Mengawal Visi Gerbang Baru Nusantara: APBN dan Swasta Rajut Konektivitas Jawa Timur

Penulis: Aprilian | Kanwil DJPb Jawa Timur
Visi "Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara" bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah cetak biru strategis yang dihidupkan melalui urat nadi konektivitas. Dengan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang semakin nyata, peran Jawa Timur sebagai poros logistik dan perdagangan nasional menjadi tak terelakkan. Di sinilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpadu dengan investasi swasta, menjadi motor penggerak utama dalam merajut infrastruktur yang akan merealisasikan visi besar tersebut.
Hingga Juni 2025, realisasi belanja APBN di Jawa Timur yang mencapai Rp60,09 triliun menjadi bukti komitmen yang tak surut. Namun, ruh dari visi ini terletak pada alokasi spesifik untuk proyek-proyek strategis yang mengubah peta konektivitas secara fundamental.
Di darat, dana APBN mengalir deras untuk proyek monumental seperti pembangunan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi. Proyek ini krusial untuk membuka "isolasi" wilayah tapal kuda, menghubungkan ujung Jawa dengan jaringan tol Trans-Jawa, dan memperlancar akses ke Bali. Di saat yang sama, pembangunan jalur ganda kereta api lintas selatan terus dikebut, menjanjikan peningkatan kapasitas angkutan barang dan penumpang secara signifikan, menekan biaya logistik, dan mengurangi beban jalan raya.
Di laut, APBN memompa kehidupan pada Pelabuhan Tanjung Perak, memastikannya bertransformasi menjadi hub maritim internasional yang efisien. Perannya vital, mengingat pelabuhan ini telah menjadi gerbang utama bagi hampir 80% logistik untuk 19 provinsi di Indonesia Timur. Pengembangan ini adalah respons langsung untuk mendukung visi hilirisasi industri dan memperkuat peran Jawa Timur sebagai orkestrator ekonomi.
Namun, orkestrasi pembangunan ini tidak hanya mengandalkan APBN. Sinergi dengan sektor swasta melahirkan sebuah model pembiayaan hibrida yang efektif. Contoh paling gamblang adalah beroperasinya Bandara Dhoho di Kediri. Dibangun sepenuhnya oleh swasta (PT. Gudang Garam Tbk) tanpa dana APBN, bandara ini menjadi sebuah paradigma baru. Kehadirannya tidak hanya membuka konektivitas udara di bagian selatan dan barat Jawa Timur, tetapi juga membuktikan kemampuan Pemerintah Provinsi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk proyek strategis. Model ini melengkap peran APBN yang fokus pada peningkatan Bandara Abdulrachman Saleh di Malang untuk menopang pariwisata.
Kombinasi antara kekuatan fiskal APBN pada proyek-proyek tulang punggung dan kelincahan investasi swasta pada simpul-simpul baru konektivitas inilah yang menjadi kunci. Keberhasilan "Gerbang Baru Nusantara" tidak hanya akan diukur dari megahnya infrastruktur fisik namun juga akan diukur dari seberapa mulus alur manusia dan barang melintasi jaringan tol, rel, kereta, pelabuhan, dan bandara. Kolaborasi dari berbagai unsur baik pemerintah maupun swasta mampu menguba visi ambisius menjadi realitas yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak kalah penting yakni implementasi misi konektivitas yang terarah pada semester kedua 2025 akan menjadi penentu krusial.




