Semarang, 11 Februari 2021
djpb.kemenkeu.go.id/kanwil/jateng/id - Pada hari Kamis, 11 Pebruari 2021 telah diselenggarakan Focus Group Discussion Perkembangan Ekonomi Jawa Tengah melalui media daring zoom mulai pukul 08.30 sampai dengan 12.00 WIB.
Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut diantaranya 1) Bapak Didik Nursetyohadi, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, BPS Provinsi Jawa Tengah, 2) Bapak Yusmanto, SPi, M.Si. yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Perekonomian Bappeda Provinsi Jawa Tengah, 3) Bapak Berry Arifsyah Harahap, Koordinator Kelompok Perumusan Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) Provinsi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah.

Acara ini dibuka oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah, yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Edi Prayitno, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran I.
“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran para Narasumber dan peserta. FGD ini digagas dalam rangka pengayaan data, informasi dan analisis untuk penyusunan laporan Kajian Fiskal Regional (KFR) Jawa Tengah Tahun 2020,” kata Edi Prayitno.
Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk melihat sejauh mana efektifitas kebijakan fiskal, serta untuk mereviu implementasi kebijakan fiskal dan keterkaitannya dengan perkembangan makro ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah, Kanwil Ditjen Perbendaharaan mendapat amanat untuk menyusun KFR. Penyusunan KFR merupakan aktivitas telaah makro pelaksanaan anggaran berdasarkan amanat PMK Nomor 195/PMK.05/2018 tentang Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Belanja Kementerian Negara/Lembaga. Dalam penyusunannya, KFR diarahkan pada analisa fiskal dan makro ekonomi yang dapat digunakan dalam merumuskan fokus dan tujuan kebijakan fiskal pada satu wilayah di masa mendatang. Diharapkan informasi yang tertuang dalam KFR diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan seperti penyusun kebijakan, pelaksana kebijakan, masyarakat serta investor.
Setelah dibuka secara resmi acara FGD dipandu oleh Moderator Bapak Sigid Mulyadi, Plt. Kepala Bidang PPA II. Paparan materi pertama disampaikan oleh Bapak Didik Nursetyohadi, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, BPS Provinsi Jawa Tengah. Beliau menyampaikan bahwa kinerja perekonomian Jawa Tengah dalam 10 tahun terakhir tumbuh rata-rata di atas 5 persen. Namun dengan adannya pandemic covid-19 ini menyebabkan perekonomian Jateng pada tahun 2020 mengalami kontraksi hingga -2,65 persen. Hampir seluruh sector usaha terkontraksi pertumbuhannya, hanya beberapa sector yang mampu tumbuh positif, diantaranya sektor pertanian, sektor infokom. Pada tahun 2020, kegiatan ekonomi Jawa Tengah masih bertumpu pada Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) dan Konsumsi Pemerintah (PKP) serta Investasi (PMBT), dan sepanjang tahun 2020 ketiga komponen tersebut mengalami kontraksi rata-rata sebesar -2,05 persen.
Narasumber kedua Bapak Yusmanto, SPi, M.Si. yang menyampaikan materi tentang sasaran pembangunan dan tantangan daerah Jawa Tengah serta analisis pelaksanaan APBD se-Jawa Tengah. Beliau menyampaikan bahwa seluruh lapangan usaha di Jawa Tengah selama tahun 2020 mengalami penurunan kinerja, hal ini terjadi karena adanya pembatasan aktivitas selama pandemic covid-19. Inflasi juga cukup rendah yaitu sebesar 1,56 persen, namun inflasi rendah ini harus tetap diwaspadai agar tidak merugikan perekonomian. Realisasi investasi di Jawa Tengah juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode 3 tahun sebelumnya. Indeks gini, tingkat kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan sedikit merangkak naik. Demikian pula dengan tingkat pengangguran, mengalami peningkatan yang cukup tinggi akibat terdampak pandemic covid-19 ini. Indeks Pembangunan manusia mengalami peningkatan hingga mencapai angka 71,87 pada tahun 2020.
Beberapa tantangan Pemerintah Daerah yang harus dihadapi setelah adanya Covid-19 diantaranya beberapa sector lapangan usaha sebagai motor penggerak perekonomian masih terkontraksi, masih lemahnya daya beli dan permintaan masyarakat, industry pengolahan yang pertumbuhannya negative, peningkatan angka kemiskinan dan peningkatan angka pengangguran terbuka. Menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah menetapkan beberapa strategi kebijakan sebagai berikut; 1) mengendalikan laju penyebaran covid-19, 2) pembukaan sector produktif dan aman serta sector strategis, 3) percepatan realisasi APBN dan APBD, 4) memacu produktivitas 17 sektor usaha yang mampu mendorong ekspor dan menyerap tenaga kerja, 5) Mendorong akselerasi kredit pada sector yang strategis, 6) membangun kemitraan yang strategis, 7) digitalisasi ekonomi dan keuangan, 8) mempercepat pembiayaan alternatif untuk proyek-proyek strategis, 9) mempercepat pembangunan Kawasan industry, 10) mendorong implementasi proyek/sector usaha yang padat karya, 11) mendorong pemanfaatan hutan dan lahan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, 12) optimalisasi opersional SISLOGDA dengan mendorong BUMD, BUMP Koperasi dan kelompok usaha lainnya.

Narasumber terakhir, yaitu Bapak Berry Arifsyah Harahap, Koordinator Kelompok Perumusan Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) Provinsi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah. Beliau menyampaikan materi tentang keunggulan, potensi ekonomi serta tantangan fiscal di Jawa Tengah. Beliau menerangkan bahwa perekonomian local di Jawa Tengah tidak hanya dipengaruhi oleh perekonomian nasional, namun juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global. Beberapa potensi yang dimiliki oleh Jawa Tengah dalam menghadapi tahun 2021 ini diantaranya Jawa Tengah menjadi sasaran pembangunan dan Kawasan industry nasional, produksi Jawa Tengah dapat memasok kebutuhan manusia baik domestic maupun global, Destinasi wisata super prioritas Candi Borobudur dikelilingi oleh destinasi wisata dan budaya lainnya. Sedangkan tantangan ekonomi Jawa Tengah tahun 2021 dan 2022 diantaranya; 1) masih tingginya peningkatan kasus penyebaran covid-19 yang menjadikan stigma negative bagi daerah Jawa Tengah, yang mana pada akhirnya mempengaruhi konsumsi rumah tangga yang dominan dalam perekonomian di Jawa Tengah. 2) Cuaca ekstrim yang masih menjadi kendala bagi sector pertanian untuk dapat berproduksi secara optimal. 3) masih adanya ketergantungan impor bahan baku, serta permintaan buyer industry dengan standar kualitas yang tinggi mulai dari hulu hingga ke hilir proses produksi.
Ketiga narasumber sepakat bahwa diperlukan sinergi antara berbagai pihak dalam situasi kurang menguntungkan seperti saat ini, walaupun perekonomian di Jawa Tengah mulai menunjukkan perbaikan di kuartal 3 dan 4 tahun 2020, namun harus tetap waspada dan jangan sampai lengah, karena situasi perekonomian belum stabil.




