwa lebih dari 221 juta orang di Indonesia menggunakan internet pada 2024, yang menjadi basis pasar digital sangat besar. Hal ini menjadikan THR Lebaran tidak hanya mendorong konsumsi offline, tetapi juga transaksi digital melalui e-commerce, dompet digital, dan pembayaran elektronik.
Dampak riil konsumsi dari uang THR terlihat dari meningkatnya aktivitas ekonomi di pasar tradisional, pusat perbelanjaan, platform perdagangan digital (e-commerce) hingga sektor transportasi dan pariwisata. Mobilitas masyarakat yang meningkat selama periode Lebaran juga memperkuat perputaran ekonomi lokal. Pemerintah mencatat mobilitas masyarakat pada periode libur Lebaran dapat mencapai lebih dari 150 juta perjalanan, yang secara tidak langsung mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai daerah tujuan mudik.
Belanja masyarakat penerima THR dan BHR inilah yang diharapkan akan memberikan multiplayer effect bagi pelaku ekonomi. Efek dari konsumsi belanja masyarakat terlihat pada :
- Pergerakan masyarakat kembali ke kampung halaman (mudik) dan arus balik menggerakkan sektor transportasi dan logistik (tiket bus, kereta api, pesawat, kapal laut, travel dan lain-lain termasuk akomodasi selama perjalanan). Permintaan jasa pengiriman barang dan transportasi meningkat, sehingga perputaran uang di daerah menjadi lebih cepat dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
- Belanja barang keperluan bahan dan konsumsi selama Ramadhan/Hari Raya termasuk seperti pakaian, makanan khas Lebaran, kue kering, makanan/minuman dan bingkisan Lebaran (parcel/hampers) akan menggerakkan sektor ritel dan UMKM. Sektor UMKM dan ritel menjadi pihak yang paling merasakan manfaat dari meningkatnya belanja masyarakat menjelang Hari Raya. Permintaan terhadap berbagai produk dan jasa meningkat, sehingga membantu pelaku usaha meningkatkan penjualan dan memperluas kegiatan usaha. Kondisi ini turut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dalam jangka pendek.
- Belanja untuk liburan dan wisata selama libur Idul Fitri 2026 menggerakkan pelaku usaha wisata lokal, hotel/penginapan, restaurant/warung makan, industri makanan lokal/oleh-oleh yang sebagian besar adalah UMKM.
Pada akhirnya pembayaran THR membuat roda perekonomian daerah terus berputar. THR akan menjadi stimulus pekerja untuk belanja. Saat pekerja mampu belanja dan memanfaatkan dana dari THR, akan ada perputaran uang pada pelaku ekonomi, UMKM dan sektor mikro pendorong ekonomi daerah. Perekonomian di daerah tumbuh tentu akan berpengaruh secara agregat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Kesimpulan
Dengan strategi yang tepat, momentum THR tidak hanya menjadi lonjakan konsumsi sesaat, tetapi juga dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih berkelanjutan. Dengan kata lain, Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum penting dalam menjaga stabilitas dan dinamika ekonomi di tingkat lokal maupun nasional. Oleh karena itu, penggunaan THR secara bijak, terutama untuk membeli produk lokal, dapat membantu memperkuat dampak positifnya terhadap perekonomian daerah dan menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Dan akhirnya, mari kita mudik ke kota/kampung halaman, membelanjakan THR kita, memborong dagangan sanak saudara dan tetangga kita serta UMKM lokal di sekitar kita. Dan jangan lupa untuk berbagi tunaikan zakat/infak atas rezeki Tunjangan Hari Raya 2026. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.
Disclaimer: tulisan ini merupakan preferensi pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan KPPN Tipe A2 Purworejo
Ditulis oleh: Nur Inna Farida (PTPN Penyelia pada KPPN Purworejo)
Referensi :
- https://nasional.kontan.co.id/news/thr-dorong-konsumsi-ekonomi-kuartal-i-2026-diproyeksi-tumbuh-55-6
- https://www.kompasiana.com/bass848843/69b0c804c925c47a364411b3/dampak-stimulus-tunjangan-hari-raya-terhadap-perekonomian-daerah-melalui-peningkatan-konsumsi-rumah-tangga-dan-perputaran-ekonomi-lokal?page=3&page_images=1
- https://harian.fajar.co.id/2026/03/15/thr-dan-pergerakan-ekonomi-daerah-lonjakan-konsumsi-dan-tantangan-pasca-lebaran/2/













